
"Mati kau!" teriak David.
Mata Yoyo langsung membelalak. "Tito, Awas!"
Tito berbalik badan, matanya membelalak melihat David mengacungkan senjata ke arahnya.
Dor!
"Akhh!"
Dakh!
Tito meringis. Namun beruntung dia sempat mengindar, alhasil pelurunya meleset dan hanya menyerempet lengan kanannya saja. Bersamaan dengan itu Yoyo juga bergerak cepat dan langsung melayangkan tendangan ke tangan David hingga senjata itu melayang. Yoyo langsung mengambil alih senjata itu dan menodongkannnya tepat di kepala David yang tersungkur.
"Sialan!" umpat David.
"Diam!" bentak Yoyo tak mau kalah. David dan anak buahnya diam tak berkutik.
"Zoe!" terdengar teriakan A moy menggema. Dua janda cantik itu datang dengan beberapa polisi. David dan rekannya langsung diringkus sedangkan A moy dan A win langsung mendekat kearah Zoe dan Tito yang baru saja bangkit karena tadi sempat terjatuh ke tanah saat menghindari senjata.
"Tito, Kamu terluka!" mata A moy membelalak begitu melihat lengan Tito berdarah.
__ADS_1
"Tidak apa apa, Miss. Hanya luka kecil," jawab Tito enteng msski dia meringis kesakitan.
"Luka kecil apaan!" hardik A moy dengan wajah yang begitu khawatir. Sedangkan Tito hanya cengengesan. "Win, panggil ambulan!"
"Om Tito nggak apa apa kan? Itu berdarah," tanya Zoe yang kini berada dipelukan ibunya.
"Nggak apa apa, Sayang. Om Tito kan kuat," balas Tito agar tidak terlihat lemah di hadapan anak itu.
Sedangkan Binbin langsung lari menyambut kedatangan Yoyo. "Om, kok tadi Binbin nggak diajak?" protes bocah itu ketika sudah berada dalam gendongan pria penjaganya.
"Tadi bahaya, Sayang. Tuh! Om Tito aja kena tembak," balas Yoyo setelah mencium pipi Binbin dengan gemas.
Tak butuh waktu lama, kini semuanya telah berada di rumah sakit. Lengan Tito bahkan sudah diperban oleh seorang suster. Setelah menjalani pemeriksaan secara menyeluruh di rumah sakit, Tito dan yang lainnya memilih kembali ke hotel guna mengistirahatkan tubuh mereka.
Sedangkan Darren dan William, lebih memilih menemui tersangka terlebih dahulu di kantor polisi setelah mendapat kabar kalau anak anak mereka aman. Betapa murkanya Darren begitu tahu siapa yang akan menyerang anaknya. Beruntung disana ada William yang dengan sabar menenangkan amarah Duda itu.
"Sekarang kamu lihat, David! Kamu memang tidak pernah bisa lebih unggul dari aku. Kamu telah salah memilih lawan. Dan akibatnya, kamu pasti tahu apa yang akan terjadi pada perusahaanmu," ucap Darren setenang mungkin. Jika tidak ada William, bisa saja David sudah babak belur oleh duda itu.
David hanya terdiam dengan tatapan penuh kebencian pada duda anak satu itu. Dia sadar, riwayatnya bisa saja habis saat ini. Dia sudah tidak mampu bergerak. Selain perusahaannya yang bisa saja hancur, dia juga pasti akan kena amukan kemarahan dari orang tuanya. Ada sedikit penyesalan dalam diri David. Jika dia tidak tergoda dengan penawaran Samanta, mungkin sekarang dia baik baik saja. Meski hidupnya diliputi dendam kepada Darren, David tidak akan kehilngan perusaaahannya.
"Terimalah kehancuranmu, David! Dan juga mantan istri kamu itu!" ancam Darren dengan tatapan yang sangat mengerikan.
__ADS_1
Darren dan William langsung pergi meninggal pria yang sedang terbakar amarah. Sumpah serapah terucap hanya dalam hati saja. David sudah bisa membayangkan keterpurukan yang akan menimpanya dalam waktu dekat.
"Sebaiknya kamu segera ambil gantungan kunci itu, Ren," Saran William begitu mereka sudah berada di dalam mobil. "Jangan sampai ada yang terlibat bahaya lagi gara gara musuh kamu yang tidak terlihat."
"Tentu, aku sudah memikirkannya," balas Darren. Keduanya sekarang sedang menuju ke hotel dimana Zoe dan yang lain berada.
Hingga beberapa jam kemudian, Tito dan yang lainnya sudah berada di rumah mereka. A moy memutuskan untuk segera pulang agar Tito benar benar bisa istirahat dan fokus menyembuhkan lukanya. Dengan menggunakan bantuan Darren dan anak buahnya, mereka sampai di rumah lebih cepat dari yang seharusnya.
Terlihat di ruang tamu, Darren dan William cukup senang karena sekarang bisa dengan mudah datang ke rumah A moy jika ingin bertemu anak anaknya. Bahkan sekarang Zoe dan Binbin sedang bersama mereka karena Tito dan Yoyo harus istirahat dan anak anak cukup mengerti keadaan. Dengan suka rela anak anak membiarkan dua pemuda itu beristirahat.
"Gimana? Zoe mau nginep di rumah Daddy nggak?" tawar Daren pada anak yang duduk dipangkuannya.
"Gimana, Mom? Zoe boleh ikut Daddy?"
"Ya boleh, Sayang. Tapi jangan nakal ya?"
"Oke!"
A moy tentu saja mengijinkan anaknya ikut dengan sang Ayah. Dengan begitu, A moy jadi punya banyak waktu untuk merawat pemuda yang dia cintai dan sekarang sedang terluka karena melindungi anaknya
...@@@@@@...
__ADS_1