
Yo," panggil Tito.
"Hum?" balas Yoyo dan mereka saling tatap.
"Kalau tiga janda yang pernah kamu tidurin, jatuh cinta sama kamu, bagaimana? Apa yang akan kamu lakukan?"
Yoyo tertegun sampai keningnya berkerut. Namun itu tak lama, karena setelah itu senyum Yoyo malah melebar, bahkan sampai terkekeh. "Hahaha ... mana mungkin mereka jatuh cinta sama aku? Astaga! Nggak mungkin banget lah, To."
"Ya kan kali aja. Isi hati orang kan nggak tahu," balas Tito membela diri.
"Hahaha ... kamu ini aneh, To. Apa kamu lupa dengan apa yang kamu katakan kemarin saat kita di hotel? Kan kamu sendiri yang bilang kalau majikan kita itu suka sama kita, bukan cinta," ucap Yoyo sambil berusaha meredakan suara tawanya.
Seketika Tito berpikir sejenak, mengingat apa yang dia bicarakan dengan A zia. Lalu tak lama setelahnya, Tito malah tersenyum lebar. "Iya sih, tapi kan kita nggak tahu kedepannya bagaimana. Kalau mereka jatuh cinta sama kita gimana?" Tito masih berusaha teguh dengan pemikirannya.
"Menurutku sih, itu nggak bakalan terjadi. Mereka wanita kaya, cantik dan dari kalangan kelas atas. Nah kita, uang aja kita nunggu gaji dari majikan kita. Mana mungkin banget kan, kalau mereka jatuh cinta sama kita. Itu salah satu fakta yang membuat kita harus sadar diri, To."
Tito nampak manyun sambil manggut manggut. "Iya juga sih, mereka sama mantan suami mereka yang kaya aja bisa cerai. Apa lagi kalau pacaran sama kita? Eh tapi, apa mungkin Tuan William dan Tuan Darren bakalan balikan lagi sama mantan istri mereka?"
__ADS_1
"Ya kalau aku rasakan sih kayaknya iya. Nah kan, saingan kita aja presdir. Belum lagi Miss A mey, A ling, A shang, A zia. Mereka juga pasti di incar oleh pria pria kaya. Nah kita? Modal isi celana doang. Hahaha ..."
Kedua pemuda itu lantas terbahak bersama hingga menarik perhatian dua bocah yang mau tidak mau menghentikan permainan dua bocah itu. Binbin dan Zoe lantas mendekat ke arah penjaganya masing masing.
"Udah capek? Hum?" tanya Tito kepada Zoe sambil mengusap keringat dengan tisu yang sudah disiapkan.
"he em, udah capek," jawb Zoe lalu meraih botol minumnya.
"Ya udah, istirahat aja dulu, habis ini kita mandi lalu main di kamar aja. Udah siang, panas."
Yoyo juga melakukan hal yang sama seperti Tito kepada bocah yang duduk didepannya. Setelah merasa cukup istirahatnya, ke empat pria beda usia itu akhirnya memutuskan masuk ke dalam rumah, melanjutkan kegiatan mereka di dalam kamar.
Sedangkan di ruang lain, para majikan terlihat sedang merapikan kertas yang berserekan di atas meja. Terlihat disana kalau mereka telah selesai melakukan rapat dadakan dan sebagian dari mereka ada yang bersiap keluar rumah menuju ke tempat kerja mereka.
Waktu pun terus bergerak maju. Hingga beberapa hari kemudian, seperti yang sudah direncanakan para wanita itu mencoba mengorek isi hati Tito dan Yoyo. Dengan berbagai usaha yang mereka lakukan, mereka berharap bisa menemukan cinta pada dua pemuda itu.
Tapi sayang, apa yang dilakukan para janda itu, hanya dianggap oleh Yoyo dan Tito kalau mereka sedang memberi kode sebagai tanda kalau para janda ingin berhubungan badan. Tito dan Yoyo masih yakin para majikan itu tidak akan jatuh cinta pada pria miskin seperti mereka.
__ADS_1
Sampai pada satu hari, dimana A mey mengajak Yoyo ke rumah orang tuanya, dan A ling yang juga mengajak Tito ke rumah orang tuanya juga. Tidak mudah mengajak kedua pemuda itu pergi. Harus ada alasan yang masuk akal agar dua bocah yang sangat lengket dengan Tito dan Yoyo, mau mengijinkan dua pemuda itu pergi.
Kini Tito dan Yoyo sudah berada di rumah orang tua majikan mereka masing masing setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Tito dan Yoyo di sambut baik oleh keluarga majikan mereka. Dari penampilannya, keluarga A ling dan A mey tidak akan pernah menyangka kalau Tito dan Yoyo hanya seorang penjagaa anak anak.
"Teman laki laki kamu ganteng banget, Mey," ucap kakak A mey. "Nemu dimana?"
"Nemu di jalan tadi, hihihi," jawab A mey asal.
"Hahaha ... bisa aja kamu," balas kakak A mey. "Hati hati, nanti dia di ambil orang lagi loh."
"Hahaha ... tenang, kali ini dia bukan cowok gampangan kok, Kak," balas A mey.
"Ya semoga saja."
Tanpa mereka sadari, tak jauh dari sana, ada dua pasang mata yang menatap mereka penuh rasa benci.
...@@@@@...
__ADS_1