
"Sekarang lebih enak mana? Menyentuh langsung apa sembunyi sembunyi?"
"Menyentuh langsung, Miss."
"Nah, tuh tahu! Lebih aman, lebih enak, bisa masukin batang kamu, dapat banyak. Kenapa malah sukanya ngelecehin sih?"
"Hehehe ..." Tito tertawa kecil. "Kan nggak tahu Miss. Aku takut dikira lancang sama majikan."
A zia yang sedang rebahan menghadap Tito nampak manggut manggut. "Yah, aku maklum sih, To. Mungkin saat itu kamu sangat tergoda pada tubuh kami, hingga kamu berani bertindak diluar batas seperti itu."
Tito yang berbaring menatap langit langit, sejenak menoleh ke arah wanita di sebelahnya sembari melempar senyum. Jari lentik wanita itu sedang mengusap lembut dada bidang Tito hingga pemuda itu merasa nyaman dan keenakan.
Pikiran Tito kini berkelana. Sudah tiga majikan yang Tito nikmati tubuhnya, masih ada tiga lagi majikan yang lain. Dalam pemikiran Tito terlintas, Apa mungkin tiga majikannya yang lain itu akan menyerahkan tubuhnya juga? Jika itu terjadi, lalu bagaimana dengan Yoyo?
Dalam benak Tito juga ada bagian yang sedang dilema. Apakah A zia juga menyukainya? Karena dengan mudah dan suka rela, malam ini A zia menyerahkan tubuhnya untuk dinikmati Tito. Jika benar A zia juga suka sama Tito, lalu apa yang harus dia lakukan? Jalan dengan ketiganya secara sembunyi sembunyi atau bagaimana?
__ADS_1
Tito memiringkan badannya menghadap A zia. "Miss."
Mau tidak mau, A zia berhenti mengusap dada Tito dan kini wajah mereka berhadap hadapan. "Hum? Apa?"
"Aku boleh tanya?"
"Tidak boleh," tegas A zia.
Seketika wajah Tito menunjukkan rasa terkejutnya dan sejenak kemudian dia langsung sedikit murung dan agak cemberut. Tentu saja reaksi Tito membuat A zia merasa gemas. Dia lalu mengusap pipi Tito dengan lembuat.
"Gini ... kan yang melakukan perbuatan tidak baik pada Miss A zia bukan hanya aku saja, ada Yoyo juga. Apa Miss juga akan mengajak Yoyo berhubungan badan?" akhirnya salah satu beban yang ada dipikiran Tito berhasil diungkapkan ke dalam sebuah pertanyaan.
A zia lantas tersenyum. Salah satu tangannya memudian merambat menyusuri tubuh Tito dan berhenti di bawah perut pemuda itu. Tangannya mengusap dengan lembut batang Tito yang sedang terkulai lemas.
"Jujur sih, kamu dengan Yoyo itu sama sama tampan dan juga pria yang baik. Kelemahan kalian cuma satu, kalian tidak punya uang. Tapi aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Sebagai wanita, aku memang tertarik dengan Yoyo. Tapi entah kenapa, aku malah sering merasa tergoda oleh kamu. Memangnya kenapa? Kamu bisa tanya seperti itu?" ucap A zia.
__ADS_1
"Ya kan aku dengar dari orang orang, wanita itu mau menyerahkan tubuhnya hanya pada laki laki yang wanita itu sukai. Karena wanita itu memang ada rasa sama dia. Sekarang ini Miss A zia menyerahkan tubuhnya padaku, itu karena Miss suka sama aku atau karena faktor lain? Kalau karena faktor lain kan, aku takut nanti Miss berhubungan badan dengan Yoyo juga," terang Tito kembali mengungkapkan beban pikirannya.
Setelah mencerna ucapan Tito, a Zia kembali menunjukkan senyum manisnya. "Kalau untuk saat ini, aku baru sebatas suka sama kamu, To. Itu jujur loh ya?Tapi kalau soal cinta, biarlah waktu yang menentukan, To. Untuk saat ini, aku hanya sebatas suka sama kamu."
Deg!
Sontak saja kening pemuda itu berkerut. Ucapan A zia barusan kembali menjadi beban pikiran Tito. "Emang bedanya cinta dengan suka apaan sih, Miss? Kok Miss A zia bisa bilang begitu? Baru sebatas suka?"
"Ya emang benar. Aku tuh baru sebatas suka sama kamu. Belum ada cinta. Emang kamu nggak tahu bedanya suka dan cinta itu apa?" Tito menggeleng dan hal itu cukup mengejutkan bagi A zia. Tapi wanita itu memakluminya karena dia tahu, Tito mungkin pernah jatuh cinta tapi belum pernah berhubungan langsung atau pacaran.
"Kalau suka itu belum tentu cinta, To. Tapi kalau cinta sudah pasti ada suka. Sederhananya gini. Kamu menyukai Yoyo, belum tentu kamu memikirkan dia, merindukan dia dan senang jika melihatnya. Tapi jika Kamu mencintai Yoyo, pasti kamu akan merasa rindu sama dia jika tidak melihatnya, bahagia jika sedang bersamanya dan ingin selalu terus melihat dia. Itulah bedanya suka sama cinta, To?"
Sontak saja Tito tertegun. Pikiran dan hatinya riba tiba berkecamuk setelah mendengar dan mendengar dan mencerna ucapan A zia. Dalam benak Tito begumam. "Jadi tiga wanita yang sudah bercinta dengannya, itu bukan karena cinta? Lalu karena ..." hati Tito tiba tiba langsung merasa sakit.
...@@@@@...
__ADS_1