DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA

DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA
Masa Lalu A ling


__ADS_3

"Miss!"


"Kenapa?"


"Ada cctv nanti ..."


"Di kamarku nggak ada."


"Zoe .. "


"Dia lagi nonton kartun pasti anteng."


"Terus pekerjaanya mana? Biar aku bantu?"


A ling kembali tersenyum dan dia mendekatkan mulutnya ke salah satu telinga. "Pekerjaanya, bantuin aku masukin isi celanamu ke dalam lubangku."


Bisikan Miss A ling langsung membuat wajah Tito menegang dengan perasaan yang tidak karuan. Meskipun sebagai laki laki, ada jiwa yang merasa senang karena mendapat kesempatan nikmat seperti ini. Tapi sisi hati yang lainnya, Tito merasa takut. Dia takut ketagihan dan takut jatuh pada wanita yang sedang merayunya untuk bercinta.

__ADS_1


Setelah berbisik, A ling mengecupi pipi dan beberapa bagiaan wajah Tito hingga darah pria itu berdesir. Sungguh dia tak kuasa menahan godaan dari wanita yang sedang menempelkan bibirnya pada beberapa bagian wajah pria itu. Bibir Tito juga tak luput dari incaran bibir A ling. Malah bibir pemuda itu mendapat bagian yang paling lama.


"Miss, Zoe ..." lagi lagi pemuda teringat bocah kecil yang mereka tinggal di ruang karaoke. "Aku nggak tenang ninggalin Zoe sendirian, karena dia tanggung jawabku," ucap Tito dengan suara berat karena sudah terbungkus hasrat.


"Baiklah, kamu disini saja," A ling mengalah. Setidaknya dia mengerti apa yang menjadi tugas pria yang sedang bersamanya. Tanpa menunggu jawaban dari Tito, A ling langsung beranjak keluar kamarnya menuju ruang karaoke.


Sementara itu, Tito bangkit dan terduduk di tepi ranjang. Pikirannya berkelana dengan segala yang terjadi pada dirinya. Sungguh dia tidak menyangka jika dua wanita cantik menyerahkan tubuh mereka begitu saja pada laki laki yang hanya bekerja sebagai pembantu. Dan Tito masih beranggapan kalau para wanita itu menyukai dia dan ada hati pada pria itu.


Tak butuh waktu lama, A ling kembali ke kamarnya dengan menggendong tubuh Zoe yang sudah terlelap. Melihat itu, Tito langsung bangkit menyusul A ling dan mengambil alih tubuh bocah itu dari tangan majikannya.


"Taruh aja di ranjangku, To!" titah A ling dan Tito menurutinya. "Sekarang sudah tenang kan? Zoe berada di dekat kamu?"


"Seandainya aku punya suami sebaik kamu, mungkin saat ini aku sudah memiliki anak yang menggemaskan seperti Zoe dan Binbin," ucap A ling tiba tiba membuat Tito sedikit tertegun. Suara A ling juga terdengar sangat sedih hingga membuat Tito penasaran, apa yang yang terjadi pada kehidupan wanita yang sedang memeluknya itu.


"Emang dulu manntan suami Miss A ling seperti apa? Dia juga pasti pria yang baik bukan?" Tito mencoba memberanikan diri melempar pertanyaan karena rasa penasarannya.


"Yah, dia memang pria yang baik. Karena terlalu baik, dia tidak ingin aku mengandung anaknya."

__ADS_1


"Loh? Kok bisa gitu?" Tito semakin dibuat penasaran.


Sebelum menjawab, A ling melepas pelukannya dan menarik tangan Tito menuju ke arah Sofa yang ada di kamar itu. Tito heran, kenapa setiap kamar di rumah ini selalu ada sofa yang besar? Bukannya sofa harusnya di taruh di ruang tamu? Benak Tito bertanya tanya.


A ling mendudukan tubuh Tito di atas sofa lalu dia melepas rok yang dia pakai dan duduk dipangkuan Tito dan menghadap pada pemuda itu. Dada Tito semakin bergemuruh karena kini wanita itu hanya memakai segitiga bermuda di bawah perutnya.


"Awalnya aku nggak tahu, To. Kenapa suamiku nggak menginginkan seorang anak dari aku," ucap A ling. Tangannya meraih tangan Tito dan mengarahkannya untuk membuka kancing baju A ling satu persatu. "Padahal usia pernikahan kita sudah menginjak angka enam bulan."


Terus?" tanya Tito dengan tangan bergerak melepas kancing baju A ling. Setelah kancing baju terlepas, Tito melepas pakaian itu dan melemparkannya ke sembarang arah. Kini terpampanglah dua bukit kembar yang indah dan hanya tertutup pucuknya saja.


"Awalnya aku menerima karena alasan ekonomi kita yang belum mapan, tapi lama kelamaan aku jengah, aku juga ingin memiliki anak, aku protes sama dia," A ling meneruskan ceritanya sambil menikmati permainan Tito yang memijat bukit kembarnya pelan pelan.


"Lalu?" hanya itu yang mampu Tito tanyakan. dia sudah tidak fokus dengan cerita dari A ling karena fokusnya terbagi dengan bukit kembar wanita itu.


"Setelah aku selidiki, ternyata dia ingin aku hamil saat dia berhasil menikahi pacar lelakinya dan merebut anakku."


"Apa!"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2