
Kecewa, itulah yang dirasakan dua pemuda malam ini. Dengan sebuah tuduhan yang tidak mendasar, dua pemuda itu harus menelan rasa kecwa yang luar biasa. Hanya karena sebuah kesalahan kecil, dua pemuda itu harus menerima murka tanpa diberi waktu untuk menjelaskan yang sebenarnya. Dengan segenap rasa sakit hati yang mereka miliki, Tito dan Yoyo merapikan pakaian mereka ke dalam koper karena mereka baru saja dipecat dari pekerjaan.
Hampir tiga bulan mereka mengabdi dan mencari rejeki di rumah itu dengan sebaik baiknya dan penuh rasa tanggung jawab, tapi semua hasil kerja mereka tak terlihat hanya karena kesalahan kecil yang tidak disengaja. Kesalahan yang seharusnya cukup dibicarakan baik baik dengan sebuah nasehat.
"Kalian sebaiknya makan dulu," suara Bibi Nur memecah keheningan dalam kamar yang tercipta karena penghuninya memilih diam dalam merapikan pakaiannya. Bibi Nur menaruh nampan berisi makanan di atas meja lalu memandang sedih dua pemuda yang sedang memasukan pakaian itu.
"Iya, Bi, sebentar lagi," jawab Tito tanpa menoleh ke arah yang bertanya.
"Kalian yakin menerima keputusan mereka? Nggak pengin menjelaskan dulu?" tanya Bibi Nur sembari mendudukan pantatnya di tepi ranjang. Dia juga sempat kaget saat tahu A win dan A moy marah marah hanya karena anak anak pulang sangat telat. Yang membuat Bibi Nur sangat terkejut adalah kedua pemuda itu dipecat hanya karena masalah sepele.
Tito menatap wanita yang usianya lebih tua darinya. "Buat apa ngasih penjelasan, Bi. Dimata mereka kita sudah salah. Apapun yang kita jelaskan juga nggak ada gunanya. Mereka lebih berkuasa dan mereka selalu benar. Ya sudah, kita terima aja keputusan mereka."
Bibi Nur tersenyum kecut. Sebenarnya dia bisa saja membantu mengatakan yang sebenarnya. Bibi Nur tahu masalahnya bagaimana setelah dia mendengarkan penjelasan Yoyo dan Tito tadi. Tapi ucapan Tito barusan membuat Bibi Nur paham, Tito dan Yoyo tidak mau terlihat rendah dimata para majikan.
"Apa kalian akan kembali ke agen dulu? Baru pulang ke Indonesia?"
"Mungkin seperti itu, Bi. Toh kita juga tidak melakukan kesalahan fatal. Kita tidak melanggar kontrak kerja," kini Yoyo yang bersuara.
__ADS_1
"Baiklah, kalau keputusan kalian sudah bulat, Bibi hanya bisa mendoakan semoga kalian mendapatkan yang terbaik untuk hidup kalian."
"Aamiin, makasih, Bi."
"Ya udah, dimakan dulu makanannya, mumpung masih hangat."
"Baik, Bi."
Bibi Nur tersenyum hangat lalu dia pergi meninggalkan dua pemuda itu. Tito dan Yoyo saling pandang sejenak, lalu salah satu dari mereka bangkit menuju ke arah makanan berada, dan diikuti yang satunya melakukan hal yang sama.
"Apa kita nggak sebaiknya mempertimbangkan tawaran Tuan Darren dan Tuan William, To? Lumayan kan kita kerja di kantor?" tanya Yoyo sembari menikmati makanannya.
"Hahaha ... benar juga. Lagian aku sendirian, nggak berani lah. Mending ikut kamu pulang dan yah bisa buka usaha kayak kamu. Bagus juga kan," balas Yoyo yang sedikit tenang dengan suasana hatinya. "Eh apa mungkin kita akan dapat hadiah lagi? Kan kita udah bikin anak anak nggak takut sama ayah mereka?"
"Kening Tito sempat berkerut. "Ya elah ngarep banget kamu, Yo, hahaha ..."
"Hahaha ... ya kali aja. Lumayan kan. dapat tambahan buat modal nganggur di kampung."
__ADS_1
"Bisa aja kamu. Coba aja cek ponsel kamu, saldonya nambah nggak?"
Yoyo bergegas meraih ponselnya dan membukka aplikasi akun bank yang dia miliki. "Wahh! Benar! Duitku nambah! hahaha ..."
"Serius?" tanya Tito nampak terkejut. Dia juga langsung mengecek ponselnya. "Gila! Banyak banget!"
Dua pemuda itu tentu saja langsung merasa senang. Rasa kecewa dan sakit hati yang baru saja mereka rasakan, berubah menjadi rasa senang dan syukur yang tidak terkira hanya karena saldo tabungan mereka bertambah lebih banyak.
Rasa senang mereka berbanding terbalik dengan rasa sedih yang sedang terjadi pada diri dua bocah yang ada di rumah itu. Binbin dan Zoe tidak mengerti kenapa mereka tidak boleh bersama penjaganya malam ini. Rengekan mereka bahkan mengundang amarah pada ibu mereka masing masing.
"Mommy kenapa sih? Kok Zoe dimarahin terus? Zoe salah sama Mommy?" keluh bocah kecil itu.
"Karena Zoe nakal, tidak nurut, jadi Mommy marah sama Zoe. Coba kalau Zoe nurut, Zoe nggak bakal kena marah," balas A moy dengan emosi yang tertahan.
"Berarti Zoe salah bertemu Daddy dan tidak takut lagi ketemu sama Daddy?" Iya Mom?"
Deg!
__ADS_1
...@@@@@@...