
"Asal kamu berjanji akan membebaskan aku dari penjara."
"Cih! memuakkan! Udahlah, mending aku pergi. Ngapain aku disini."
Pria bernama David itu segera saja bangkit dari duduknya. Tapi gerakan tubuhnya terhenti saat Samanta kembali bersuara, "Aku tahu dimana kunci rahasia perusahaan Darren berada, David."
Laki laki berpakaian rapi dan berambut klimis itu menoleh ke arah wanita yang terlihat dekil dan tidak terlihat cantik lagi. "Apa kamu akan memberikan informasi palsu?"
Wanita bernama Samanta sontak menatap tajam ke arah pria itu. "Carilah orang yang menjaga anaknya Darren. Rahasia perusahaan Darren ada pada gantungan kunci yang dia pegang. Buktikan saja sendiri!"
Pria bernama David sejenak merasa tertegun. Tapi tak lama kemudian, senyum miringnya terkembang. "Baiklah. Akan aku urus kebebasanmu dari penjara setelah aku berhasil menghancurkan Darren."
Samanta hanya tersenyum tipis sembari menatap kepergian orang yang menaruh dendam pada Darren. Nampaknya, hukuman penjara yang cukup lama, tidak juga membuat jera wanita itu. Dendam Samanta malah semakin menjadi tak terkendali sebelum memilhat Darren juga ikut merasakan kehancuran.
Pria bernama David itu langsung saja memberi perintah kepada anak buahnya untuk mencari info tentang penjaga anak dari saingan bisnisnya. Meski dengan cara kotor sekalipun, David ingin saingan bisnisnya yang bernama Darren hancur berkeping keping seperti yang pernah dia rasakan saat Darren menghancurkannya.
Sementara orang yang sedang dicari informasinya, saat ini sedang berbaring di atas sofa tanpa menggunakan busana sama sekali. Pria itu sedang melepas lelah setelah melakukan hubungan nikmat dengan majikannya.
"Sayang, katanya mau mandi. Airnya udah siap itu!" seru suara wanita membuat pemuda itu bangkit dan menatap ke arah sumber suara.
__ADS_1
"Aku mandi sendirian?" tanya pemuda itu sembari bangkit dan duduk di sofa yang sama.
"Nggak lah, kita mandi mandi bareng. Ayo!"
Pemuda bernama Tito itu tersenyum lebar. Dia lantas bangkit dari duduknya dan menghampiri majikan cantiknya. Sambil bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih, Tito dan majikanya melangkah menuju kamar mandi.
"Kamu duduk dulu di toilet, Sayang. Biar aku rapiin bulu bawahmu yang rimbun," titah A moy begitu mereka masuk di dalam area kamar mandi.
"Emang ada alatnya?" tanya Tito sembari memperhatikan sang majikan membuka kotak kecil yang ada di dinding kamar mandi.
"Ada. Nih!" A moy menunjukkan sebuah gunting kecil. Tito langsung duduk di atas toliet dengan kaki yang membentang. Sedangkan A moy langsung duduk di lantai menghadap ke arah Tito dengan mata menatap lekat isi celana Tito yang terkulai lemas setelah melakukan pertempuran.
"Iya, Sayang," balas A moy tanpa memalingkan tatapannya. Dengan telaten dan penuh kelembutan, tangannya mulai merapikan bulu rimbun itu. Tidak butuh waktu lama, acara cukur mencukur pun selesai. Setelah puas dengan hasilnya, mereka berendam bersama sembari berbagi cerita.
Sedangkan di kamar mandi yang lain, Yoyo juga sedang berendam air hangat bersama majikannya. Kedua tangan Yoyo berada di sisi kanan dan kiri bathtub. Punggungnya bersandar di sisi belakang. Dada bidangnya menjadi sandaran janda cantik yang sedang menggosok beberapa bagian tubuhnya.
"Miss, emang kita kesini beneran atas maunya anak anak?" tanya Yoyo sembari tangan kanannya bergerak turun masuk kedalam air dan melingkar di tubuh majikannya dengan telapak tangan menggenggam salah satu bukit kembar majikannya itu.
"Iya, Sayang. Anak anak bangun tidur langsung pada rewel minta piknik bareng kalian," jawab A win yang pasrah saja tubuhnya buat mainan pemuda yang dia sayangi.
__ADS_1
"Kok bisa gitu? Anak anak pada kepikiran ke piknik segala."
"Aku sama A moy aja kaget mendengarnya, Yo. Katanya mereka ngajak piknik agar kamu sama Tito nggak jadi pergi." Yoyo terharu mendengarnya. Dia tidak menyangka anak anak sangat menyayangi dirinya dan Tito sampai sejauh itu.
"Padahal kan mereka baru saja deket sama ayahnya. Aku pikir setelah dekat dengan ayahnya mereka akan berubah."
"Enggaklah, Sayang. Mereka itu sudah jatuh hati sama kamu. Sama seperti aku dan yang lain, jatuh cinta sama kamu."
Yoyo langsung tersenyum lebar. Kedua tangannya langsung memeluk erat majikannya dan menaruh dagunya pada pundak wanita itu. "Terus kenapa Miss A win sewa kamarnya malah bareng aku."
Wanita itu seketika tersenyum. "Kalau masalah kamar memang sengaja ide aku dan A moy. Biar aku tuh bisa berbicara dari hati ke hati seperti ini. Kalau berpisah, bisa saja kita masih saling diam bukan?"
"Benar juga," Yoyo semakin mengeratkan pelukannya.
"Nanti malam kita lembur mau?"
"Siap majikan cantikku!"
Keduanya saling tersenyum lebar.
__ADS_1
...@@@@@@...