
"Mendekati kalian?" Ngapain?" tanya A moy agak terkejut mendengarnya.
"Ya mereka minta tolong sama kita, Miss. Mereka ingin dekat dengan anak anak. Gimana, Miss?"
"Dekat dengan anak anak?"
Tito mengangguk. "Ya mereka pasti kangen sama anak anak mereka, Miss. Wajarlah, kan mereka bapaknya."
A moy mengangguk beberapa kali membenarkan ucapan Tito. "Aku sih nggak pernah mempermasalahkan jika Darren pengin ketemu sama Zoe. Cuma, kamu kan tahu sendiri, To. Zoe kalau ketemu sama ayahnya akan bagaimana."
"Iya sih," balas Tito sembari memandang wajah bocah yang masih terlelap. "Tapi tidak mungkin kan Zoe harus terjebak dalam perasaan takut terus, Miss. Mungkin sudah waktunya Zoe harus berlatih melawan rasa takutnya. Kalau terbawa sampe dewasa bagaimana? Takutnya ada dendam nantinya."
A moy terdiam dengan pikiran mencerna ucapan Tito. Apa yang dikatakan pemuda itu memang ada benarnya. Tapi untuk saat Ini A moy belum menemukan cara untuk menyembuhkan trauma anaknya. Meski cara lain sudah dilakukan, bahkan sampai menemui dokter spikolog ternama, Zoe tetap saja tidak ada perubahan jika bertemu dengan ayahnya.
"Terus, apa yang akan kamu lakukan, To?" tanya A moy yang sudah mengerti kemana arah pembicaraan ini.
"Ya paling saya akan mencobanya pelan pelan menghilangkan traumanya. Kali aja berhasil."
A moy sontak tersenyum. "Ya udah terserah kamu enaknya bagaimana. Asal itu untuk kebaikan Zoe ya aku dukung aja, To."
__ADS_1
"Oke!"
A moy bangkit dari kursi di depan meja riasnya, dia melangkah mendekati Tito. Tangannya terulur memegang wajah pemuda itu lalu mencium pipinya. Hati Tito berdesir hangat. Meski agak canggung, Tito selalu merasa senang tiap A moy mencium pipinya dengan mesra.
"Aku keluar dulu mau ketemu sama yang lain, titip Zoe ya?"
"Baik, Miss," jawab Tito agak gugup.
Meskipun akhir pekan, A moy dan yang lain masih harus menangani beberapa pekerjaan yang memanga sudah ada dan butuh penanganan khusus.
Sementara itu di kamar lain, Yoyo masih menunggu jawaban dari si bocah, yang saat ini sedang terdiam setelah mendengar cerita tentang ayahnya. Meski Binbin hanya pria berusia lima tahun, tapi dia juga sudah bisa merasakan rindu. Terutama pada sang Ayah. Tapi rasa rindu itu harus Binbin kubur dalam dalam karena karena rasa takut dan bencinya binbin kepada ayah kandungnya.
"Gimana? Binbin mau ya belajar melawan rasa takut Binbin jika bertemu dengan Daddy," ucap Yoyo lembut.
"Belajarnya bagaimana, Om?" tanya bocah polos itu.
"Ya nanti Om kasih tahu sambil belajar bela diri, gimana?" Binbin lantas mengangguk. "Ya sudah, sekarang Om mau ke kamar mandi dulu, Binbin tunggu disini ya? Nanti setelah dari kamar mandi, kita olahraga sambil belajar bela diri, oke?"
"Oke!"
__ADS_1
Senyum Yoyo langsung terkembang. Dia melepas pelukan tangannya pada tubuh Binbin dan bangkit dari tidurnya lalu turun dari ranjang beranjak menuju kamar mandi.
Hingga beberapa waktu pun berlalu, kini Yoyo dan Binbin sudah sama sama berada di taman belakang rumah mereka. Tak lama setelah mereka berada disana, Tito dan Zoe datang menghampiri. Keduanya langsung ikut bergabung.
"Senang ya? Kalau lihat anak anak ceria gitu?" ucap Bibi Nur yang dari tadi ternyata mengawasi Zoe dan Binbin.
"Iya, Mbak. Kalau anak anak ceria, rumah jadi hangat dan rame," timpal Bibi Sri. "Tapi kasihan sama Tito dan Yoyo jadinya."
"Kasihan? Kasihan kenapa? Kan itu memang tugas mereka?" tanya Bibi Nur dengan kening berkerut karena merasa heran dengan ucapan wanita yang duduk di sebelahnya.
"Ya kasihan saja. Mereka masih muda, tapi harus bisa bersikap layaknya ayah bagi mereka. Meksipun itu bisa jadi ajang berlatih, tapi ya aku ngerasa tugas mereka kayak berat gitu. Mana anak anak sangat lengket banget sama mereka."
Bibi Nur lantas tersenyum. "Yah, itu udah resiko pekerjaan, Sri. Mau tidak mau, mereka tidak ada pilihan lain selain menjalankannya. Kali aja dengan menjaga Binbin dan Zeo, kelak Tito dan Yoyo bisa menjadi laki laki yang sayang sama anak anak mereka."
"Aamiin, semoga saja begitu," balas Bibi Sri.
Bukan hanya Bibi Sri dan Bibi Nur yang mengawasi Tito dan Yoyo, tapi juga enam wanita yang di sebuah ruangan yang menghadap ke arah taman. Para wanita itu memandang Tito dan Yoyo sembari tersenyum dan membayangkan yang indah indah.
"Sepertinya dia cocok jadi suamiku," gumam mereka dalam hati masing masing.
__ADS_1
...@@@@@@...