DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA

DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA
Sebuah Amarah


__ADS_3

"Loh, kalian disini?" tanya A moy kepada dua Bibi.


"Iya Miss, habis ngasih bubur sama Tito dan Yoyo. Miss ada perlu?"


"Iya, tolong kalian bereskan dua kamar di sebelah ruang kerja ya? Sekalian nanti Tito dan Yoyo pindah ke kamar itu."


"Pindah?" tanya Yoyo dan Tito hampir bersamaan. "Kenapa kami harus pindah, Miss?" sambung Yoyo.


Karena ada dua Bibi disana, Miss A moy tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Dia terdiam dan sedikit salah tingkah. Dia juga berpikir cepat untuk mencari alasan tepat agar kedua Bibi tidak mencurigai sesuatu.


Tapi nampaknya Bini Nur dan Bibi Sri mengerti dengan sikap yang ditunjukan oleh A moy. Mereka lantas pamit guna melaksanakan tugas yang baru mereka dapatkan. Sedangkan Tito dan Yoyo saling pandang sejenak dengan isi hati yang hampir sama.


"Sebenarnya ini bukan permintaan aku. Ini permintaan yang lainnya," ucap A moy begitu kedua Bibi benar benar menghilang dari pandangan. "Selain aku dan A win, mereka juga ingin merawat kalian selama kalian sakit."


"Sakit!" pekik Tito. "Siapa yang sakit? Aku baik baik saja kok, Miss."


"Iya," Yoyo menimpali. "Aku juga baik baik saja. Bukankah tadi dokter juga mengatakan kalau kami baik baik saja ya, Miss? Kenapa malah dianggap sakit?"

__ADS_1


"Tapi kan setidaknya kalian harus istirahat yang cukup dan juga ada yang merawatnya, biar keadaan kalian benar benar pulih," balas A moy berusaha mencari alasan yang tepat dan masuk akal agar dua pemuda mau menuruti keinginannya.


"Bukankah disini juga aku bisa istirahat yang cukup, Miss?" Tito kembali mematahkan usaha A moy. "Lagian kalau disini, aku bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu. Bibi Nur dan Bibi Sri bisa merawatku dengan baik."


"Iya benar, aku juga setu ..."


"Apa kalian sudah berani membantah majikan kalian! Disini tuh kalian harusnya patuh! Nggak membantah seenaknya!" seru A moy lantang. Dia merasa kesal dan juga frustasi karena dua pemuda itu sedari tadi menolak keinginannya. Akhirnya A moy memilih menggunakan kekuasanya sebagai majikan untuk memaksa dua pria itu. A moy lantas langsung pergi karena tidak ingin mendengar bantahan lagi.


Yoyo dan Tito benar benar terkejut mendengar ucapan A moy. Hati mereka tersentil dengan ucapan A moy yang mengingatkan akan status mereka di rumah ini sebagai apa. Mereka disini hanya diwajibkan menuruti kemauan majikannya.


"Mungkin ucapan Bibi benar, kita tidak boleh terlalu melangkah jauh," ucap Tito. "Jika aku menerima cinta mereka, pasti saat mereka marah sama aku, mereka akan mengingatkan statusku yang hanya sebagai seorang pembantu."


Pada akhirnya kedua pemuda itu mau tidak mau menuruti permintaan majikannya dengan hati yang cukup kecewa. Mereka pindah ke dalam dua kamar yang bersebelahan. Yoyo dan Tito juga kaget saat mereka tahu kalau meraka tidur terpisah. Tapi kedua pemuda itu tidak punya pilihan lain lagi selain menurutinya.


Sejak saat itu para majikan berlomba lomba memberikan perhatiannya pada dua pemuda itu. A win, A mey dan A shang bergantian menemani Yoyo sembari memberi hidangan yang lezat serta perhatian yang dirasa sangat berlebihan. Begitu juga dengan Tito. Dia juga mendapat perhatian yang berlebih dari tiga majikan lainnya yang jatuh cinta pada Tito. Tapi sayang, mereka terlanjur menganggap perhatian yang mereka dapat adalah perhatian dari majikan ke pembantunya.


"Kamu kenapa? Kok kayak tidak senang gitu? Kamu nggak suka dengan kue yang aku kasih?" cecar A mey karena sikap Yoyo benar benar lain dari biasanya.

__ADS_1


"Kenyang, Miss," balas Yoyo beralasan. "Lihat tuh! Makanan lainnya aja masih utuh."


"Terus kenapa dari tadi kamu murung? Apa ada yang sakit?" A mey bertanya dengan wajah terlihat sedikit khawatir.


"Nggak apa apa kok, Miss. Aku baik baik saja," jawab Yoyo dengan sabarnya.


"Tapi sedari tadi sikap kamu lain, Yo. Kamu kayak tidak senang. Apa kamu nggak menyukai aku?" A mey masih mencerca karena dia merasa sikap Yoyo benar benar lain.


"Loh, kenapa Miss A mey malah bertanya seperti itu?" Yoyo terkecut mendengar keluhan sekaligus tuduhan majikan.


"Ya habis dari tadi sikap kamu lain, Yoyo," balas A mey penuh penekanan saat menyebut nama Yoyo. "Kamu kayak nggak suka ada aku disini. Apa aku salah aku juga ingin merawatmu."


"Tidak!" bantah Yoyo. "Miss A mey nggak salah. Miss benar. Justru di sini tuh aku yang salah."


"Loh kok kamu ngomong gitu?"


"Tapi benar kan, Miss? Di sini yang salah itu aku. Aku hanya pembantu yang harus nurut pada majikannya."

__ADS_1


Deg!


...@@@@@...


__ADS_2