
"Yoyo dan Tito sudah makan belum, Bi?"
"Nggak tahu, Miss. Tadi sih aku sudah antar makanan buat mereka di kamarnya."
"Emang mereka kenapa? Sakit? Kok makanananya di antar?"
"Enggak kenapa, Miss. Mereka tadi sedang sibuk berkemas. Katanya mereka dipecat."
A moy langsung menghentikan gerakan tangannya dan menoleh ke arah dua pembantu yang ada di sana. "Berkemas?" Bibi Nur mengangguk. "Tolong, Bi. Kamu suapin Zoe, aku akan menemui mereka."
"Baik, Miss."
A moy meletakan makanan yang sudah ada di tangan ke atas meja, lalu dia bergegas menuju kamar Tito dan Yoyo yang memang dekat dari area dapur. Setelah mengetuk pintu, A moy masuk dan melihat Tito dan Yoyo yang sedang meneruskan mengemas pakaiannya.
"Kalian lagi pada ngapain?" tanya A moy yang sudah jelas jelas tahu dua pemuda itu sedang merapikan pakaian mereka.
Tito berdiri menatap majikannya. "Sedang merapikan pakaian kami, Miss. Biar besok kami bisa langsung pergi setelah pamit dengan semuanya."
"Siapa yang nyuruh kalian pergi? Aku belum memutuskan untuk memecat kalian loh," balas A moy yang nampak tak terima dengan sikap Tito.
"Kenapa belum memutuskan? Pecat saja kami sekalian. Bukankah itu sudah menjadi hak Miss A moy sebagai majikan?" ucap Tito tanpa berniat menyindir wanita dihadapannya.
"Kamu menyindir saya!" seru A moy.
__ADS_1
"Tidak!" bantah Tito. "Kami hanya mengingatkan diri kami disini sebagai apa. Bukankah itu sebuah fakta yang tidak bisa dibantah. Anda majikan dan saya pembantu."
Mendengar ada keributan di kamar Tito dan Yoyo, Bibi Sri bergegas memanggil majikan yang lain karena khawatir takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Kelima wanita yang menjadi majikan tentu saja sangat terkejut mendengar kabar dari pembantunya. A win dan yang lain segera saja bergegas menuju kamar dua pemuda itu.
"Ini ada apa? Kok pada ribut?" tanya A ling begitu sampai kamar. Matanya sedikit membelalak saat melihat dua koper terbuka berada di atas ranjang. "Kalian sedang berkemas?"
"Iya, Miss," jawab Yoyo singkat. Tentu saja janda lain yang ada disana begitu terkejut mendengarnya.
"Kalian mau kemana? Kok pakai berkemas segala?" tanya A shang. Wajah terkejutnya masih jelas terlihat.
"Kami dipecat, yah mungkin kesalahan kami terlalu besar, maaf," balas Yoyo lagi.
"Dipecat? Bagaimana bisa?" rasa terkejut para janda jelas saja bertambah, saat mendengar jawaban pemuda itu.
A moy dan A win hanya bisa saling pandang. Mereka seperti orang bingung untuk menjelasakan. Sedangkan empat janda yang lain menatap ke arah mereka semua, tatapan bertanya mereka menuntut jawaban dari dua janda itu.
"Nggak apa apa Miss. Ini memang kesalahan kita," ucap Tito agar semuanya cepat selesai.
"Nggak!" tolak A mey. "Kami juga perlu tahu. Meskipun yang berhak memecat kalian itu kak A moy, tapi kami juga turut menggaji kalian. Jadi kami berhak tahu masalahnya."
"Benar!" A zia menimpali. "Kesalahan fatal apa yang membuat kalian dipecat?"
"Mungkin bagi Miss A win dan Miss A moy, kesalahan kami sangat fatal. Jadi ya wajar kalau kami di pecat. Kami bahkan tidak diberi kesempatan untuk membela diri."
__ADS_1
"Ya sudah kalian jelaskan saja, apa kesalahan kalian?"
"Nggak perlu, Miss. kami jelaskan juga percuma. Kami akan tetap dipandang salah."
"Ya ampun Yoyo, Tito! Semua masalah itu bisa dibicarakan baik baik. Nggak perlu kayak gitu?"
"Tapi kami sudah dipandang buruk, Miss. Kami bisa apa. Bukankah seorang pembantu, walaupun tindakannya benar tapi kalau majikan tidak suka majikan tetap terlihat salah? Percuma dibicarakan baik baik, kalau kami posisi kami sudah salah di mata majikan."
A mey dan yang lain terbungkam mendengar penuturan Tito. Mereka kehabisan kata kata untuk membalas ucapan pria itu dan temannnya.
"Lalu bagaimana dengan anak anak? Mereka pasti yang paling kecewa dan kehilangan jika kalian pergi?"
Tito dan Yoyo saling tatap. Mereka juga sebenarnya merasa berat jika meninggalkan Binbin dan Zoe. Tapi mereka tidak punya pilihan. Semuanya harus terjadi seperti ini.
"Apa kalian tidak memikirkan perasaan anak anak nantinya akan bagaimana jika kalian pergi?"
"Bagaimana lagi, Miss. Kami juga punya perasaan. Mungkin memang tugas kita untuk anak anak harus sampai disini."
Empat janda menghembus kasar nafasnya hampir bersamaan. Mereka benar benar kehabisan kata kata untuk menahan para pria agar tidak pergi.
"Oh iya satu lagi, aku tanya, Apa benar Miss A win dan Miss A moy tidak mengakui kalau kalian suka sama kita dihadapan Tuan Darren dan Tuan William?"
Deg!
__ADS_1
...@@@@@@...