Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
42. HUT Sekolah (2)


__ADS_3

Hari Rabu ini, diadakan lomba-lomba tradisional antar kelas diantaranya lomba makan kerupuk, memecahkan balon air dengan mata tertutup, memindahkan kelereng pakai sendok, meniup balon, lomba bakiak, lomba merias wajah temannya dengan mata tertutup, lomba memasukkan benang ke jarum dan lainnya.


Acara lomba-lomba sudah berlangsung sejak jam setengah delapan pagi, diikuti oleh semua kelas dari tiga angkatan. Mulai dari kelas sepuluh hingga kelas dua belas. Suasana sekolah begitu ramai dan bergembira, sangat mengasyikkan dan menyenangkan. Yang jelas, segala keseruan dan suka cita begitu terlihat di sekolah, karena tawa dan keceriaan menghiasi setiap wajah warga sekolah.


Saat ini di GOR sekolah diadakan lomba merias wajah teman dengan mata tertutup, suasana begitu ramai tak ada yang tidak tertawa melihat acara lomba tersebut. Karena wajah yang dirias bukannya menjadi cantik malah menjadi berantakan. Kini giliran Arrida yang dirias oleh Nana, keduanya mewakili kelas mereka mengikuti lomba tersebut. Terpaksa. Karena permintaan dari Arfan si ketua kelas. Sebab, rekan sekelasnya tidak ada yang mau ikut serta.


Ada enam pasang peserta yang sudah bersiap di tempatnya. Arrida dan Nana pun sudah siap. Arrida yang akan dirias, duduk di sebuah kursi yang sudah disediakan sementara Nana yang merias sudah berdiri tidak jauh dari hadapan Arrida. Begitu pula dengan pasangan peserta yang lain.


Mata mereka telah ditutup dengan kain.


Peraturan permainan, peserta yang akan merias diputar putar dulu badannya, agar bingung arah karena mereka harus berjalan ke sebuah meja yang diletakkan di tengah-tengah antara perias dan yang dirias. Kemudian berjalan ke arah yang dirias. Dan yang menjadi petunjuk adalah pasangannya. Mereka harus berteriak, agar pasangannya berjalan ke arah yang seharusnya.


Di meja itu sudah tersedia perlengkapan make-up mulai dari bedak , lipstik, eye shadow dan blush-on, masing-masing disediakan enam untuk enam pasang peserta lomba.


Peserta yang sudah berhasil sampai meja perlengkapan rias, segera mengambil salah satu yang akan diaplikasikan di wajah rekannya. Lalu mereka berjalan ke arah pasangannya yang akan dirias. Setelah diaplikasikan ke wajah rekannya, mereka akan kembali ke meja mengambil yang lain. Begitu seterusnya hingga bedak, lipstik, eye shadow dan blush on sudah teraplikasi di wajah pasangannya.


Arrida berteriak, agar Nana mendengar suaranya, sehingga Nana bisa berjalan menuju ke arahnya. Saat ini Nana sudah memulas wajah Arrida dengan bedak, asal-asalan, yang penting bedak sudah melekat di wajah Arrida. Ia tidak tahu bagaimana cemongnya wajah Arrida sekarang.


Kemudian Nana berbalik melangkah kembali menuju meja mengambil lipstik, lalu kembali lagi ke hadapan Arrida, dan memoleskan lipstik tersebut ke bibir Arrida dengan 'sempurna' menurutnya.


Untuk yang ketiga kalinya ia kembali ke meja dengan mata yang masih tertutup, dia mengambil acak blush-on dan kuasnya, lalu mengaplikasikan ke pipi Arrida.


Terakhir, dia mengambil eyeshadow, kemudian mengaplikasikannya pada kedua kelopak mata Arrida menggunakan jari, karena dia tidak berhasil mendapatkan kuas mini eye shadow. Selesai. Dan wajah Arrida tampak 'cantik' versi Nana ala kadarnya.


Setelah keempat perlengkapan make-up tersebut teraplikasikan di wajah pasangannya, barulah dinyatakan selesai. Peserta yang merias boleh membuka kain penutup matanya dan melihat hasil riasannya.


"Waw, Da!! Amazing banget ... pinter banget aku ngerias wajah kamu, nyampe badut aja kalah lho," ujar Nana sambil tertawa terpingkal-pingkal.


Arrida menepuk lengan Nana, ia tahu betul kalau wajahnya tampak kacau, bahkan wajah badut aja lebih baik dari wajahnya saat ini.


Nana mengambil cermin di meja, lalu menyerahkannya ke Arrida.


"Hahaha" Arrida pun tak tahan lagi melihat wajah 'cantik'nya. Ia pun ikut terpingkal. Sesaat kemudian, ia membiarkan wajahnya untuk dinilai oleh juri, dan mungkin dinikmati para penonton. Namun Arrida tidak peduli wajah 'cantik'nya menjadi bahan tertawaan para penonton. Malah dia tampak cuek dan percaya diri, dia merasa senang jika yang menonton ikut bahagia.


Setelah dinilai, Arrida dan Nana segera menepi dari tempat lomba, karena tempatnya akan dipakai peserta selanjutnya. Keduanya menghampiri Hani yang sudah menunggu tak jauh dari kerumunan penonton.


"Gak usah ditahan, Han, kalo mau ketawa, ketawa aja," kata Arrida saat mendekati Hani yang sepertinya dia sedang menahan tawanya melihat wajah 'cantik' Arrida.


Mendengar itu, Hani pun langsung tertawa.


"Sori, Da, dari tadi emang pengen ketawa, tapi takut dosa, hahahha," ledek Hani sambil tertawa renyah. Nana ikutan tertawa walaupun tadi di arena lomba dia sudah terpingkal, tapi sekarang dia masih terus ingin tertawa.

__ADS_1


"Wah wah, dasar temen gak ada akhlak, temen lagi 'cantik' gini malah diketawain," Arrida menepuk lengan keduanya.


"Untung gak ada kak Uwais, bisa ambyar ini mah," kata Arrida lega setelah melihat kanan kiri tidak menemukan Uwais.


"Iya, bakal malu setengah mati ya, Da," ledek Nana.


"Hmm malu banget, mau taruh dimana ni muka,"


"Dikantongin, Da," cletuk Hani memberi saran lucu. Arrida dan Nana pun kembali tertawa.


Mereka tidak menyadari kalau sejak tadi cowok yang sedang dibicarakan tengah memandangi Arrida sambil tersenyum lucu dan menggelikan. Uwais tadi memang tadi berdiri agak jauh dari kerumunan penonton namun masih bisa melihat Arrida dengan wajah 'cantik'nya.


"Ada pembersih wajah gak, Han, tadi Nana nanya panitia, mereka tidak menyediakan pembersih wajah,"tanya Arrida pada Hani.


"Gak lah, masa ke sekolah bawa-bawa pembersih segala" jawab Hani.


"Kali aja kamu sengaja baik hati bawain buat aku, karena tau hari ini ada lomba rias wajah,"


"Mana kita tau, Da, kalau bakal kamu yang jadi peserta lomba," kata Hani sambil mengedikkan bahunya.


"Iya seh, abisnya pada gak ada yang mau mewakili kelas, males ngedengerin Arfan ngerengek mulu tadi di kelas,"


"Iyalah jelas pada gak mau dirias kayak gitu, bukannya cantik malah 'cantiiiiik bangggeeet," Nana terkekeh.


"Udah, ke toilet aja, digosok pake air, siapa tau bisa ilang, atau minimal agak pudar," saran Hani.


"Ya udah aku ke toilet dulu ya, yang deket kelas, sekalian mau ke kelas,"


"Iya, ini kita ke kantin dulu ya, ntar nyusul ke kelas," kata Nana sambil menggandeng Hani


"Okke, bawain aku jus alpukat, ya," pinta Arrida sambil melangkah pergi meninggalkan Nana dan Hani.


Kemudian, dia pun ke toilet yang letaknya dekat dengan kelasnya. Dia berjalan dengan langkah sangat cepat bahkan bisa dibilang berlari kecil. Wajahnya menunduk, tanpa mempedulikan kanan dan kiri di sekitarnya.


"Heii!" Arrida terkejut kemudian berbalik memandang orang yang mencekal lengannya, ketika dia hendak masuk ke toilet.


"Hah, kak Uwais!" Arrida langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya


"Gak usah ditutup, dari tadi juga udah lihat!"


"Hah, emang tadi kakak lihat aku lomba?" tanyanya sambil menurunkan satu tangannya, sementara tangan satunya dia gunakan untuk menutup sebagian wajahnya, hingga yang terlihat hanyalah kedua netra dengan bulu mata lentiknya.

__ADS_1


"Hmmh," jawab Uwais singkat.


"Ayo aku bantu bersihkan wajahmu!" ajak Uwais sambil menarik lengan Arrida menuju kelasnya.


🌼


Kini keduanya ada di kelas Arrida, duduk dengan posisi berhadapan. Kemudian Uwais mengambil facial wipes dari saku celananya


Arrida terdiam. Ia tidak menyangka kalau Uwais membawa tisu pembersih wajah.


"Barusan aku ke mini market depan sekolah, aku tanya sama mbaknya, pake apa agar make up bisa cepet ilang, lalu mbaknya ngasih ini," kata Uwais menjelaskan bagaimana dia bisa membawa facial wipes, walaupun sebenarnya Arrida tidak menanyakannya secara langsung.


Arrida hanya mengangguk. Dia juga tidak sampai kepikiran dengan facial wipes.


"Udah, sekarang diem ya ... kita bersihkan," kata Uwais sambil mengangkat dagu Arrida, agar wajahnya terangkat sedikit menengadah, kemudian dia mengelap wajahnya dengan lembut menggunakan selembar tisu pembersih wajah yang baru saja dia ambil dari packnya.


Arrida memejamkan matanya, membiarkan Uwais membersihkan wajahnya. Jujur, perasaannya benar-benar tidak karuan, apalagi saat Uwais meraih tengkuknya sehingga wajahnya mendekat dengan wajah Uwais, jantungnya benar-benar berdetak lebih kencang dari biasanya, nafasnya tertahan sesaat, apalagi ketika wajahnya merasakan sentuhan lembut dari tangan Uwais walaupun menggunakan tisu.


Sebenarnya, Arrida bisa saja menolak, karena dia bisa membersihkannya sendiri, namun entah kenapa dia seakan memang sengaja mengijinkan Uwais untuk membersihkan wajahnya. Karena jauh dari dalam lubuk hatinya, dia menginginkan perhatian lembut seperti ini dari cowok pujaannya itu.


Dan sejujurnya, saat ini, Uwais pun merasakan hal yang sama, perasaannya tidak menentu apalagi dengan dekatnya jarak wajah mereka membuat Uwais menelan salivanya susah payah. Ia benar-benar menahan segala rasa yang ada, yang sedang membuncah di hatinya.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


Hai kak readers


sehat selalu ya


makasih udah setia baca kisah cinta Arrida dan Uwais


makasih atas dukungannya ya 😘😘😘


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


Hai kak readers jangan lupa mampir juga ke novel karya sahabatku kak CovieVy, dijamin seru judulnya Akhir Pernikahan Dini


jangan lupa vote like komment ya😘😘😘



Happy Reading yaaa😘😘😘

__ADS_1


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


__ADS_2