
"Nggak, Ar, aku sayang kamu, aku cinta kamu!!" kata Uwais masih berusaha meyakinkan Arrida.
"Basi kak, udah telat, hati aku udah kelamaan nunggu!" ucap Arrida ketus. Ia benar-benar kecewa.
"Tapi ..." Uwais tidak melanjutkan ucapannya karena Arrida langsung memotong perkataannya. Akhirnya dia pun hanya terdiam memperhatikan gadis kesayangannya itu.
"Kakak tau, aku merasa menjadi orang yang tidak beruntung, aku tidak seperti Lani, Hani, dan Nana, mereka merasakan bagaimana rasanya menerima pernyataan cinta dari orang yang mereka cintai ... Sementara aku? Bahkan, dalam hal ini, aku yang menyatakan perasaan aku duluan, dan tragisnya nyampe detik ini aja kakak gak pernah balas suratku, apalagi menyatakan cinta kakak padaku, bukankah aku sangat menyedihkan? Hanya aku yang mencinta sendiri." tangis Arrida. Walau sakit, namun hatinya sedikit lega karena sudah bisa mengungkapkan apa yang dirasakannya selama ini.
"Tidak, aku yang mencintaimu ... Aku sangat mencintaimu ... Maaf kalau aku tidak pernah membalas suratmu, maaf kalo aku tidak pernah menyatakan perasaanku. Tapi aku sungguh-sungguh menyanyangimu." ujar Uwais penuh penekanan, dan penuh kepastian.
"Selalu seperti ini, kakak mengungkapkan perasaan sayang ke aku, karena aku yang tanya, atau aku yang nuntut ... Kakak gak pernah punya inisiatif sendiri!"
"Ya Alloh, maaf, kalo itu membuat kamu jadi seperti ini," kata Uwais yang akhirnya mulai mengerti apa yang dirasakan oleh Arrida selama ini.
"Tapi aku sungguh-sungguh sayang sama kamu, Ar, kamu masa depanku, kamu tujuan hidupku, kamu tau itu kan?"
"Ya, tapi sebuah pernyataan cinta juga diperlukan! Kakak tau, sebuah pernyataan itu, bisa merubah status seseorang, seperti akad nikah, bisa menjadikan orang itu sebagai suami istri, lalu ucapan syahadat, bisa menyatakan orang itu sebagai muslim atau mualaf, dan untuk hubungan kita selama ini tuh apa??"
Uwais sadar betul, bahwa selama ini dia memang tidak pernah menyatakan perasaannya atau memperjelas status hubungan diantara mereka.
"Yang jelas kita bukan kakak adik, dan aku juga bukan pacar kakak, sebaiknya kita akhiri aja, aku udah nyerah kak, aku sadar aku bodoh karena mencintai kakak,"
Uwais menarik nafas panjang. Ia merasa sangat menyesal karena telah membuat hati gadis kesayangannya itu menjadi sakit.
"Aku yang bodoh, aku yang salah, maafkan aku, aku yang gak peka!" kata Uwais penuh penyesalan.
"Ya, emang! Bahkan mas Wisnu, Justin, kak Rian, Rasya, sampai seorang mas Bryan aja menyatakan cintanya sama aku. Sementara kakak ... untuk nyatain cinta aja, harus aku dulu yang nanya! Padahal aku sangat berharap hal itu! Aku bener-bener bodoh dan menyedihkan!" teriak Arrida sambil menangis. Gerimis halus pelan-pelan sudah semakin membasahi tubuh keduanya.
"Maaf, Maafkan aku, Ar .... "
"Gak usah minta maaf kak, tenang aja, mulai sekarang, aku gak akan lagi mengharapkan kakak nyatain perasaan kakak ke aku, apalagi sampai ngemis cinta dari kakak,"
"Tidak, Ar, jangan seperti ini."
"Sudah waktunya aku akhiri kebodohanku, Kak,"
"Maafkan aku ... Aku yang bodoh ... Aku kira, kamu tidak keberatan dengan status hubungan kita saat ini, apalagi kita juga menghindari Laura yang saiko dan ...."
"Ah, udahlah Kak!" Arrida memotong perkataan Uwais. "Gak usah terlalu banyak alasan, aku capek, terserah ma orang lain, aku cuma butuh Kita ... Lagian apa yang kakak takutkan? Mbak Laura nyakitin aku? Atau, emang kakak gak pernah ada niatan serius ke aku? Aku hanya dijadikan tempat kakak bermain hati ... Dan cukup! Hati aku udah gak mau lagi kakak permainkan," lanjutnya sambil menekan kata 'kita'.
"Aku gak pernah mempermainkan perasaan kamu, Ar, dan aku tidak pernah main-main dengan perasaan aku ke kamu, aku benar-benar sayang kamu Ar ... Tunggu sebentar lagi, ya, aku sedang mempersiapkan semuanya, plis tunggulah ...."
"Tunggu apa? Nyatain cinta? Basi kak, udah telat, lagian aku juga udah dijodohin ma ayah bunda ... Selama enam hari ini, aku berpikir, akan menerima perjodohan ini ... Untuk itu, mulai sekarang, mending kita akhiri! Karena aku akan berusaha menerima dia." kata Arrida masih terisak.
__ADS_1
Uwais mengeryitkan keningnya mendengar kata 'perjodohan', ia pun tersenyum, karena ia tahu siapa orang yang dijodohkan oleh orangtuanya Arrida. Pada akhirnya, perasaan sakit di hati Uwais tiba-tiba sirna, berganti dengan kebahagiaan. Ia merasa benar-benar gemas dengan gadis cantik yang wajahnya sudah basah karena hujan. Sungguh lucu semua kejadian ini, menurutnya. Ketika gadisnya ingin mengakhiri hubungan bersamanya justru dia akan memulai kembali berhubungan dengannya??
Hingga kemudian, mode usil bin jahilnya pun ON. Ia ingin mengerjai gadis kesayangannya itu.
"Kamu serius, Ar?"
"Iya! Toh kakak juga gak jelas ma hubungan ini."
"Kamu yakin?"
"Iya,"
"Kamu bener-bener mau mengakhiri semua ini?"
"Iya,"
"Dan kamu yakin akan menerima orang yang dijodohin itu?"
"Iya! Paling tidak, dengan dijodohin, akan jelas statusku nanti! Gak digantung kayak gini!"
"Demi yang udah kita lalui, kamu yakin dengan yang kamu omongin?"
"Iya!"
"Aku sayang kamu, Ar!"
"Terserah!"
"Terserah!"
"Kamu bikin aku sakit hati, Ar ... Kita udah jalani hubungan selama tiga tahun, dan kamu nyerah gitu aja?" tanya Uwais dengan wajah sok sedih.
"Kakak yang bikin aku begini,"
"Maafin aku, Arrida-ku,"
"Jangan manggil itu, ntar aku luluh!"
Uwais terkekeh kecil.
"Apa udah gak ada kesempatan buat aku nyatain perasaan aku? Apa aku udah gak penting buat kamu?"
"Iya, udah ga penting lagi! Kata aku ... Kita selesai, toh hubungan kita juga gak akan berjalan lancar, karna aku udah mutusin untuk nerima perjodohan ini."
__ADS_1
"Kamu yakin?"
"Sangat yakin!"
"Kamu udah tau orangnya?"
Arrida menggeleng cepat.
"Kalau dia jelek gimana?" goda Uwais.
"B*do! Gak mungkin ayah bunda salah milih buat anak gadisnya, pasti aku dipilihkan yang terbaik!"
"Ya udah, terserah kamu!" kata Uwais seakan rela jika Arrida dijodohkan dengan orang lain.
"Hah? Gitu aja?" Arrida kini yang terlihat kecewa.
"Lalu?" Uwais sok bingung.
"Kakak emang jahat, tau gak?" Arrida merajuk.
"Hmm?" Uwais bingung. Ia mengernyitkan keningnya.
"Kakak emang gak pernah mencintai aku!"
"Aku mencintaimu, Arrida ...."
"Bohong ...."
"Katakan, aku harus gimana? hm?"
"Kenapa kakak gak berusaha mempertahankan hubungan ini?"
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
...Makasih kakak readers...
...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...
...Makasih atas dukungannya, like, favorit n kommentnya...
...Sehat selalu ya kakak readers...
...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......
__ADS_1
...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...
...π₯°π₯°π₯°ππ»ππ»ππ»πππ...