Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
1. Hujan kasih


__ADS_3

BRAAAK


Motor itu tergelincir seketika.


Jalanan sedang sepi, hujan deras terus mengguyur.


Pengendara yang sempat terjatuh itu harus pelan-pelan mengangkat tubuhnya.


Ia beringsut menuju trotoar. Membuka kaca helmnya lalu memegang lutut kirinya.


"Mas nggak apa-apa?" tanya seorang gadis yang tiba-tiba muncul disampingnya. Ia sempat melihat ketika motor itu jatuh dan tergelincir cukup jauh karena menghindari dirinya sedang menyebrang.


"Maaf ... Saya tidak tau ada motor. Saya buru-buru mau ke pohon sebrang sana buat berteduh." ujar gadis ini terlihat panik.


Pemuda ini hanya diam sambil memandang wajah Arrida. Dialah gadis yang hampir tertabrak olehnya.


"Beneran Mas, saya minta maaf ... Kalau ada yang luka, ayo, saya antar ke rumah sakit."


Arrida mencoba memeriksa keadaan tubuh pemuda yang ada dihadapannya.


"Ga usah dipegang ... Saya gak apa-apa!" ucap pemuda itu dingin. Dia menepis tangan Arrida yang akan memegang kakinya.


Arrida mematung. Ia melihat ke arah motor yang tergeletak sembarang di jalan. Mendapatkan respon dingin dari pemuda tersebut Arrida memilih berlari menghampiri motor si pemuda. Mengangkatnya agar motor itu berdiri. Kemudian mendorong motor tersebut menuju pemuda yang masih saja memijit lutut kirinya. Ia pun memarkirkan motornya tepat di samping pemuda itu.


"Bisa berdiri, Mas? Lututnya sakit banget ya? Atau ada luka lainnya?" tanya Arrida kemudian.


Pemuda itu hanya diam sambil sesekali meringis ketika lututnya terasa sakit saat ditekan oleh tangannya.


"Jawab dong Mas, biar saya bisa tau harus gimana ... Atau saya antar ke rumah sakit terdekat ya."


Tiba-tiba ponsel pemuda itu berbunyi. Ia segera merogoh saku celananya. Kemudian menggeser tanda hijau di teleponnya


"Assalamu'alaikum," ucap pemuda itu.


"Wa'alaikumsalam, Wais, kamu dimana? Kenapa kamu belum kesini? Kamu gak papa kan?" suara dari si penelepon.


"Iya, Mah. Uwais gak apa-apa. Ini masih di jalan. Sebentar lagi kesitu." jawab Uwais, nama si pemuda. Ia menjawab pertanyaan di seberang telepon yang sepertinya orang yang sedang meneleponnya itu sangat mengkhawatirkan keadaannya.


"Hati-hati, ini hujan lho, jangan lupa pakai jas hujan,"


"Iya Mamah ... Uwais uda pake jas hujan kok." jawabnya lagi, menenangkan si penelepon yang ternyata ibunya.


"Udah ya ... Uwais tutup... Assalamu'alaikum,"


Setelah menutup teleponnya dan menyimpan ke dalam saku celananya, dia pun mencoba untuk bangkit dari duduknya. Namun sayang, rasa sakit di lututnya membuat dia tidak bisa berdiri tegak.


Arrida segera memegang lengan Uwais, ia berusaha untuk menyangga tubuh Uwais.


"Mas lututnya cedera, biar saya bantu." kata Arrida.


Uwais hanya menatapnya datar, tak ada respon.

__ADS_1


"Biar saya antar Mas ... Masnya mau kemana?" ucap Arrida menawarkan diri untuk membantunya.


Masih diam.


Tangan Arrida masih memegang lengan Uwais.


"Mas, kalo Mas nya cuma diem doang, ntar ga selesai-selesai urusannya, saya sudah kedinginan, hujannya ga reda-reda lagi ... Saya juga pengen pulang ... Atau ...."


"Ke rumah sakit!" Tiba tiba Uwais memotong ucapan Arrida dan itu sempat membuat Arrida terkejut.


Hening sejenak.


"Kok malah bengong, katanya mau bantu ...."


"Ah iya iya, saya antar Mas ke rumah sakit ... Yang dekat sini, kan?"


"Bukan, kita ke rumah sakit Permata Husada!"


Arrida diam. Sempat mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Kenapa?" tanya Uwais


"Aneh ... Bukannya mas butuh segera pengobatan ya ... Kenapa harus ke rumah sakit yang jauh?" Arrida bingung. Ia melepaskan pegangan tangannya. Dan hal itu membuat Uwais sedikit limbung.


"Eh ... Maaf," seru Arrida sambil kembali memegang lengan Uwais agar dia kembali berdiri tegak walau dengan posisi menahan sakit di lututnya.


"Ini bukan buat saya. Tapi saya harus segera kesana karena ayah saya sedang kritis,"


"Oh ya udah ... Ayo ... Ayo ... kita segera kesana." ujar Arrida segera menarik lengan Uwais agar tubuhnya mendekati motor.


"Tunggu ... kamu yakin?"


Uwais tampak ragu. Apa mungkin gadis dihadapannya ini bisa mengendarai motor NyimaX, yang memiliki body gede, sementara tubuhnya begitu mungil.


"Kenapa? Mas ragu?" Arrida menatap selidik pada Uwais


"Aaah, tenang aja Mas ... Saya pernah tiga kali menaiki motor beginian." ucap Arrida meyakinkan.


"Mas gak lihat tadi kalo saya bisa mendorong motor dari sana kesini?" tanya Arrida sambil menunjuk ke arah dimana tadi motor itu tergeletak sebelumnya.


"Baiklah ... Hati-hati ya ... Saya gak mau celaka lagi."


"Okke tenang aja ... Mas nya bisa naik?" tanya Arrida lagi.


Uwais mengangguk. Perlahan dengan sedikit bantuan dari Arrida, diapun bisa menaiki motor bagian belakangnya.


"Eh tunggu!" kata Uwais menghentikan Arrida yang hendak menaiki motornya.


"Ada apalagi sih, Mas?"


"Saya gak punya helm dua ataupun jas hujan dua,"

__ADS_1


"Tenang aja Mas, mudah-mudahan hujan kayak gini pak polisi mentolelir, kalau pun nggak ... Yaaa siap siap ditilang aja ya ... Gak apa apa, kan? "


Uwais mengangguk. Ia melepas helmnya. Lalu menyerahkan pada Arrida.


"Kamu yang pake helm ... Kamu didepan. Ini juga jas hujan biar kamu yang pake aja!" perintah Uwais sambil melepas jas hujannya.


"Eh ga usah, Mas ... Helm ini biar saya yang pake, tapi kalo jas hujan gak usahlah ... Toh saya juga udah basah kuyup, percuma aja di jas hujan,"


Uwais menghentikan membuka jas hujannya, ia mencermati kata-kata Arrida.


"Biar saya saja yang basah kuyup ya ... Masnya gak usah ... Jangan sampai dua-duanya kedinginan," lanjut gadis itu.


"Udah ... Kita berangkat ya Mas ... Bismillah ...."


Arrida pun melajukan motornya. Tak ada pembicaraan apapun selama dalam perjalanan. Hening. Mereka larut dalam pikirannya masing-masing.


Kurang lebih empat puluh lima menit mereka pun tiba di rumah sakit yang dituju.


Sambil digandeng oleh Arrida, Uwais berjalan menuju ruang ICU. Ibunya tengah cemas menunggu di kursi yang disediakan di luar ruangan tersebut.


"Assalamu'alaikum, Mah ...." sapa Uwais.


"Wa'alaikumsalam ... Uwais, akhirnya kamu dateng juga, kenapa lama banget?" kata ibunya Uwais sambil berdiri menghampiri Uwais dan Arrida.


"Maaf tante ... Tadi Mas nya sempet kecelakaan jatuh dari motor, lututnya cedera, tapi dia tidak mau diperiksa, dan malah ingin kesini," kali ini Arrida yang menjawab.


Tania, ibunya Uwais menoleh ke arah Arrida yang masih memegang lengan Uwais, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lutut Uwais.


"Uwais gak apa-apa mah, pas jatuh lutut kiri Uwais cukup keras membentur jalan, mungkin dipijat di tukang pijat langganan papah bisa sembuh,"


Uwais mencoba menenangkan ibunya.


"Ya Allah, Nak, apa lagi ini? Ayahmu kritis dan kamu kecelakaan." Bu Tania menangis seakan meluapkan rasa sesak dengan perasaannya saat ini.


"Mamah yang tenang, Uwais gak papa, gimana keadaan papah sekarang?" Uwais memeluk ibunya. mengusap lembut punggungnya.


Uwais memberi isyarat pada Arrida agar dia bisa digandeng menuju tempat duduk.


Setelah ketiganya duduk, ibunya mulai menjelaskan kondisi ayahnya yang sudah melewati masa kritisnya. Lalu menceritakan penyebab ayahnya bisa sampai masuk rumah sakit.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


Hai kakak readers


ini karya pertamaku


semoga suka dan terhibur yaaa


makasih like, vote, favorit, n komennya yaaa


sehat selalu kakak readers

__ADS_1


πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»β˜ΊοΈβ˜ΊοΈβ˜ΊοΈπŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


__ADS_2