DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA

DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA
Menuai Hasil


__ADS_3

"Mommy!"


Teriak dua bocah bersamaan yang sedang duduk di atas brangkar. Dua bocah yang sedang menamani dua pria dewasa yang terbaring dengan mata terpejam di sisi bocah bocah itu, sontak memanggil Mommy mereka begitu melihat dua wanita cantik datang dengan wajah yang terlihat sangat khawatir.


"Sayang!" teriak dua ibu itu hampir bersamaan sembari mendekat dan memeluk dua anak yang sedang duduk di atas brangkar yang berbeda. "Kamu tidak apa apa, Sayang?"


"Zoe baik, Mom," jawab bocah itu nampak bersemangat. "Tapi Om Tito belum bangun."


Melihat ada perawat yang mendekat, A moy pun langsung melempar pertanyaan pada perawat tersebut. "Sus, sebenarnya mereka kenapa? Apa mereka beneran pingsan?"


"Dua laki laki ini dalam pengaruh obat, Nyonya. Semacam narkotika yang akan bereaksi jika bersentuhan dengan kulit," jelas si perawat.


"Astaga! Terus anak anak gimana, Sus? Apa mereka sudah di cek?" tanya A win yang juga ikut mendengarkan penjelsan tersebut.


"Untuk anak anak aman. Mereka baik baik saja."


"Terus? Kapan mereka sadarnya, Sus?"


"Nanti jika efek obatnya sudah hilang, mereka akan tersadar dengan sendirinya."

__ADS_1


"Oh begitu? Baiklah. Terima kasih, Suster."


Sang suster membalas dengan ramah, lalu dia pergi melanjutkan tugasnya. Ada rasa tak enak dalam hati dua janda itu melihat keadan dua pemuda yang terbaring tak berdaya saat ini. Meski A moy dan A win belum mengetahui ceritanya secara lengkap, tapi mereka tersentuh dengan perjuangan dua pemuda dalam melindungi anak anak mereka.


Amarah dua wanita itu juga membakar jiwa mereka saat mengetahui siapa yang hendak mencelakakan anak anak mereka. A moy dan A win sangat tidak menyangka, wanita yang menghancurkan rumah tangga mereka, masih mengusik kehidupan damai dua janda itu. Mereka benar benar harus memberi mantan suami mereka ultimatum.


Darren dan William juga terlihat sangat terkejut saat mendengar kabar yang terjadi pada anak anak mereka. Tentu saja dua dua duda itu menjadi pelampiasan kemarahan mantan istri mereka. Dua duda itu tidak menyangka, hukuman yang mereka berikan pada wanitanya masing masing bukannya membuat jera, tapi malah perbuatanya semakin menjadi. Bahkan mereka tak habis pikir, Samanta dan Eva bekerja sama demi untuk menghancurkan dua pria itu.


"Akhirnya, kamu sendiri yang mengantarkan badanmu ke dalam jeruji besi, Ev," ucap William pada wanita yang hampir mencelakai anaknya.


"William, aku mohon, kamu percaya sama aku, aku tidak salah. Aku hanya diperalat," rintih Eva.


"William, tolong dengarkan aku. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku tidak mungkin berani menyakiti Binbin. Aku sayang sama dia. "


"Hahaha ... kamu semakin melantur aja, Nona. Baiklah, sepertinya penjara memang tempat yang cocok untuk kamu. Akan pastikan, kamu akan mendekam dipenjara dalam waktu yang sangat lama."


"Tidak, William, Tidak. William, tolong jangan lakukan itu! William."


Sayangnya William tidak peduli. Dia terus melangkah dengan amarah yang membara, meninggalkan wanita yang terus berteriak memanggil namanya. Bahkan teriakan Eva jelas terdengar sampai di ruangan sebelah dimana Darren sedang berbicara dengan Samanta.

__ADS_1


"Sepertinya kamu sangat senang berada di sini? Tidak seperti temanmu yang sedang berteriak itu," ucap Darren berusaha santai meski di dalam dadanya sangat bergemuruh. Sedangkan lawan bicaranya, sedari tadi lebih banyak menunduk dan terdiam. "Apa perlu, aku juga kirim Bella ke sini, untuk tinggal bersamamu?"


Mendengar anaknya disebut, Samanta langsung mendongak dan menatap Darren dengan tajam. "Jangan sentuh anakku! Kalau sampai ..."


"Kalau sampai apa? Hah!" hardik Darren memotong ucapan wanita yang pernah mengisi hatinya sampai rumah tangganya hancur. "Bukankah kamu sudah berkali kali ingin mencelakai anakku? Lalu ... aku tidak salah bukan jika mencelakai anakmu?"


"Kau!"


"Nggak usah mengancam! Aku tidak takut pada ancamanmu. Akan aku tunjukan pada Bella, wajah ibunya yang sebenarnya. Aku juga pastikan, kamu tidak akan pernah bisa keluar dari sini. Kamu tahu kan kuasaku gimana?"


Darren menyeringai sembari berdiri meninggalkan wanita yang terdiam dan segala amarah yang dia tahan. Begitu keluar ruangan, Darren melihat William dan dia mendekatinya.


"Kenapa melamun? Ada yang kamu pikiran?" tanya Darren sembari duduk di sebelah William.


Pria itu tersentak dari lamunannya dan menoleh ke arah Darren sejenak. "Tentu saja aku memikirkan anakku. Aku benar benar ayah yang buruk. Pasti dengan kejadian ini, Binbin semakin jauh dari jangkauan, dan dia akan semakin dekat dengan pria penjaganya."


Darren lantas tersenyum kecut. Dia juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan pria di sebelahnya. "Lalu kita harus bagaimana? Apa kita harus melakukan sesuatu juga?"


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2