
"Setelah aku selidiki, ternyata dia ingin aku hamil saat dia berhasil menikahi pacar lelakinya dan merebut anakku."
"Apa! Maskud Miss A ling?" pekik Tito sampai dia menghentikan pijatan pada bukit kembar wanita itu.
"Ya, ternyata sebelum menikah denganku, suamiku punya hubungan spesial dengan laki laki selama enam tahun."
"Hah!" Tito ternganga mendengarnya. "Sesama pria pacaran?"
A ling tersenyum lebar sembari mengangguk. Wanita itu merasa gemas melihat wajah terkejut Tito. Diapun langung mendaratkan bibirnya di pipi Tito dengan segenap perasaan gemasnya. "Miris ya? Ternyata aku cuma targat selingkuhan yang hanya dimanfaatkan oleh pria penyuka sesama."
"Apa pria itu bertingkah seperti perempuan?"
"Tidak, sama sekali tidak seperti perempuan. Dia gagah, tampan dan badannya bagus banget kayak kamu. Kayak pria normal gitu. Malah yang gerak geriknya kayak perempuan itu pacarnya."
"Astaga! Tapi kenapa mantan suami kamu malah sukanya sama laki laki?"
"Yah, awalnya mungkin terpaksa, yang menjadi pacar mantan suamiku, anak tunnggal dan kaya raya. Tapi lama lama dia menikmatinya mungkin. Meski pada saat ketahuan, mantanku suamiku berkata kalau dia sangat mencintiaku, namun sayangnya dia tidak mau melepaskan pacar lelakinya. Ya udah kan, aku ngalah. Buat apa bertahan."
Tito mengangguk beberapa kali sambil nyengir. Kedua tangan tangan pria itu kembali memainkan bukit kembar majikannya. "Apa enaknya ya main sama laki laki? Apa nggak sakit, lubang belakangnya ditusuk?"
__ADS_1
"Ya nggak tahu, Sayang," lagi lagi dengan mudahnya kata sayang meluncur dari mulut A ling membuat Tito terbuai dan berpikiran kalau majikannya ini juga ada hati sama dia. "Mantan suami aku tuh tugasnya yang menusuk pacarnya."
"Hah! Kok Miss tahu?"
"Aku kan juga punya teman seperti itu, To. Mereka lebih paham soal hubungan sesama jenis. Kata temen aku, pacarnya mantan suamiku tuh tipe yang berbahaya. Cemburunya gede banget katanya, ngalahin cemburunya cewek."
"Hih! Ngeri!" Tito bergidig dan hal itu membuat A ling malah tergelak.
"Hahaha ... dah lah, kita fokus pada kita aja, Sayang. Nanti Zoe keburu bangun. Hisap bukit kembarku, To!"
Tito hanya bisa pasrah. Dia langsung mnggerakan kepalanya dan dengan lahap mulut pemuda itu menghisap satu persatu bukit kembar majikannya yang begitu indah.
Sementara itu di tempat lain, Binbin baru saja selesai mandi. Sebentar lagi mereka akan segera pulang. Dengan telaten Yoyo mengeringkan tubuh Binbin. Yoyo sendiri malah belum mandi. Dia hanya melilitkan handuk untuk menutupi bagian tubuh bawahnya. Setelah fokus menangani urusan Binbin terlebih dahulu, baru dia akan mandi.
"Binbin! Di tungguin Li tian dan Tiang feng itu loh!" seru A win sembari memasuki kamarnya. Wanita itu seketika terpaku melihat penampilan Yoyo yang sedang bertelanjang dada. A win mendadak kesusahan menelan salivanya sendiri. Bahkan ada yang tiba tiba berkedut hanya gara gara penampilan Yoyo yang selalu terlihat tampan dalam keadaan apapun.
"Iya, Mom!" seruan suara Binbin menyadarkan kewarasan A win yang mulai resah karena keadaan Yoyo. A win tetap terpaku di dekat pintu masuk sembari memperhatikan gerak gerik Yoyo.
"Nah, sudah selesai," ucap Yoyo. "Sekarang Binbin main sama sepupu dulu yah? Nanti Om nyusul setelah Om mandi, oke?"
__ADS_1
"Oke!" Yoyo mengangkat tubuh Binbin dan menurunkannya dari atas ranjang. Bocah lima tahun itu segera berlari keluar kamar. Begitu Binbin keluar, suasana mendadak menjadi canggung. Melihat A win tetap berdiri di dekat pintu sambil menatapnya, membuat Yoyo menjadi salah tingkah.
Yoyo tersenyum canggung kepada A win, lalu dia perlahan masuk ke kamar mandi. A win yang sudah terpengaruh hasrat, menutup pintu kamar dan menyusul Yoyo ke kamar mandi.
"Miss A win!" pekik Yoyo kaget saat pintu kamar mandi dibuka dan A win masuk ke dalam kamar mandi. Yoyo sendiri saat itu baru saja melepas handuknya dan handuk itu masih ada di tangan. "Miss A win, mau ngapain?" tanya Yoyo gugup. Apalagi A win kini berdiri tepat dihadapan pemuda ltu.
"Kenapa sih, Yo? Kamu sangat menggoda banget?" tanya A win. Tangannya bergerak meraih benda yang mengganung di bawah perut Yoyo.
"Maksud Miss apa?" tanya Yoyo gugup. karena ulah tangan A win yang memijat lembut batang Yoyo, kini batang itu mulai menegang.
"Kita mandi bareng sambil main."
"Apa!" pekik Yoyo terkejut. "Nanti orang rumah curiga, Miss."
"Nggak perlu khawatir, mereka pasti ngertiin," ucap Miss A win santai tapi sangat mengejutkan bagi Yoyo. "Ayo!" desak A win.
"Baiklah," ucap Yoyo pasrah.
...@@@@@...
__ADS_1