
Masih di hari yang sama dan juga di tempat yang sama pula, Tito dan Yoyo menghampiri anak buah majikannya yang sedang mengawasi jalannya acara pernikahan. Mereka bertanya kapan acaranya selesai dan anak buah majikannya menjawab biasanya jam tiga sore acara selesai. Setelah mendapat jawaban dan berdiri sejenak disana, Tito dan Yoyo akhirnya pergi lagi.
"Berarti kemungkinan kita pulang malam ya, Yo," ucap Tito disela sela langkah kaki mereka mencari tempat untuk menghabiskan waktu.
"Yah bisa jadi, bukankah kita juga akan ikut membereskan barang barang yang digunakan?" balas Yoyo. "Anak anak pasti bakalan tambah rewel banget nih."
"Hahaha ..." Tito malah terbahak. "Kita kayak sudah jadi ayah saja. Direwelin oleh anak anak karena nggak pulang pulang."
"Hehehe ... tapi menyenangkan juga kan ya kayaknya punya anak. Tiap hari ada yang kangen dan nungguin kita pulang," Sambung Yoyo.
"Benar banget. Seandainya Zoa jadi anakku, wuih seneng banget aku pasti. Anaknya lucu, ibunya cantik. Lengkap deh pokoknya," Tito mulai berangan angan.
"Semakin lengkap dengan adanya ibu ibu mereka yang lain, yang siap menjadi teman tidur kita kapanpun kita mau, wuih, mantap bukan?" seru Yoyo dan keduanya sontak terbahak.
Setelah mereka menemukan tempat duduk, keduanya kembali melanjutkan obrolan mereka. Di saat mereka sedang asyik ashiiknta ngobrol, tiba tiba mereka dikejutkan dengan suara seseorang yang menyapa mereka berdua.
"Permisi," suara orang yang menyapa membuat Tito dan Yoyo mau tidak mau harus menoleh.
"Ya ..." jawab Tito dengan wajah penuh tanya setelah memandang orang yang menyapanya. Begitu juga dengan Yoyo.
"Bukankah kalian yang bekerja di rumah A moy untuk menjaga anak anak?" tanya orang itu.
__ADS_1
"Iya, benar," jawab Tito agak gugup. Bukan karena takut, tapi karena dia bingung, darimana dua pria yang menyapanya tahu tentang Tito dan pekerjaannya.
"Saya adalah ayahnya Zoe dan ini adalah ayah Binbin. Bukankah kita pernah bertemu satu kali," ucap salah satu pria yang menyapa Tito dan Yoyo. Ternyata dia adalah Darren.
Kening Tito dan Yoyo berkerut, tapi tak lama setelah itu mata mereka hampir melebar setelah ingatan tentang pertemuan mereka beberapa waktu dulu.
"Oh iya, maaf, saya hampir tidak mengenali anda, Tuan," ucap Tito merasa tidak enak hati.
Darren tersenyum lebar. "Tidak apa apa. Lagian kan kita ketemu cuma sekali, jadi wajar kalau kamu tidak ingat. Boleh kami ikut duduk bersama kalian? Ada yang ingin kami bicarakan."
"Bo-boleh, silakan," ucap Tito dan Yoyo hampir bersamaan. Jujur dua pemuda itu agak canggung dan grogi berhadapan dengan pria yang usianya tidak jauh dari mereka tapi kedudukannya lebih tinggi.
Jelas sekali, perbedaan antara si kaya dan si miskin terlihat diantara empat pria itu. Meski sama sama tampan, tapi aura yang terpancar sungguh sangat jelas terlihat diantara mereka. Darren dan William lebih kelihatan bersinar dengan aura kekayaan mereka sebagai ahli bisnis yang masih muda.
"Kami sedang membantu majikan kami di acara pernikahan, Tuan," jawab Yoyo agak terbata.
"Anak anak mana? Kok nggak ikut?" tanya William lagi.
"Mereka berada di rumah, Tuan. Kalau anak anakikut, yang ada kita nggak bisa kerja," balas Yoyo.
"Kok bisa gitu? Apa kalian sangat dekat dengan anak anak?" kini Darren yang bertanya.
__ADS_1
"Ya seperti itu, Tuan," balas Yoyo. "Mereka seperti tidak mau jauh dari kami. Kami sendiri juga nggak tahu kenapa mereka bisa begitu."
William dan Darren sejenak saling pandang, lalu mereka tersenyum getir. Ada rasa sakit yang tidak bisa mereka lihat, tapi bisa mereka rasakan, saat mereka mendengar pengakuan jujur dari dua pria di hadapan mereka.
"Memang apa saja yang pernah kalian lakukan berdua sama anak anak?" tanya William.
"Sejujurnya saya lebih dekat dengan Zoe," jawab Tito dengan perasaaan yang tidak enak. "Dan teman saya lebih dekat dengan Binbin. Banyak kegiatan yang sering kami lakuian bersama. Ya karena kami memang ditugaskan untuk menjaga mereka."
"William nampak manggut manggut. "Apa saja itu?"
Mau tidak mau, Tito dan Yoyo menceritakan keseharian meraka bersama anak anak. Dari mandi bareng, main, berlatih bela diri, serta kegiatan diluar dugaan. Dengan semangat mereka menceritakan semuanya tanpa keduanya sadari, dua pria dihadapan mereka sedang menahan rasa iri dan cemburu mereka.
"Terdengar menyenangkan, ya?" tanya Darren getir.
"Iya, Tuan," balas Yoyo canggung.
"Apa kami boleh minta tolong pada kalian?" tanya William.
"Minta tolong? Minta tolong apa, Tuan?" tanya Tito merasa heran.
"Tolong bantu kami, agar kami bisa dekat lagi dengan anak anak kami, bisa?"
__ADS_1
Deg!
...@@@@@@@...