DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA

DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA
Nasehat Dua Bibi


__ADS_3

Cinta itu kadang suka membingungkan. Bahkan definisi cinta yang sebenarnya seperti apa, banyak yang tidak tahu. Ada yang bilang cinta tidak harus memilki. Ada yang bilang Cinta itu harus saling menerima kekurangan masing masing. Ada juga yang mengatakan cinta itu itu harus banyak berkorban. Itu hanya sebagian kecil dari pendapat seseorang tentang arti cinta. Masih banyak lagi definisi cinta dari berbagai sudut pandang.


Namun entah apa arti cinta dari dua pemuda yang saat ini terperangkap dalam asmara yang tidak biasa. Kisah mereka sungguh unik dan mungkin di dunia ini hanya mereka berdua yang mengalaminya. Mereka bukan seorang playboy. Bahkan mereka tidak pernah menyatakan cinta pada satu wanitapun sepanjang usia mereka yang mau menginjak usia dua puluh lima tahun.


Takdir memang misteri. Di saat dua pemuda hidupnya hampa tanpa cinta selama bertahun tahun, kini mereka justru dihujani banyak cinta dari wanita cantik yang ada disekeliling mereka. Cinta yang membuat mereka bahagia sekaligus dilema.


Di sana, di dalam kamar mereka, dua pemuda itu nampak sedang berbincang ringan, berbagi masalah hati, tentang cinta yang hadir untuk mereka. Namun pembicaraan mereka terhenti saat pintu kamar mereka ada yang membukanya. Dua pemuda itu menoleh ke arah pintu dan melihat Bibi Sri dan Bibi Nur datang dengan membawa makanan.


"Kalian sebaiknya makan dulu, terus minum obat dan istirahat," ucap Bibi Nur sembari menaruh nampan di atas meja yang ada di sebelah ranjang Tito dan Yoyo. Nampan itu berisi makanan khas negara mereka.


"Wuih bubur ayam!" seru Yoyo begitu melihat makanan yang di bawa wanita itu. "Duh jadi kangen kampung aku."


"Ya tinggal telfon rumah aja, kayak nggak biasanya," celetuk Bibi Sri yang turut senang melihat dua pemuda itu langsung menikmati makanan yang dia bawa.


"Udah sering kalau telfon, Bi," balas Yoyo. "Maksudnya aku kangen sama makanan kampung."


"Hahaha ... sama," Tito menimpali. "Oh iya, Bi, anak anak lagi pada ngapain? Kok nggak rewel?"

__ADS_1


"Tidur mungkin," jawab Bibi Nur yang duduk di ranjang Tito. "Tadi sih mereka sempat rewel karena kalian berada disini."


"Hmm ... Nggak tega sih sebenarnya aku ninggalin anak anak sendiri. Nanti bangun tidur pasti pada rewel," balas Tito.


"Yang rewel anak anak apa Ibunya?" celetuk Bibi Sri lagi. "Kayak kita nggak tahu aja. Pasti kalian ada hubungan kan sama majikan kita?"


Deg!


Yiyo dan Tito terkesiap. Karena terlalu terkejut, tangan mereka sampai berhenti saat hendak melahap bubur ayam itu. "Maksud Bibi Sri apa?" tanya Yoyo pura pura bingung.


"Betul!" Bibi Nur menimpali. "Dulu saat Pak Li atau Pak Yoko sakit, para majikan hanya menyuruh mereka banyak istirahat. Tapi sama kalian, mereka mau membuat makanan dan yang lainnya. Bahkan kalian sampai tidur di kamar majikan."


"Itu perasaan Bibi aja kali," celetuk Tito sembari menaruh mangkok bekas bubur di atas nampan.


"Ya karena Bibi wanita, jadi Bibi bisa merasakan kalau para majikan memang ada hati sama kalian," balas Bibi Nur.


"Nah, apa lagi mereka janda yang kesepian dan kalian selalu ada buat mereka," sambung Bibi Sri. "Pasti mereka butuh cinta dan sentuhan dari pemuda kayak kalian."

__ADS_1


Tito dan Yoyo langsung saling pandang. Mereka benar benar terkejut dengan dua wanita itu. Mereka pikir Bibi Nur dan Bibi Sri selama ini cuek, tapi ternyata kedua Bibi itu memperhatikan gerak gerik mereka juga.


"Bibi sih nggak ngelarang, kalian mau berbuat seperti apa. Itu kan hak kalian. Tapi Bibi cuma ngasih saran, kalian jangan terlalu jauh melangkah. Kalian masih memiliki orang tua lengkap kan?" Dua pemuda itu mengangguk. "Mereka pasti percaya dan selalu berdoa kalau kalian disini bekerja dengan baik. Tapi kalau mereka tahu kenyataan yang sebenarnya gimana? Berusahalah jangan mengecewakan orang tua kalian."


Yoyo dan Tito hanya bisa diam. Ucapan Bibi Nur benar, mereka sudah melangkah terlampau jauh. Mereka yakin orang tua mereka pasti bakalan kecewa jika mereka disini malah jadi pemuda yang rusak.


Di saat hati Yoyo dan Tito gundah gulana, di saat itu pula A moy masuk ke dalam kamar mereka.


"Loh, kalian disini?" tanya A moy kepada dua Bibi.


"Iya Miss, habis ngasih bubur sama Tito dan Yoyo. Miss ada perlu?" tanya Bibi Nur.


"Iya, tolong kalian bereskan dua kamar di sebelah ruang kerja ya? Sekalian nanti Tito dan Yoyo pindah ke kamar itu."


Deg!


...@@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2