
"Yo."
"Hum?"
"Kamu bertanya seperti itu, apa karena semalam kamu dan Miss A mey sudah ..."
Mata Yoyo langsung melebar memandang ke arah Tito, lalu pandangan matanya beralih ke arah lain dengan ekpresi wajah antara ingin tersenyum atau bersikap biasa saja. Sedangkan Tito terus menatap tajam ke arah sahabatnya hingga Yoyo menjadi salah tingkah. Tentu saja gerak gerik Yoyo membuat Tito mudah menebaknya.
"Astaga, Yoyo! Kamu semalam mantap mantap dengan Miss A mey?" ucap Tito langsung kepada intinya.
"Hust, jangan keras keras ngomongnya, To. Ada anak kecil tahu," hardik Yoyo.
"Zoe nggak bakalan ngerti dengan bahasa yang kita gunakan."
Yoyo langsung menepuk keningnya. "oh iya," lalu Yoyo langsung cengengesan.
"Katanya semalam kamu ke pesta? Nggak jadi?"
"Ya batal, Miss A mey malah ngajak aku pesta sendiri. Aku pikir pesta apaan, eh malah pesta enak enak."
"Cihh! Beruntungnya," puji Tito dan dia juga menyadari kalau dia semalam juga merasa beruntung. "Berapa ronde semalam?"
"Tiga ronde, tadinya sih cuma dua ronde, tapi pas mandi bareng, Miss A mey malah minta lagi. Ya udah kita main di kamar mandi," ucap Yoyo dengan senangnya. Namun mata Yoyo tiba tiba berkerut saat melihat Tito melepas kaos yang Tito pakai. "Badan dan leher kamu kenapa merah merah, To?"
Kini gantian Tito yang merasa terkejut. Dia menatap dadanya dan langsung menutupnya dengan kaos sembari cengengesan.
__ADS_1
"Ahhh ketahuan! Semalam kamu dan Miss A moy melakukannya juga kan?" desak Yoyo dan Tito hanya bisa cengengesan. "Berapa ronde tuh? Sampai banyak gitu tanda merahnya?"
"Tiga ronde, sampai jam dua kita baru selesai."
"Astaga! Berarti semalam waktu aku pulang jam dua belas, kamu lagi nyodok?"
"Ya gitu deh. Aku juga nggak nyangka kalau Miss A moy menghadiahkan tubuhnya untukku."
"Hadiah?" tanya Yoyo dan Tito mengangguk. Lalu Tito menceritakan awal mula kejadiannya sampau dia mendapat hadiah dari majikannya. Setelah Tito bercerita, Yoyo juga menceritakan awal kejadiannya hingga dia berhubungan badan dengan A mey. Tak ketinggalan juga, Yoyo juga menceritakan tentang rekaman ulah mereka yang terekam cctv saat pesta baju pantai.
"Jujur sih, Yo. Aku jadi takut. Kalau Miss yang lainnya justru malah akan melaporkan kita, bagaimana menurutmu?" ucap Yoyo di akhir ceritanya.
"Ya nggak tahu. Aku juga sama takutnya kayakk kamu. Tapi Miss A moy bilang mereka nggak akan melaporkaannya ke polisi."
"Semoga saja mereka tidak ada yang melapor. Tapi menurutmu, apa Miss A moy juga ada hati sama kamu? Dia juga menyerahkan tubuhnya secara suka rela juga kan?"
"Berarti kalau majikan kita ada hati sama kita, apa kita harus membalas perasaan mereka juga?"
"Kalau menurutku sih jangan dulu, Yo. Ingat, kita tuh disini ibaratnya pembantu. Kita nggak tahu juga tujuan mereka menyerahkan tubuh mereka untuk apa. Mending kita diam aja dulu. Apa lagi kita juga nggak tahu kan Miss A ling, Misss A zia dan Miss A shang mau maafin kita apa nggak."
"Hm, benar juga ya? Gimana kalau kita minta maaf bareng?"
"Boleh, nunggu kamu pulang aja kalau gitu."
"Ya udah, To. Aku berangkat dulu. Kasihan Binbin, pasti udah nungguin."
__ADS_1
"Emang kamu tahu rumah orang tua Miss A win?"
"Aku diantar Pak Yoko. Pulangnya sekalian sama saudaranya Miss A win lusa nanti."
"Oh ya udah sana."
Yoyo pun beranjak pergi setelah mencium pipi Zoe dengan gemas. Sedangkan Tito memperhatikan tubuhnya sendiri yang dipenuhi tanda merah oleh A moy. "Gimana cara ngilangin tanda ini?" gumam Tito.
Beberapa jam kemudian, kini Yoyo sudah sampai di tempat tujuan. Begitu sampai di depan rumah mewah keluarga A win, Yoyo langsung disambut oleh Binbin.
"Jangan lari lari, Jagoan!" seru Yoyo saat dia baru saja turun dari mobil dan menyambut Binbin yang sedang berlari ke arahnya.
"Om Yoyo kenapa datangnya lama?" rengek Binbin.
"Maaf ya? Tadi jalanan macet."
Bocah itu tak menjawabnya. Binbin hanya terdiam digendongan Yoyo. Semua keluarga A win sangat takjub melihat Binbin yang sampai segitunya kepada pengasuhnya. Yoyo pun disambut baik oleh keluarga A win.
"Semalaman dia nggak bisa tidur dan nangis terus nyariin kamu," adu neneknya Binbin.
"Iya,tuh bener. Dari tadi aja nanya terus kapan kamu sampai," Kakak A win ikut menimpali. Yoyo hanya bisa tersenyum mendengar cerita mereka sambil mengusap lembut kepala Binbin.
"A win, nanti malam, dia tidur aja satu kamar bareng kamu. Agar Binbin tidak rewel lagi."
Deg!
__ADS_1
...@@@@@@...