DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA

DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA
Binbin Bertemu Ayahnya


__ADS_3

"Harusnya semalam kamu tetap tidur di kamar anak anak, To. Biar mereka nggak nyariin pas bangun. Jadi nggak akan rewel kayak gini."


"Hehehe ... ya nggak tahu bakalan jadi begini, Miss."


A mo yang duduk di atas sofa sontak mengulas senyum sembari memandangi Tito yang sedang menimang Zoe. "Kalau kamu tidur di kamar anak anak, selain mencegah agar mereka tidak rewel saat bangun. Kan kamu bisa ngintip lagi ke kamarku, To."


Deg!


Tito sontak tertegun.Sejenak tubuhnya terdiam. Lagi lagi sebuah godaan datang. Tito pun merasa heran, kenapa majikannya malah berkata demikian? Apa majikanya sangat suka jika tubuhnya dilihat laki laki? Tito hanya


mengulas senyum. Yang pasti Tito jadi merasa canggung.


"Aku bawa Zoe ke kamar sebelah, Miss," ucap Tito beberapapa saat kemudian. Tentu saja Tito melakukan hal itu memang sengaja untuk menghindar, agar dia tidak merasa canggung. Berada dalam satu kamar dengan Miss A moy saja canggungnya bukan main, apa lagi disinggung soal mengintip. Makin salah tingkah Tito dibuatnya.


Miss A moy sendiri hanya tersenyum lebar saat melihat Tito langsung pergi. Dia sangat menikmati wajah gugup Tito yang sangat menggemaskan. Menurut A moy, Tito benar benar pria polos. Tidak seperti kebanyakan pria yang pernah A moy kenal.


Tanpa terasa, waktu terus bergerak maju. Kini siang pun mulai menjelang. Seperti yang sudah direncanakan, A win dan Yoyo pergi bersama ke sebuah pusat perbelanjaan. Tentu saja, diantara mereka, ada Binbin yang setia dalam gendongan Yoyo.


Mereka memasuki dari satu toko ke toko lain. Entah apa yang A win cari hingga beberapa toko yang sudah dimasuki, A win terlihat tidak membeli apa apa. A win melirk Yoyo yang mengendong Binbin sedari tadi. Dia jadi merasa tidak enak hati melihat wajah lelah Yoyo.


"Kita istirahat dulu ya? Kita duduk disana," ucap A win sambil menunjuk sebuah caffe. Yoyo hanya mengangguk pasrah dan mereka segera saja melangkah ke sana. "Capek ya, Yo?" tanya A win begitu mereka duduk di salah satu kursi yang ada dipojokan.


"Hehehe ... lumayan, Miss," jawab Yoyo jujur.

__ADS_1


"Maaf ya, abis susah nyari barangnya. Maklum pesenan klien," balas A win tak enak hati.


"Nggak apa apa, Miss. Ini kan pekerjaan aku jagain Binbin. Kalau nggak mau capek ya nggak perlu kerja, kan?" balas Yoyo sambil mengusap kepala bocah yang sekarang duduk dipangkuan Yoyo.


Tak lama pesanan mereka pun datang. Dengan telaten Yoyo menyuapi es krim ke mulut Binbin sembari sesekali dia juga menikmati minuman serta cemilan yang dia pesan. Sebenarnya A win sudah minta agar Binbin makan sendiri, tapi bocah kecil itu dengan tegas menolaknya. Di saat mereka sedang asyik menikmati hidangannya, tiba tiba Binbin bergumam lirih sambil memandang ke arah pintu masuk Caffe.


"Daddy."


A win dan Yoyo sempat terkejut. A win langsung melempar pandangannya ke arah pintu. Benar saja, disana ada ayah Binbin sedang mengedarkan pandangannya mencari tempat duduk bersama seorang wanita. Hingga tanpa sengaja mata mereka bertemu. A win langsung berpaling dan memandang Binbin yang langsung menyembunyikan wajahnya di dada Yoyo.


Di sana, di pintu masuk, Ayah Binbin begitu terkejut melihat mantan istri dan anaknya berada di tempat yang sama. Dia langsung mengurai dengan paksa tangan wanita disebelahnya dan langsung beranjak menuju kursi anaknya.


"William!" pekik wanita itu yang merasa kaget kerena tangannya dihempas dan William pergi begitu saja. "William, tunggu!"


Yoyo yang sudah memamahi keadaan yang ada langsung mengiyakan. Namun sayang William keburu datang menghampiri mereka.


"Binbin," panggil William lirih kepada anaknya. "Ini Daddy, Bin"


Binbin tak menyahut. Anak itu semakin menenggelamkan wajahnya pada dada Yoyo.


"Sudahlah, Will. Dia masih takut sama kamu, kita permisi dulu," ucap A win dengan tenangnya.


Namun wanita yang tadi datang bersama William menghampiri mereka dan langsung ngomel ngomel tidak jelas.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih, Will? Masih mau menemui wanita murah meriah seperti dia?"


"Tutup mulut kamu, Eva. Lebih baik kamu pergi dari sini!" hardik William karena dia sungguh ingin bersama anaknya.


"Apa! Kamu ngusir aku demi wanita yang telah nyakiti kamu? Kamu nggak salah? Ingat, Will, dia ..."


Plak!


Ucapan wanita bernama Eva langsung terhenti saat mendapat sebuah tamparan, dan wanita itu terkejut bukan main saat siapa yang menampar dirinya.


"William! Kamu tega menampar aku demi ..."


Plak!


"William!"


Plak!


"Harusnya hari itu, kamu yang aku pukuli, Eva. Bukan A win!"


Deg!


...@@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2