
"A win, nanti malam, dia tidur aja satu kamar bareng kamu. Agar Binbin tidak rewel lagi."
Deg!
Sontak Yoyo yang sedang mengusap kepala Binbin langsung mematung dan melirik majikannya, namun majikannya terlihat diam dan biasa saja sambil terus melangkah masuk ke dalam bersama yang lain. Sedangkan Yoyo mengikutinya dari belakang dan dia dipersilakan duduk oleh salah satu anggota keluarga Yoyo.
"Ya kalau Yoyo mau ya silakan," ucap A win sembari duduk di sebelah Yoyo lalu membujuk anaknya. "Binbin sama Mommy dulu sini, Om Yoyo lapar itu."
"Nggak mau," tolak Binbin tanpa mau menoleh ke arah ibunya.
"Binbin ..."
"Nggak apa apa, Miss. Aku bisa makan sambil gendong kok," ucap Yoyo memotong perkataan A win. Wanita itu pun pasrah karena dia tahu anaknya kurang tidur dari semalam. Mungkin dengan adanya Yoyo sebentar lagi Binbin akan tertidur.
"Lihat tuh! Anakmu aja nempel banget. Kayak sama ayahnya saja," ucap Nenek Binbin. "Lagian kalau Yoyo nggak tidur bareng kamu, dia mau tidur dimana, semu kamar penuh."
"Gimana, Yo. Kamu mau tidur sekamar bareng aku?" tanya A win sambil mengambilkan makanan untuk Yoyo. Setidaknya A win sudah tahu, mana makanan yang bisa di makan Yoyo dan mana yang tidak.
"Aku tidur di sofa aja nggak apa apa, Miss," balas Yoyo.
__ADS_1
"Oh tidak bisa," Nenek Binbin yang membalas. "Sofa bukan tempat untuk tidur. Lagian kamu mau Binbin nggak tidur lagi semalaman gara gara rewel nyariin kamu? Kalau mau tidur di sofa ya yang ada di kamar A win aja."
"Udah nurut aja," balas A win. "Kamu nggak bakalan menang debat lawan neneknya Binbin."
Yoyo pun tersenyum canggung. Mau tidak mau dia memang harus tidur sekamar dengan majikannya. Selain tidak ada tempat tidur lagi, dia juga harus melakukannya demi bocah yang nempel terus dalam gendongannya.
Sedangkan di tempat lain, Tito nampak asyik menemani Zoe bermain di lantai atas rumahnya. Mereka lagi karaokean di ruangan yang kemarin buat pesta. Hingga mungkin karena terlalu capek sedari pagi main terus,lama kelamaan Zoe tertidur dipangkuan penjaganya. Tito hanya mengulas senyum dan mengangkat tubuh bocah itu serta membaringkannya di sebelahnya, lalu Tito lanjut berkaraoke sendiri.
"Loh, ada orang. Kirain siapa," suara seseoang tiba tiba muncul hingga Tito sedikit kaget lalu dia menoleh.
"Eh, iya, Miss. Tadi Zoe minta main disini," ucap Tito setelah tahu pemilik suara yang baru saja datang.
"Iya, Miss. Baru saja dia tertidur, mungkin lelah dia."
Salah satu majikan Tito itu hanya mengangguk saja beberapa kali lalu dia berbalik badan hendak keluar menuju kamarnya. Tito yang mendadak teringat sesuatu, tiba tiba langsung bersuara hingga langkah majikannya terhenti.
"Miss, boleh ngomong sebentar," ucap Tito agak ragu.
Sang majikan pun kembali memutar badan. "Mau ngomong apa?"
__ADS_1
Tito terlihat ragu mengatakannya, tapi dia memang harus membicarakannya agar tidak dihantui rasa takut dan bersalah. "Soal perbuatan kami saat diajak pesta baju pantai oleh Miss A ling kemarin."
A ling mengerutkan keningnya seperti mengingat ingat sesuatu. Tak lama setelahnya dia tersenyum lalu dia duduk di salah satu sisi sofa. "Perbuatan kamu? Perbuatan yang mana, To?" tanya A ling pura pura lupa.
Tito sedikit terperangah mendengar jawaban A ling, tapi dia merasa kalau A ling hanya pura pura tak tahu untuk menguji kejujuran Tito. "Perbuatan kami yang meraba raba tubuh Miss A ling dan yang lainnya. Kami minta maaf."
"Oh ... yang itu?" tanya A ling dan Tito mengangguk sambil terus menuduk. "Sekarang aku tanya, kenapa kamu melakukannya?"
"Em ... karena aku dan Yoyo terbawa suasana baru, Miss. Maaf, kami hanya laki laki normal yang tergoda dengan kecantikan dan indahnya tubuh Miss A ling. Dan kami juga untuk pertama kalinya disuguhi pemandangan seperti itu hingga kami tidak kuasa menahan diri kami unuk menyentuhnya," jawab Tito agak terbata. Kepalanya terus menunduk. Dia sama sekali tidak berani menatap majikannya.
A ling mengembangkan senyumnya. Dia senang dengan kejujuran pemuda itu. "Kamu tau nggak? Perbuatan kamu bisa dipidanakan loh, To. Kalau kami semua nggak terima, kalian bisa kami laporkan."
Tito sontak mendongak. "Maka itu, Miss, tolong, maafkan kami. Kami tahu kami salah, kami hilaf. Kami benar benar menyesal."
Lagi lagi A ling mengembangkan senyumnya. "Ya sudah karena kamu sudah meminta maaf, baiklah aku maafin. Tapi dengan satu syarat."
"Syarat?" kening Tito berkerut.
...@@@@@...
__ADS_1