DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA

DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA
Tanggung Jawab


__ADS_3

Tegang, grogi, canggung, dan agak panik. Itulah yang dirasakan dua pemuda di malam ini di saat yang sama, di dalam kamar yang berbeda. Jika kebanyakan pria mungkin akan sangat bahagia berada dalam satu kamar bersama dengan seorang wanita yang sangat cantik, tapi tidak bagi dua pria itu. Justru empat rasa itulah yang sedang dirasakan oleh dua pemuda saat ini.


pemuda berusia dua puluh empat tahun bernama Tito dan Yoyo, kini kembali harus berhadapan dengan wanita cantik yang menjadi majikannya. Di kamar terpisah dalam hotel yang sama, perasaan tidak nyaman sedang bergelayut di dalam jiwa mereka masing masing.


Terlihat di sana, Tito sedang duduk di sebuah sofa sambil mengedarkan pandangannya ke kamar hotel. Dia tidak pernah menyangka akan tidur di hotel yang lumayan mewah bersama seorang wanita. Sedangkan si wanita itu sendiri sekarang sedang membersihkan badannya di kamar mandi.


Setelah menunggu beberapa saat, wanita yang bersama Tito terlihat keluar dari kamar mandi dengan menutup tubuhnya hanya menggunakan lilitan habduk. Majikannya terlihat sangat seksi dan sangat meresahkan bagi pria yang melihatnya. Dada Tito semakin berdegup tak karuan saat wanita itu justru duduk disebelahnya dengan mengeringkan rambutnya yang basah memakai handuk kecil di tangannya.


"Sekarang jelaskan, To!" titah sang wanita bernama A zia. Tito yang memang sedang resah melihat penampilannya majikannya, semakin dibuat resah dengan titah yang diberikanya.


"Jelaskan, apanya, Miss?" tanya Tito sedikit lemah dan suara yang bergetar. Bahkan tatapan tajam Miss A zia terlihat menakutkan hingga Tito tak berani membalas tatapan mata itu.


"Jelaskan, kenapa kamu diam diam meraba tubuhku di saat aku sedang mabuk?"

__ADS_1


Glek!


Ternyata benar, ini masih ada hubungannya dengan kasus itu. Tito semakin merasa gelisah dibuatnya. Dia bahkan beberapa kali menggaruk badannya yang tidak gatal karena terlalu resah dalam situasi seperti ini. Tito diam dan sibuk memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan yang sangat menyudutkan dia.


"Hampir satu bulan loh kamu bekerja pada kami, tapi kamu nggak ada niat buat menjelaskan atau sekedar mintta maaf. Aku diam tapi memperhatikan loh, To. Atau kamu memang sengaja diam agar aku lapor polisi gitu?"


Mata Tito sontak membelalak dan dia langsung bersimpuh di lantai. "Maaf, Miss. Aku tahu, aku salah karena telah lancang meraba tubuh Miss A zia. Aku hilaf, Miss. Maaf."


A zia masih menunjukkan wajah marahnya. "Kenapa baru sekarang minta maaf? Kenapa nggak dari kemarin kemarin?"


"Tatap aku, To. Jangan kayak lelaki pengecut, menunduk gitu!" hardik A zia beberapa saat kemudian karena Tito hanya diam setelah mengatakan maaf beberapa kali.


Sebagai laki laki tentu saja Tito tidak terima dikatakan pengecut. Dia langsung mendongak, dan betapa terkejutnya dia saat melihat majikannya telah melepas handuk yang menutupi tubuhnya. Kini terpampanglah tubuh mulus, putih dan seksi didepan mata Tito, membuat pemuda itu makin berada di ambang kegelisahan. Kaki A zia telentang cukup lebar, memamerkan lubang nikmatnya yang indah dan mulus tanpa bulu. Tito sampai merasa kesulitan menelan salivanya.

__ADS_1


"Miss!" pekiknya.


"Sekarang kamu sentuh aku, To, di saat aku sedang sadar, berani nggak?" titah A zia. Wajahnya tetap menunjukkan kemarahan. "Cepat!" bentaknya.


"I-iya, Miss," jawab Tito gugup dan takut. Dia pun perlahan bangkit dan kembali duduk disofa. Dia bergerser ke hadapan A zia persis diantara kaki yang membentang. Perlahan Tito menggerakan tangannya yang bergetar menuju bukit kembar yang bergelantung indah.


"Kenapa pelan gitu? Yang semangat dong! Waktu diam diam aja semangat raba rabanya, ini kenapa malah kayak terpaksa melakukannya!" ucap A zia dengan suara lantang.


"I-iya, Miss," jawab Tito terbata. Dia semakin meningkatkan kekuatan jarinya dalam memainkan benda kembar yang sangat kenyal milik majikannya. Mata A zia terpejam. Jelas sekali kalau dia sangat menikmati sentuhan dari pria itu. Sentuhan yang sangat dia rindukan karena telah lama tidak merasakannya setelah menjadi janda.


"Sentuh pake mulutmu juga, To, dan sekalian bawah perutku juga kamu sentuh!" titah A zia lagi.


Tidak ada pilihan lain lagi bagi Tito selain mematuhi perintah wanita yang sedang dalam keadaan marah itu. Tito mulai memajukan wajahnya dan setelah dekat, mulutnya langsung melahap salah satu pucuk bukit kembar majikannya. Jari jari Tito juga sudah mendarat sempurna di bawah perut A zia dan langsung memainkan lubang itu dengan pijatan jarinya.

__ADS_1


"Akhh ..."


...@@@@@@@...


__ADS_2