
"Kalian lagi nggak pacaran sama salah satu dari majikan kalian, kan?"
"Ya nggak mungkinlah, Ren," celetuk William disaat Tito dan Yoyo bingung mau jawab pertanyaan Darren. "Kan tadi kamu dengar sendiri kalau A moy dan A win tidak menyukai mereka. Apa lagi yang lain."
Tito dan Yoyo terperangah mendengar ucapan William, lalu mereka saling pandang sejenak dengan segenap rasa kecewa yang langsung menyerang mereka. Berbagai macam pikiran dan pertanyaan, langsung menyeruak dalam benak dua pemuda itu.
"Mereka tidak menyukai kita, Tuan? Maksudnya bagaimana?" tanya Tito mencoba memastikan ucapan ayah dari bocah yang masih asyik bermain wahana mandi bola di hadapan empat orang itu.
"Maksudnya menyukai dalam arti khusus. Jatuh cinta, kalian pasti tahu, kan?" jawab William.
Tito langsung tersenyum kecut dan melirik sahabatnya sejenak. "Hehehe ... mana mungkin, Tuan. Kita kan hanya pembantu," jawab Tito dengan tenang. Padahal hatinya sedang bergemuruh hebat saat ini.
"Emang tadi Miss A win ngomong gitu ya, Tuan?" tanya Yoyo. Pemuda itu benar benar ingin memastikan kabar yang baru saja dia dengar.
"Mereka sih nggak bilang secara langsung kalau mereka tidak menyukai kalian dalam arti khusus selain kalian adalah penjaga Binbin dan Zoe. Tapi dari jawaban yang mereka berikan, aku pahamlah kalau mereka tidak ada perasaan khusus sama kalian," jawab William dengan sangat lancar tanpa dia sadari ada hati yang sedang retak saat mendengar jawaban dari mulutnya.
Karena terlalu kecewa, Yoyo bahkan sampai mengepal kedua tangannya dengan sangat kencang di bawah meja. Bukan hanya Yoyo, rasa kecewa juga sedang dirasakan oleh Tito saat ini. Keduanya benar benar merasa dibohongi oleh majikan mereka.
"Apa Miss A moy atau A win hendak rujuk sama Tuan Tuan?" tanya Yoyo. Di saat perasaannya sedang tidak baik saja, dia mencoba mencari info lagi tentang perasaan majikannya.
"Sepertinya sih susah kalau kita rujuk," jawab Darren dengan menatap lekat ke arah anaknya. "Kesalahan aku pada A moy terlalu besar."
__ADS_1
"Kenapa nggak dicoba dulu?" tanya Yoyo lagi.
Darren tersenyum getir. "Gampang soal itu. Bagi aku, yang penting aku dekat dengan Zoe dulu. Urusan yang lain biar waktu yang menentukan."
Di saat keempat pria dewasa itu masih larut dalam percakapan, dua bocah yang sedari tadi asyik bermain, mendekat ke tempat mereka. Mungkin karena terlalu lelah, anak anak merengek minta pulang. Sebenarnya Darren dan William masih ingin menghabiskan waktu bersama anak mereka, Tapi apa daya, mereka tidak ingin ada masalah ke depannya. Kedua duda itu harus merelakan anak mereka pulang.
"Aku nggak nyangka kalau majikan kita ternyata pandai berbohong," ucap Tito dengan wajah yang terlihat kesal. Matanya tajam menatap ke arah depan sembari memegang kendali mobil. Sedangkan dua anak yang duduk di belakang, malah sudah terlelap sejak beberapa menit yang lalu begitu mereka keluar dari sebuah Mall.
"Ya sama," Yoyo menimpali. "Tapi setidaknya kita jadi tahu, tidak ada cinta antara majikan dan pembantunya. Kalaupun A moy dan A win beneran cinta sama kita, mereka pasti malu mengakuinya di hadapan Darren dan William. Masa iya pacaran sama pembantu, ngggak level."
Tito tersenyum kecut. "Mereka cuma cinta pada isi celana kita saja. Menyedihkan."
"Kalian darimana? Kok pulang terlambat? Apa kalian sudah sehat?" tanya Bibi Sri saat menghampiri Tito dan Yoyo yang sedang berbaring.
"Kami baik baik saja kok, Bi. anak anak tadi minta main setelah pulang sekolah, jadi kami main dulu," jawab Yoyo.
"Oh, kirain kalian pergi kemana, y udah kalian istirahat saja dulu. Kalian udah makan?"
"Udah, Bi."
Hingga hari menjelang petang, satu persatu para majikan sudah pulang dari kantor mereka. A win dan A moy tersenyum saat melihat anak anaknya sedang terlelap meslki meski mereka sedikit karena Yoyo dan Tito tidak ada disana.
__ADS_1
"Mommy," panggil salah satu anak yang tiba tiba terbangun.
"Eh anak Mommy udah bangun, nyenyak banget bobonya, Sayang?"
Bocah itupun tersenyum lebar dan bangkit minta digendong. "Om Tito mana? Kok nggak ada?"
"Om Tito lagi mandi, nanti juga kesini," bohong A moy. "Zoe mandi bareng Mommy ya?"
"Nunggu Om Tito aja, Mom," rengek Zoe.
"Baiklah, nanti Mommy panggilin Om."
Zeo langsung tersenyum lebar. "Mom."
"Hum? Apa, Sayangku?"
"Tadi Zoe main sama Daddy?"
"Apa!"
@@@@@@@
__ADS_1