
Bukan hanya Bibi Sri dan Bibi Nur yang mengawasi Tito dan Yoyo, tapi juga enam wanita yang di sebuah ruangan yang menghadap ke arah taman. Para wanita itu memandang Tito dan Yoyo sembari tersenyum dan membayangkan yang indah indah.
"Sepertinya dia cocok jadi suamiku," gumam mereka dalam hati masing masing.
Entah kenapa enam wanita yang sedang membahas hasil kerja kemarin malah fokus memandang Tito dan Yoyo dari balik kaca besar pada sebuah ruangan. Pembicaraan mereka terjeda saat mendengar suara tawa yang terdengar sangat lepas dari dua bocah yang sedang bermain dengan penjaganya.
Diantara enam wanita itu, tidak ada yang curiga satu sama lainnya kalau masing masing dari mereka memandang fokus ke pemuda yang penah berhubungan badan. Seperti A moy, A ling dan A zia, mereka fokus menatap Tito dan membayangkan percintaan yang pernah mereka lakukan. Begiu juga dengan tiga majikan yang lain, mentap fokus kepada Yoyo dengan segala pikiran nakal mereka.
"Anak anak kelihatannya senang banget," ucapan A ling seketika menyadarkan para wanita dari segala lamunannya. Mereka pun nampak salah tingkah dan langsung kembali menatap kertas kertas dan laptop yang tergeletak di atas meja.
"Ya begitulah. Mungkin karena kemarin ditinggal dua hari, jadi mereka kayak seneng bangat gitu ketemu Tito dan Yoyo lagi," ucap A win.
"Hahaha ... dasar bocah menggemaskan. Kemarin rewel nggak, Kak?" tanya A shang.
"Kalau si Binbin sih ngambeknya lumayan nguji kesabaran. Pake hampir mogok makan segala lagi," balas A win.
"Hahaha ... bisa bisanya sampai segitunya," balas A shang. "Terus kalau Zoe gimana?"
__ADS_1
"Nggak beda jauh sama Binbin," balas A moy. "Cuma ya masih mending, Zoe mau makan dan nggak terlau rewel banget."
"Astaga! Sampai segitunya. Udah kayak sama ayahnya saja," celetuk A mey.
"Oh iya, ngomong ngomong soal ayah mereka, Yoyo cerita nggak sama kamu, Win?" tanya A moy sembari menoleh ke arah A win.
"Cerita apa?" tanya A win.
"Kemarin, mereka ketemu sama Darren dan William di acaranya pernikahannya anak Tuan Ceng."
"Benarkah?" tanya A win dengan wajah terlihat sedikit terkejut.
"Hah! Yang bener?" seru A win dengan tatapan tak percaya. Sedangkan empat wanita yang ada di sana hanya menyimak meski mereka juga terkejut mendengar berita itu.
A moy mengangguk, lantas dia menceritakan semya yang dia ketahui dari mulut Tito. Dan pastinya kabar itu kembali mejadi kejutan bagi A win mauapun empat wanita yang ada di sana.
"Yoyo belum cerita apa apa sama aku sih, lagian sejak dia pulang kita belum berhadapan empat mata," jawab A win sambil menoleh sejenak ke arah taman belakang melihat keceriaan anaknya.
__ADS_1
"Terus, apa Kak Win ngijinin?" tanya A zia.
A win kini mengarahkan matanya ke arah wanita yang baru saja melempar pertanyaan. "Kalau Yoyo mampu ya, aku sih nggak keberatan. Malah seneng kalau Binbin bisa sembuh dan mau berdamai dengan ayahnya. Biar bagaimanapun, William juga punya hak untuk bertemu. Nggak hanya uangnya saja yang mengalir tiap bulan."
"Ya sudah, kita serahkan saja semuanya pada Tito dan Yoyo. Kalau mereka berhasil, berarti mereka memang bisa menjadi sosok yang bisa di andalkan," ucap A moy dan semua nampak setuju dengan pendapatnya.
Kini obrolan mereka tentang Yoyo dan Tito terhenti karena memang sepertinya tidak ada yang perlu dibahas lagi. ke enam janda cantik itu kembali membahas hasil kerja mereka dan juga rencana kerja lainnya yang sudah berada dalam daftar. Niat hati berangkat ke kantor, tapi tertahan karena pembahasan yang cukup panjang di ruang itu menyita lumayan banyak waktu.
Meski mereka sedang membicarakan soal pekerjaan, tapi kali ini fokus mereka terganggu sejak membahas Tito dan Yoyo. Di dalam hati mereka, segala pujian dan angan tertuju pada dua pemuda yang saat ini sedang tertawa bersama anak anak. Entah itu karena hasrat atau cinta, mereka jadi membayangkan jika mereka memiliki suami seperti Yoyo ataupun Tito, mereka merasa pasti hidupnya akan bahagja.
"Aku kepengin loh ngajak Yoyo ke tempat tinggalku," celetuk A mey tiba tiba, dan celetukannya sukses mengalihkan perhatian lima wanita yang ada disana.
"Ngajak Yoyo ke rumah kamu?" tanya A shang, dan A mey mengangguk antusias. "Mau ngapain? Mau dikenalin sebagai calon suami pada orang tuamu?"
"Bisa jadi hehehe ..."
Deg!
__ADS_1
...@@@@@@...