
Saat siang hari, di dalam sebuah mobil, terlihat, Tito sedang asyik ngobrol bersama Zoe. Suara tawa sesekali menggema memenuhi ruang mobil tersebut. Namun di tengah perjalanan, saat melintasi area sepi, tiba tiba mobil yang yang dikendarai Tito ada yang menghadangnya. Sontak saja Tito terkejut dan mobil yang dikendarainya segera berhenti.
"Kok berhenti, Om?"
"Ada mobil berhenti di depan kita."
Terlihat sebuah mobil melintang menghalangi akses jalan mobil yang dikendarai Tito. Dari dalam mobil tersebut, turun dua orang pria berpakaian rapi serba hitam berjalan menuju ke arah mobil Tito.
Tok! Tok! Tok!
Salah satu orang dari mereka mengetuk kaca mobil di sebelah Tito.
"Ya, ada apa?" tanya Tito begitu dia membuka sediki kaca mobilnya.
"Maaf, Tuan. Saya disuruh Tuan Darren untuk menjemput Zoe," ucap pria itu yang membuat kening Tito berkerut.
"Menjemput Zoe?" tanya Tito dan pria itu mengangguk. "Apa sudah ada ijin dari ibunya?"
"Sudah, kami tadi sudah mendatangi rumahnya dan Ibunya mengijinkan."
Deg!
Kening Tito semakin berkerut. Tito bertanya tanya dalam hatinya, bagaimana mungkin Miss A moy berada di rumah? Harusnya kan jam segini masih di kantornya? Apa Miss A moy sudah pulang? Lagian, mana mungkin Miss A moy mengijinkan Zoe bertemu dengan ayahnya sendirian sedangkan Miss A moy tahu kondisi Zoe jika bertemu dengan ayahnya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan telefon Ibunya dulu," ucap Tito pada akhirnya. Tentu saja dia merasa curiga dengan alasan orang itu.
"Tidak perlu!" seru orang itu. "Karena kami sudah meminta ijin."
"Tapi saya harus memastikannya karena ini adalah tanggung jawab saya!" seru Tito.
"Anda tidak percaya saya suruhan Tuan Darren? Anda tidak tahu siapa Tuan Darren dan apa yang terjadi jika ada yang menghalangi keinginannya?" pria itu mulai menakut nakuti.
"Saya memang tidak mengenal Tuan Darren, tapi saya sangat tahu kondisi anak ini jika ketemu dengan ayahnya!" balas Tito tak kalah lantang.
"Om!" pekik Zoe dengan wajah ketakutan.
Tito menoleh dan mengusap kepala Zoe. "Jangan takut, ada Om."
"Saya lebih takut jika anak ini kenapa kenapa, paham?"
Pria itu terlihat sangat kesal. Dia melirik rekannya, seperti memberi sebuah kode dengan matanya. Rekan dari pria itu lantas mengangguk. Pria itu merogoh saku celananya dan dengan gerakan cepat dia langsung mengeluarkan pisau lipat dan menodongkannya di leher Tito.
"Cepat serahkan anak itu, atau aku habisi nyawa kamu!" ancam pria itu.
Mata Tito sontak membelalak. Zoe pun semakin merasa ketakutan. Dia bahkan sudah menangis saking takutnya. Tito terdiam. Di saat seperti ini, dia harus bisa bersikap tenang dan memikirkan jalan keluarnya.
"Cepat! Serahkan anak itu!" bentak pria tersebut dengan mata pisau yang semakin dekat ke arah leher Tito.
__ADS_1
Tito langsung menemukan ide. Dengan cepat dia menaikkan kaca pintu mobil hingga tangan pria itu terjepit.
"Akh!" pekik orang itu. Di saat dia hendak menggerakan tangannya yang memegang pisau ke arah leher Tito, pemuda itu langsung memundurkan mobilnya dengan cepat. Pria itu sontak kaget dan secara otomatis badan dia tersentak dan ikut bergerak dan pisau ditangannya langsung terjatuh.
"Tay Wong!" rekannya berteriak ikutan terkejut. dia mendekat hendak menolong temannya, tapi gerakanya kalah cepat dengan Tito.
Tito tidak menyia nyiakan kesempatan itu. Tito langsung mencekal tangan orang itu dan mencengkramnya dengan erat lalu melajukan mobilnya ke arah samping melewati mobil musuh yang melintang.
"Akhh! Lepaskan tanganku! Sialan!" teriak orang itu sambil setengah berlari. Tapi Tito tidak peduli. Dia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang untuk mengimbangi langkah kaki pria yang dicekal tangannya.
Sementara itu rekannya langsung masuk ke mobil dan bergegas mengikuti mobil Tito. Aksi Tito jelas sekali menjadi tontonan warga yang melintas dan melihatnya. Banyak juga yang merekam kajadian itu hingga sebuah mobil polisi yang sedang berpatroli melintas dan langsung menghentikan mobil Tito.
"Ah sial! Ada polisi, mending aku kabur!" ucap rekan pria itu dan dia langsung menancap mobilnya meninggalkan temannya yang berteriak namun tidak dipedulikan.
Polisi langsung bertindak dengan cepat. Setelah mendapat laporan dari Tito denngan baranb bukti yang ada, pria itu langsung di ringkus. Tito merengkuh tubuh Zoe yang sedari tadi menangis ketakutan.
"Sudah aman, Sayang. Zoe tenang ya?"
"Zoe takut, hiks ... hiks ..."
"Udah, Zoe nggak perlu takut lagi. Penjahatnya sudah ditangkap polisi. Sekarang kita ikut pak polisi lalu telfon Mommy, Ya?"
Zoe hanya diam. Tito langsung melajukan mobil dan mengikuti mobil polisi untuk memberikan keterangan tentang kejadian yang baru dia alami secara lengkap.
__ADS_1
...@@@@@...