DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA

DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA
Menginginkan Hubungan Yang Sehat


__ADS_3

"Udah, nggak usah banyak mikir," ucap A zia lagi. "Lagian kan, kamu utang penjelasan tentang perbuatan kamu ke aku,To."


"Perbuatan? Perbuatan yang mana, Miss?" Tito mencoba bertanya, tapi A zia hanya menatapnya sejenak lalu tersenyum dan beranjak meninggalan Tito yang masih diliputi rasa terkejut dan juga rasa takut.


Dalam hati Tito berpikir, mungkin saja majikannya itu mau mengungkit perbuatannya saat pesta dulu. Tentu saja Tito merasa takut. Dia belum sempat minta maaf tapi malah dihadapkan kembali dalam situasi yang mencengangkan seperti ini.


Sama seperi halnya dengan Tito, Yoyo juga sedang melamun memikirkan ucapan A shang. Yoyo yakin sekali kalau dia disuruh tanggung jawab soal perbuatannya yang terekam cctv. Dengan kasar, Yoyo menghempas nafasnya yang mendadak terasa sesak.


"Kamu nggak bantuin mereka lagi?" sebuah suara dari arah belakang membuat lamunan Yoyo seketika buyar. Dia lantas menoleh ke arah sumber suara.


"Enggak, To, sepertinya sebentar lagi selesai. Tinggal penanganan yang detail doang, kan? Itu urusan para ahli," jawab Yoyo setelah tahu siapa yang melempar pertanyaan.


Tito lantas duduk di kursi sebelah Yoyo dan mereka sama sama menghadap ke arah luar hotel dari kaca yang terpajang dihadapan mereka.


"Sepertinya kamu tadi melamun? Sampai tidak sadar aku datang. Ada yang sedang kamu pikirkan?" tanya Tito sambil memandang sahabatnya sejenak.


Yoyo menghela nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya secara perlahan. "Tahulah, Yo. aku bingung," jawab Yoyo setelah menoleh ke arah Tito sejenak lalu kembali melempar pandangannya ke luar hotel.


"Bingung kenapa?" tanya Tito penasaran.

__ADS_1


Yoyo menoleh. "Nanti malam kamu tidur dimana?" bukannya menjawab, Yoyo malah melempar pertanyaan kepada sahabatnya.


Tito sontak saja menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tidur sekamar dengan A zia," jawab Tito dengan lesu.


"Hah!" Yoyo malah berseru karena kaget sampai tubuh Tito terjengat.


"Apaan sih, Yo? Kaget tahu!" sungut Tito.


"Hahaha ..." Yoyo kini jadi terbahak. "Kenapa nasib kita sama terus sih?"


Kening Tito sontak berkerut. "Maksudmu?"


"Tanggung jawab? Tanggung jawab soal apa?"


Yoyo sontak menoleh ke arah Tito dan mengangkat kedua bahunya. "Mungkin disuruh tanggung jawab soal perbuatan kita. Firasatku sih, karena nanti sekamar bareng A shang, kamu tahulah apa yang mereka inginkan."


Tito menganggukkan kepalanya beberapa kali sembari tersenyum tipis. "Astaga! Kenapa para majikan jadi gatal sama kita ya? Masa iya gara gara kita ***** ***** sebentar, mereka jadi mudah menyerahkan tubuhnya untuk kita nikmati. Apa istimewanya kita sih?"


Lagi lagi Yoyo mengangkat kedua bahunya. "Tapi aku pikir sih, mereka suka sama kita loh, To. Dan kebetulan saja mereka punya senjata buat ngancam kita. Benar nggak?"

__ADS_1


Tito berpikir sejenak, mencerna ucapan Yoyo yang sepertinya memang benar. "Kalau suka, kenapa harus berhubungan badan coba? Kenapa nggak ngajak ngobrol dimana gitu."


"Astaga! Ya mana mungkin mereka mau yang kayak gitu lah, To!" seru Yoyo. "Mereka ngajak kita bercinta ya karena memang mereka haus sentuhan pria."


Tito menghela dan menghembus nafasnya secara perlahan. "Ya emang enak sih berhubungan badan. Apa lagi majikan kita cantiknya keterlaluan. Bisa dibilang kita beruntung. Tapi jujur, aku juga pengin hubungan yang sehat, Yo. Meski hubungan itu dengan seorang janda, bukankah akan lebih indah kalau hubungan tidak melulu tentang ranjang?"


Senyum Yoyo kembali terkembang. "Yah, tapi mau gimana lagi, To. Sekarang yang kita hadapi berbeda dengan apa yang kita inginkan. Mau menolak, mereka majikan kita. Jujur sih, aku cuma takut, majikan kita nanti bertengkar gara gara rebutan kita. Itu yang paling bahaya menurutku."


Tito sontak menganggukkan kepalanya beberapa kali. Hingga saat dia hendak menyahut, sebuah suara tiba tiba memanggil nama mereka. Kedua pemuda itu lantas menoleh. Ternyata mereka di panggil oleh anak buah A shang dan A win untuk memanggil mereka berdua karena butuh bantuan. Obrolanpun terpaksa berhenti dan kedua pemuda itu langsung bangkit dan beranjak menuju ke rombongan mereka.


Hingga petang hari, semua pekerjaan telah selesai semuanya. Mereka nampak lega, termasuk A shang dan A zia. Sebelum istirahat, mereka terlebih dahulu menikmati hidangan yang sudah disediakan. Besok tinggal acara inti dan mereka berharap acaranya sukses dan lancar agar mereka puas dengan hasil kerja keras mereka. Setelah selesai makan, satu persatu para karyawan mulai beranjak menuju kamar yang telah disediakan.


"Ayo kita ke kamar, Yo, saatnya kamu tanggung jawab," bisik A shang.


"Waktunya kamu memberi penjelasan, Tito," bisik A zia.


Tito dan Yoyo langsung bergidig.


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2