DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA

DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA
Para Janda Kembali Marah


__ADS_3

"Tapi kalian senang kan? Pergi sama mereka?"


"Ya lumayanlah, Miss. Cukup senang, buat ngilangin jenuh," jawab Tito.


"Terus bagaimana perasaan kalian saat pergi bersama mereka berdua? Bukankah ibaratnya kalian itu sedang berkencan?"


Seketika Tito dan Yoyo tertegun mendengar pertanyaan wanita yang ada dibelakang mereka. Kedua pemuda itupun saling pandang sejenak lalu kembali menatap lurus ke arah depan. Meski tanpa direncana, kedua pemuda itu merasa aneh dengan pertanyaan majikannya. Mereka seperti orang yang sedang diselidiki.


"Percuma kalau dibilang kencan, kalau hubungan kita hanya sebatas majikan dan pembantunya," jawab Tito, dan ucapan pemuda itu cukup mengejutkan bagi dua wanita dibelakangnya.


"Loh? Kok bisa gitu?" tanya A shang.


"Kenyataannya kan begitu, Miss. Kita hanya mengikuti kemauan majikan kita. Kan aku dan Yoyo disini niat kerja, bukan niat untuk kencan," ucap Tito lagi. Nampaknya Yoyo juga setuju dengan apa yang dikatakan Tito. Makanya dia memilih diam, tak ikut menimpali.


"Emang kalian nggak suka gitu? Kencan sama majikan kalian?" tanya A zia.


"Bukan masalah suka atau tidak suka, Miss. Kita hanya harus tahu diri, kita itu siapa. Gaji yang aku dapat aja dari majikan, semakin terlihat rendah kan aku kalau aku sampai berkencan dengan majikanku. Aku modal apa? Isi celana doang?"

__ADS_1


"Jangan gitu, To. Kita nggak pernah lihat kalian serendah itu," protes A shang nampak tidak terima dengan apa yang Tito ucapkan.


"Aku tahu, Miss. Kalian menganggap kita layaknya keluarga. Tapi pandangan orang lain bagaimana?" ucap Tito.


"Gini ya, Miss, sebelumnya aku minta maaf," Yoyo ikut bersuara. "Mungkin di negara ini okelah majikan dan pembantu berkencan nampak wajar. Tapi beda dimata keluargaku dan orang orang kampung. Akan banyak pandangan negatif yang bermunculan."


A zia dan A shang nampak manggut manggut. Biar bagaimanapun budaya mereka berbeda. Sekarang A shang dan A zia setidaknya dapat menyimpulkan isi hati dua pemuda itu. Mereka tidak akan jatuh cinta pada majikan mereka karena keadaan yang berbeda.


Hingga sampai di tempat tujuan, ke empat orang itu lebih banyak diam dan tidak membicarakan tentang perasaan lagi. Berhubung mereka sampai dilokasi saat hari sudah gelap, mereka pun di suruh istiirahat di sebuah villa yang telah disediakan. Villa itu terdiri dari dua kamar. dengan pemandangan laut yang cukup indah.


"Pembagian kamarnya seperti dulu aja yah? Aku tidur bareng Yoyo dan Tito bareng A zia?" usul A shang. A zia langsung setuju tapi dua pemuda itu nampak keberatan. "Sepertinya kalian tidak suka dengan keputusanku ya?"


"Eh, bukan begitu," ucap Yoyo sedikit gugup.


"Ya udah kalau mereka keberatan, kalian bisa tidur bersama di kamar satunya," ucap A zia yang nampak kecewa. "Yuk Shang kita ke kamar."


Kedua wanita itu langsung pergi meninggalkan dua pemuda dengan rasa kecewa mereka. Sedangkan Yoyo dan Tito memandang nanar dua wanita yang langsung pergi meninggalkan mereka tanpa sepatah katapun yang dapat dijadikan alasan.

__ADS_1


"Lagi lagi majikan marah karena tidak berhasil menikmati isi celana kita," keluh Tito begitu mereka memasuki kamar yang mereka gunakan. "Kok mereka bisa kayak gitu banget sih?"


"Aku juga heran, kalau memang mau isi celana kita, tinggal ngomong, bukan pake kode kodean kayak gitu," balas Yoyo sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Hmm, mentang mentang mereka cewek, jadi kita yang harus peka gitu? Apa mereka juga nggak peka kalau kita juga lelah? Maunya enak enakan saja," sungut Tito yang memilih duduk di sofa.


"Tujuan mereka minta di temenin kesini juga pasti karena ingin berhubungan badan lagi, Para Janda itu benar benar ketagihan sama isi celana kita, edan," kedua pemuda itupun lantas terbahak.


Hingg beberapa menit berlalu, Tito dan Yoyo memutuskan keluar kamar bermaksud ingin menikmati pantai di malam hari.


"Kita ajak majikan kita nggak?" tanya Yoyo begitu mereka keluar kamar.


"Apa mungkin mereka mau? Mereka kan lagi marah sama kita," balas Tito setelah memandang kamar sebelah lalu menatap sahabatnya.


"Apa salahnya di coba," usul Yoyo. Tito langsung setuju dan mereka melangkah menuju kamar majikan mereka yang pintunya sedikit terbuka. Namun saat Tito akan mengetuk pintu, gerakan tangan Tito terhenti ketika mendengar percakapan dari dalam kamar majikannya.


"Sepertinya Tito lebih menyukai A ling dan A moy. Demi mereka, Tito mau melakukan apa saja. Berarti udah jelas, kalau cintanya Tito buat mereka, bukan buat aku."

__ADS_1


Deg!


...@@@@@@@...


__ADS_2