DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA

DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA
Impian Pemuda Kampung


__ADS_3

"Loh kamu udah di kamar?" tanya seorang pemuda yang nampak terkejut saat melihat sahabatnya baru saja keluar kamar mandi dalam keadaan segar dan handuk yang terlilit dipinggangnya.


"Kamu baru selesai?" bukannya menjawab, teman yang habis mandi itu malah melempar pertanyaan sembari melangkah menuju lemari baju.


Pemuda yang baru masuk ke dalam kamar itu langsung cengengesan sembari duduk di tepi ranjang. "Sebenarnya selesai cukup lama sih tadi, tapi kita ngobrol sebentar tentang perasaan," jawab pemuda itu, dia tahu apa yang dimaksud dari pertanyaan temannya. Pemuda itu merebahkan tubuhnya. "Akhh ... malam ini benar benar malam yang indah ya, Yo."


Pemuda yang habis mandi hanya tersenyum simpul sembari mengenakan pakaian lalu duduk di ranjang setelah semuanya selesai. "Majikan kita benar benar istimewa. Kayaknya cuma kita yang memilki majikan seperti itu."


"Benar,"sahut Tito sembari menatap langit langit kamar. "Udah baik, cantik, dan yang paling penting, mereka rela memberikan tubuh seksinya untuk kita nikmati," Tito lantas kembali duduk. "Apa mereka menahanmu untuk tetap kerja disini?"


Yoyo langsung. "Nggak sih, malah aku tadi sempat cerita tentang tawaran kerja dari Tuan Darren dan Tuan William."


"Gimana tanggapan mereka?"


"Ya mereka sih mendukung, cuma ya mereka juga memberi masukan agar aku berpikir ulang," balas Yoyo sembari menyandarkan tubuhnya di sisi ranjang yang lain yang nempal pada dinding kamar.


"Ya sama kalau gitu. Tapi kalau dipikir pikir enakan kerja di sini sih. Di kantor katanya jam kerjanya panjang. Belum lagi kalau lembur. Kayaknya aku nggak bakalan kuat deh."


"Kalau aku sih mikirnya lebih ke perasaan majikan kita sih. Semarah marahnya mereka, majikan kita itu sayang dan perhatian sama kita. Selain masalah ranjang, mereka itu tulus sama kita. Itu yang bikin aku berat ninggalin rumah ini. Belum lagi anak anak."

__ADS_1


"Nah itu juga faktor penentu. Maka itu, aku nggak rela, melepas salah satu dari mereka. Kalau bisa jalan bertiga, ngapain harus pilih salah satu?"


"Tadi kamu bilang kayak gitu nggak?"


"Hahaha ... ya enggak sih. Ini baru unek unek aku aja. Penginnya sih ngomong kayak gitu. Kalau mau pacaran ya ayo kita pacaran, tapi jalan bareng. Soal urusan ranjang dan waktu kencan, kan kita bisa bagi waktu biar adil, benar, kan?"


"Nah, benar itu! Tadi aja mereka enjoy aja kan main bertiga. Kenapa kita harus memilih gitu? Bukankah bersama saling menikmati itu lebih indah ya?"


"Hahaha ... kayak kamu nggak tahu aja, pemikiran wanita kan lebih rumit. Contohnya tadi A zia dan A ling. Jelas jelas mereka sedang bersaing untuk memperebutkan cintaku, tapi yang terjadi, kita malah bercinta bareng."


"Hahaha ... benar. Tapi asli tadi pengalaman seru banget sih menurutku. Enak banget gitu loh. Di saat aku sedang nyodok lubangnya A mey, eh aku digerarayangi A shang. mantap. coba kalau Miss A win gabung. Lebih seru kayaknya."


"Hahaha ... pasti itu. Nggak nyangka aku loh, bisa praktek main sama dua cewek. Lebih capek sih, tapi rasa puasnya itu loh, nggak main main. Apa lagi mereka cantik banget. Nggak kebayang deh senangnya."


"Hahaha ide bagus tuh, semoga saja kita bisa ada waktu buat nngomongin tentang ini sama mereka."


"Harus itu!"


Obrolan dua pemuda itu pun berakhir saat Tito memutuskan untuk mandi. Hingga waktu berlalu, kedua pemuda itu akhirnya terlelap dalam suasana bahagia dalam hati mereka.

__ADS_1


Dan hari pun kembali berganti. Begitu bangun tidur, Tito dan Yoyo justru sudah disambut oleh celotehan dua bocah di kamar mereka. Kedua pemuda itu terbangun karena Binbin dan Zoe yang rewel membangunkan keduanya.


"Loh, sayang? Kok udah ada disini?" tanya Yoyo dengan suara khas orang bangun tidur. Di meraih ponsel yang ada di meja dekat tempat tidurnya. "Baru jam lima pagi, kok Binbin sudah bangun?"


"Binbin takut Om Yoyo pergi, jadi Binbin ngajak Zoe kesini?"


"Astaga, Sayang, siapa yang mau pergi?" Yoyo menarik tubuh Binbin agar ikut rebahan dan memeluk bocah itu. "Om nggak pergi, Sayang."


"Zoe juga mikir kalau Om Tito akan pergi ya?"


"Iya, Om."


Tito memeluk bocah itu dengan erat. "Om Tito nggak kemana mana, Sayang. Ya udah bentar lagi kita ke kamar Zoe ya?"


"Kata Mommy, hari ini Zoe nggak sekolah, Om."


"Loh? Kenapa?"


"Kata Mommy, Mommy, Zoe dan Om Tito, akan piknik bareng."

__ADS_1


"Apa!"


...@@@@@...


__ADS_2