DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA

DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA
Hasil Pemikiran Dua Lelaki


__ADS_3

"Kita satu nasib. Aku sudah tidak bersama William lagi."


"Loh, kenapa? Bukankah kalian akan menikah?"


"Gagal, semua berantakan karena anak dan mantan istrinya."


Kening Samanta berkerut lalu dia tersenyum. "Sepertinya nasib kita sama. Bagaimana kalau kita bekerja sama mengancurkan mereka semua?"


Wanita bernama Eva itu mengerutkan keningnya, mendengar penawaran dari wanita yang memiliki nasib yang sama yaitu dicampakkan. Eva dan Samanta adalah devinisi wanita yang salah tapi tidak mau mengaku salah. Meski hidup keduanya kini sedang berada di ujung tanduk, dua wanita yang merasa tersakiti itu nyatanya masih saja mencari jalan untuk meluapkan kekecewaannya karena gagal memiliki pria kaya sebagai sandaran hidupnya.


Dua wanita itu jelas saling kenal karena keduanya juga pernah sesekali bertemu dalam acara bisnis dimana Darren dan William sering menghadirinya. Apa lagi sejak para lelaki itu bercerai dari istri istri mereka, Samanta dan Eva menjadi semakin sering mendapat kesempatan menemani pria incarannya masing masing diberbagai kegiatan.


"Kerja sama apa yang kamu tawarkan?" tanya Eva. Sontak saja wanita bernama Samanta tersenyum penuh arti dan langsung menjelaskan apa yang Samanta inginkan.


Kening Eva berkerut sedikit. Dia nampak berpikir sembari memandang lawan bicaranya. Lalu tak lama kemudian senyum Eva terkembang. "Oke, aku setuju. Kalaupun kita tidak bisa memilki Darren dan William, maka kita harus bisa menghancurkan hidup mereka."


"Sip! Itu tujuanku mengajak nona Eva kerja sama," timpal Samanta senang.

__ADS_1


"Baiklah, untuk merayakan kerja sama kita, bagaimana kalau kita pesta. Aku sudah pesan laki laki, apa kamu mau juga?"


"Penawaran yang bagus. Oke! Mari kita pesta."


Kedua wanita itupun tertawa penuh rasa kemenangan karena sangat yakin kalau rencana mereka akan berjalan dengan sangat lancar.


Dan tanpa terasa, waktu terus bergerak maju dan Kini pagi telah menyapa. Rona bahagia terlihat jelas pada wajah dua orang janda cantik pagi ini. Wajah mereka benar benar berbinar akibat efek yang mereka dapatkan dari kegiatan mereka bersama laki laki idaman mereka saat menjelang tidur tadi malam.


Siapa lagi kalau bukan A moy dan A win. Setelah berdamai dengan laki laki pujaan dan mendapat jatah isi celana dari pria penjaga anaknya, mereka tampak semangat menjalani paginya.


Berbeda dengan apa yang dirasakan para pria yang semalam berhubungan badan dengan mereka. Meskipun mereka senang bisa berhubungan badan dengan wanita cantik tanpa harus mencari, Tito dan Yoyo cukup kecewa dengan kenyataan yang mereka dapatkan kali ini.


"Sekarang kamu sudah yakin kan, Yo? Kalau mereka tidak serius jatuh cinta sama kita?" tanya Tito sembari mengurusi Zoe.


"Yah begitulah," balas Yoyo lemah. "Mungkin memang nasib kita kali ya? Nggak akan ada wanita yang tulus mencintai kita?"


Tito tersenyum masam. "Tapi kita memang harus sadar diri sih. Kita cowok miskin. Apa yang bisa kita berikan untuk wanita sekaya mereka selain isi celana kita. Dan itu akan terus terjadi selama kita masih kerja disini."

__ADS_1


Senyum Yoyo pun ikut terlihat masam juga. "Miris amat nasib kita, To."


"Hahaha ... setidaknya aku tidak sendirian mengalami kejadian mengecewakan seperti ini. Ada temannya."


"Hahaha sialan!"


Meski kecewa dengan apa yang terjadi pada hidupnya, Tito dan Yoyo memilih untuk tetap merasa bahagia meski kadang rasa bahagia itu terjadi karena terpaksa. Seperti yang terjadi pagi ini, mereka harus terpaksa tetap bahagia dengan cinta majikan yang palsu menurut mereka.


Sementara itu para majikan dua pemuda itu, tampak sedang melakukan rapat dadakan di ruang yang biasa dijadikan tempat rapat untuk mereka saat masih berada di rumah.


"Jadi siapa yang bakalan berangkat menangani acaranya Bapak Menteri? Ini peluang bagus loh untuk kemajuan usaha kita?" ucap A moy.


Sedari tadi mereka memang sedang berdebat untuk menangani acara orang penting yang memang menggunakan jasa meraka. Karena tempat berlangsung acaranya cukup jauh makanya mereka belum ada kesepakatan untuk memilih siapa yang akan berangkat ke lokasi acara.


"Bagaimana kalau A shang dan A zia saja?" usul A win. "Bukankah kalian sudah sering menangani acara di tempat yang cukup jauh?"


A shang dan A zia sejenak saling pandang, lalu menatap ke arah A win. "Aku sih mau aja, tapi untuk kali ini bagaimana kalau aku ngajak Yoyo untuk menemaniku?"

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2