DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA

DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA
Merawat Bersama


__ADS_3

Setelah Yoyo dan Tito sadar dari pengaruh obat, mereka langsung diperiksa kembali oleh seorang dokter. Begitu pemeriksaan selesai dan kondisi mereka dalam keadaan baik, dua pemuda itu dinyatakan boleh pulang. Berhubung mereka sedang di rumah sakit, Tito dan Yoyo juga meminta mereka melakukan cek kesehatan lainnya yang berhubungan dengan penyakit menular. Beruntung, hasilhya mereka masih bersih. Tito dan Yoyo merasa lega dan akhirnya mereka pulang.


Sesampainya di rumah, semua orang menyambut kepulangan mereka dengan penuh rasa syukur dan khawatir. Untuk kali ini Yoyo dan Tito memilih istirahat di kamarnya. Awalnya A moy dan A win merasa keberatan, tapi mengingat pembicaraan mereka tadi pagi dan juga perasaan empat janda lainnya membuat dua janda itu harus mengalah dengan keadaan.


"Om Tito kenapa nggak tidur di kamar Mommy aja?" tanya Zoe merasa heran.


"Biar Om Tito banyak yang merawatnya, Sayang," jawab A moy berusaha mencari jawaban yang tepat agar sang anak tidak kecewa.


"Benar, Sayang. Mommy yang lain kan pengin merawat Om Yoyo dan Om Tito juga biar mereka bisa sembuh," A zia menimpali dengan wajah yang terlihat lebih ceria. Sama seperti yang lain, A zia juga pengin mengambil hati pria incarannya dengan ikut merawat Tito.


"Ya udah, sekarang kita keluar, biar Om Yoyo dan Om Tito bisa istirahat, yuk," bujuk A win pada anak anak dan yang lainnya. Dengan berat hati, kedua bocah itu keluar dari kamar penjaga mereka. Wajah keduanya terlihat muram. Bahkan mereka jadi pendiam.


"Sepertinya anak anak ngambek, To, karena kita tidak istirahat di kamar Mommy mereka," ucap Yoyo begitu semua orang pergi dan hanya tinggal mereka berdua di dalam kamar.

__ADS_1


"Biarinlah, setidaknya kita juga harus punya rasa egois," balas Tito. "Kasian kan yang lain kalau kita hanya dirawat satu majikan saja. Pasti Miss A shang dan yang lainnya juga ingin merawat kita."


"Benar juga. Duh begini amat ya dicintai tiga cewek sekaligus. Di sini lain ada rasa senang, tapi di sisi lain kita juga harus ikut menjaga perasaan semuanya. Takutnya mereka bertengkar gara gara masalah cinta, malah repot."


"Hahahah ... betul. Kita kayak udah poligami aja yah," Tito menimpali. "Eh tapi, apa kamu sudah menentukan mau pilih siapa,Yo?"


"Itu dia yang berat. Aku belum menentukan siapa yang harus aku pilih," balas Yoyo sembari bangkit dari rebahannya dan memilih duduk menghadap sahabatnya. "Mereka terlalu terharga untuk disakiti, To. Mereka semuanya cewek yang baik. Coba seandaianya ada yang bersikap jahat, pasti aku sudah menentukan siapa yang aku pilih."


"Maksud kamu, kamu akan pilih yang jahat gitu?" tanya Tito yang sekarang sudah terbaring miring menghadap sahabatnya.


"Ah, iya, benar!" seru Tito. "Majikan kita memang semuanya baik pada kita. Tapi mereka semuanya pasti juga nggak mau digantung, kan?"


Yoyo menepuk keningnya sendiri. "Kenapa jatuh cinta malah berat kaya gini sih? Belum lagi kalau kita pilih salah satu, terus dua lubang nikmat majikan yang lain gimana? Mereka nggak akan mungkin kan memberikannya pada kita lagi?"

__ADS_1


"Nahh itu juga penting tuh!" seru Tito sembari bangkit dari berbaringnya. "Apa lagi mereka semua sudah tergila gila sama isi celana kita. Kasian nanti sama majikan yang kita tolak cintanya. Mereka pasti bakalan main sama alat bantu lagi."


Duh, benar benar bikin galau mereka."


Di saat dua pria itu sedang bingung, di saat yang sama pula para janda seperti sedang berlomba mencari perhatian pada pria incaran mereka. Mereka sudah menyusun rencana sebagus mungkin agar pria incaran mereka membuka hati untuk menerima cinta mereka masing masing. Saat ini mereka sedang berkumpul membahas pekerjaan yang tertunda karena musibah yang menimpa Yoyo dan Tito.


"Kak Moy, kenapa kita tidak pisahkan saja kamar tidur Yoyo dan Tito. Biar kita masing masing enak merawat pria pujaan kita," usul A mey. "Kan nggak asyik kalau aku ingin merawat Yoyo, eh disebelahnya ada Tito. Pasti nanti akan terasa canggung gitu."


"Nah iya tuh benar, ide bagus itu!" seru A ling. "Setidaknya kita bisa mempunyai kesempatan lebih. Apa lagi kalau bicara soal perasaan, kita akan lebih leluasa mengungkapkannya."


A moy pun memikirkan usulan sainggan cintanya sejenak. Usulan mereka ada benarnya juga. Di rumah ini juga banyak kamar kosong, apa salahnya di coba.


"Baiklah, nanti aku sampaikan pada mereka."

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2