
"Mom."
"Iya, Sayang?"
"Nanti kita tidur bertiga ya? Mommy, Zoe dan Om Tito."
Deg!
Seketika wajah Tito langsung menunjukkan wajah terkejutnya. Sejenak dia melirik wanita yang sekarang duduk disamping kirinya dengan perasaan yang sangat canggung. Berharap wanita itu menolak keinginan anak lelakinya yang sekarang duduk disebelah kanan Tito.
A moy hanya tersenyum melihat reaksi yang ditunjukkan pemuda di sisinya. Di saat Zoe sedang lengah karena asyik makan jajan, A moy mengecup pipi pemuda itu sejenak. Bukannya makin tenang, kecupan singkat itu justru membuat Tito semakin merasa gelisah.
"Tanya aja sama Om Tito, mau nggak tidur bertiga?" mendengar ucapan A moy, Tito semakin merasa terpojok. Dia memandang A moy dengan tatapan yang seakan mengatakan, kenapa malah bertanya seperti itu? Sedangkan A moy, meski mengerti dengan tatapan penolakan Tito, dia hanya tersenyum penuh kemenangan.
Mendengar pertanyaan dari sang Mommy, Zoe seketika mendongak guna memastikan jawaban penjaganya. "Mau kan, Om? Tidur bareng Mommy?" tanya bocah itu penuh harap.
"Kan ada Binbin? Zoe nggak kangan sama Binbin?" Tito mencoba menolaknya secara halus. Sebenarnya bukannya Tito tidak mau tidur bareng, cuma dia mencoba tahu diri batasannya sebagai pembantu. Apa lagi Tito tahu Binbin sudah pulang. Ada Binbin berarti ada Yoyo. Tito merasa tidak enak nantinya.
"Kan Binbin ada Om Yoyo? Kangen sama Binbinnya besok saja. Nanti sama Mommy dan Om Tito dulu," jawaban aneh dari seorang bocah membuat Tito semakin terpojok. Tito berusaha memutar otak kembali untuk menolaknya, tapi sepertinya dia tidak akan bisa lepas dari permintaan anak itu. Apa lagi Zoe sekarang memandangnya dengan penuh harap.
__ADS_1
"Baiklah," akhirnya kata pasrah itu meluncur dari mulut Tito dan langsung disambut wajah senang oleh bocah yang kini duduk dipangkuannya.
"Tuh, Om Tito sudah mau tidur bareng Zoe, sekarang biarkan Om Tito mandi dulu, Sayang," ucap A moy.
"Oke!" anak itu langsung duduk kembali di atas sofa.
Tito berdiri dengan perasaan gundah. Saat Tito melangkah menuju kamar mandi, A moy berkata kalau Tito boleh memakai sabun mandi miliknya. Tito hanya mengangguk dan langsung menuju kamar mandi. A moy segera keluar kamar untuk ngambilin baju ganti Tito di kamarnya.
"Tito udah balik, Miss?" tanya Yoyo sembari menyerahkan satu pakaian sahabatnya lengkap dengan celana dan segitiga bermudanya.
"Udah, dia lagi mandi bareng Zoe," balas A moy sedikit berbohong. Yoyo hanya manggut manggut dan Miss A moy segera saja pergi menuju kamarnya kembali.
"Jadi, kamu sama Miss A win juga sudah berhubungan badan?" tanya Tito sedikit terkejut.
"Ya gimana lagi, To. Aku cuma curhat soal video tentang kita, eh dia malah dengan suka rela menyuruh aku menyentuhnya. Ya sebagai cowok normal, aku nggak kuasa nolak kan? Apa lagi Miss A win cantik, putih, seksi dan mulus. Kayak nggak ada kekurangannya."
"Terus, kamu sama Miss A mey gimana, Yo? Wahh! bisa terjadi perang kalau kayak gini."
"Itu dia masalahnya, To. Miss A win terang terangan bilang suka sama aku, terus tadi sore, Miss A mey ngajak aku ke kamarnya. Dia bilang kalau dia kangen banget sama aku. Otomatis aku jadi galau kan?"
__ADS_1
"Hahaha ... nasib kita kenapa jadi sama begini ya?"
Kening Yoyo sontak berkerut menatap sahabatnya yang sedang bersandar di sofa sama seperti dirinya. "Sama gimana maksudnya, To?"
"Ya sama, kita dihadapkan pada dua cewek yang sama sama suka pada kita."
Kening Yoyo semakin berkerut. "Dua cewek? Kamu juga terlibat dengan dua majikan kita, To?" Tito sontak mengangguk. "Astaga! Satunya siapa?"
"Miss A ling. Tadi dia bilang, kalau dia suka sama aku."
"Sejak kapan kamu dekat sama Miss A ling? Atau kamu juga sudah berhubungan badan dengan dia?"
"Ya udah pasti lah, Yo. Padahal awalnya aku cuma minta maaf soal video pelecehan kita, eh malah dia ngajakin bercinta."
"Astaga! Hahaha ... kok jalan hidup kita lucu gini ya, To? Di kampung nggak laku, eh disini malah jadi idaman cewek cantik."
Benar, dan aku jadi mikir, gimana dengan Miss A shang dan Miss A zia?"
"Nahh! Sama."
__ADS_1
...@@@@@...