
"Bagaimana keadaan Tito dan Yoyo? Apa mereka baik baik saja?"
"Baik. Mereka baik baik saja, kenapa?" tanya A moy heran.
"Kami datang kesini ingin meminta mereka pada kalian, agar Tito dan Yoyo bekerja di kantor kami."
"Apa!" pekik A win dan Moy secara bersamaan. Wajah mereka bahkan langsung berkobar sebagai tanda tidak terima. "Apa kalian sudah tidak waras?" seru A win.
"Loh, justru karena kami waras, kami ingin membuat kedua pria itu memiliki kehidupan yang lebih maju," balas William sembari berpindah tempat duduk, dari sofa ke kursi dihadapan meja kerja A moy. A win yang sedang duduk di kursi satunya, sontak bangkit dan beranjak terus berdiri di sisi tempat duduk A moy. "Kenapa pindah, Win? Duduk di sini aja, Sayang?"
A win lansung berdecih, memandang sebal ke arah mantan suaminya. "Maksud kalian tuh apa? Kalian mau memisahkan mereka dengan anak anak kalian? Kayaknya kalian tuh nggak seneng banget ya lihat Binbin dan Zoe bahagia."
"Loh, siapa yang bermaskud memisahkan mereka? Kami hanya meminta mereka bekerja di kantor kami. Urusan tempat tinggal. Mereka bisa pulang ke rumah kalian," bantah Darren yang juga memilih duduk di kursi yang sama dengan William.
"Bukankah semalam kalian sudah meminta nomer rekening mereka? Kenapa kalian berubah pikiran?" cecar A moy.
"Ya kami memang sudah mentransfer sejumlah uang buat mereka, tapi kami takut itu akan melukai harga diri mereka. Makanya kami ingin mereka bekerja di kantor kami," balas Darren dengan gamblang.
__ADS_1
"Lagian mereka masih muda, mereka juga nggak mungkin selamanya ingin jadi pembantu di rumah kalian, bukan? Mereka pasti ingin maju juga?" sambung William.
Mendengar kata pembantu, A win dan A moy saling lirik. Hati mereka sedikit tersentil karena gara gara sebuah status, hubungan baik dua wanita itu dengan Yoyo dan Tito, saat ini merenggang.
"Tito dan Yoyo, datang jauh jauh ke negara kita pasti karena mereka ingin merubah nasib mereka disini. Karena perilaku mereka yang baik dan sangat tanggung jawab kepada pekerjaannya, bikin kita tersentuh dan ingin membantu merubah nasib mereka yang lebih baik lagi," terang Darren terlihat sungguh sungguh.
Namun dua Janda itu masih tetap diam. Mereka jelas belum siap berjauhan dengan dua pria yang sudah beberapa kali menghangatkan malam mereka. Walaupun hanya pindah kerja, tapi dua janda cantik itu tidak rela Yoyo maupun Tito bekerja di tempat lain.
"Kenapa kalian diam? Apa kalian sedang mencari alasan untuk menolak?" tanya William penuh selidik. "Atau jangan jangan, kalian ada rasa sama dua pembantu itu?"
A moy dan A win langsung terkesiap mendengar tebakan William yang sedang menatap mereka seperti menyelidiki. "Rasa apa? Kalau ngomong jangan ngawur," bantah A moy agak belagapan.
"Ya nggak apa apa kan kalau kita suka pria lain, walaupun itu pembantu kita. Kan kita singgle. Emangnya kalian, yang suka sama cewek lain padahal sudah punya istri dan anak?" sindir A win yang sukses membuat dua pria itu tak berkutik.
"Ya nggak apa apa sih, itu hak kalian. Kalau kalian menyukai mereka, kenapa kalian nggak mendukung mereka untuk berubah ke arah yang lebih baik?" ucap Darren sedikit menprovikasi.
"Benar itu, harusnya kalian mendukung mereka untuk maju, bukan menahan mereka jadi pembantu," sambung William.
__ADS_1
"Bukan masalah kami mendukung mereka atau tidak. Kami kan nggak tahu mereka mau nggak kerja di kantor kalian. Karena keputusan bukan di tanganku, tapi ada pada mereka," balas A moy lantang. Dia benar benar dibuat kesal oleh dua pengusaha itu.
"Benar juga!" seru William. "Baiklah, kabari kami kalau mereka memang mau."
"Memanng mereka bekerja di kantor kalian sebagai apa? Kalau hanya pekerjaan seperti OB, lebih baik nggak usah," hardik A win.
"Yang pasti bukan OB. Kita kan mau lihat bakat akademik mereka itu dibagian mana. Kalau sudah tahu, baru deh, kita kasih posisi yang tepat buat mereka," balas Darren.
"Baiklah. Nanti kita bicarakan saat pulang," amoy akhirnya memutuskan.
"Oke, ditunggu kabarnya. Ya sudah, kalau begitu kami pamit deh," ucap Darren sembari berdiri dadi duduknya dan diikuti oleh William. Dengan berat hati dua pria itu meninggalkan kantor mantan istri mereka.
"Kenapa aku merasa, mantan istriku menyukai pembantunya yah?" ucap William begitu mereka keluar dan melangkah menuju mobil mereka.
"Sama, aku juga merasa gitu," Darren menimpali.
"Yah ... kalau benar kita saingan sama pembantu dong!"
__ADS_1
"Hahaha ..."
...@@@@@...