
Semenjak sore, Uwais, Nana, Hani, dan Roni sudah berkumpul di rumah Arrida, mereka berencana akan ke alun-alun kota untuk nonton konser menggunakan mobil.
"Ini beneran jadi mau pergi ke konser? kayaknya dari tadi mendung deh," Uwais memastikan akankah mereka pergi atau tidak, karena keadaan cuaca tampaknya gelap, seperti akan turun hujan.
"Biasanya ada pawang kan," sahut Roni.
"Kalo ternyata pawangnya ditolak alam gimana?" ledek Uwais sedikit terkekeh.
"Ya udah, nanti pergi aja dulu, kalo hujan kita bubar, kita nonton film aja gimana?" Adnan memberi saran.
"Iya deh, ngikut aja," Hani berkomentar.
"Boleh bang, ide bagus itu," Nana menyetujui ide Adnan untuk pergi ke bioskop jika ternyata hujan turun saat konser.
πΌ
Selepas Maghrib mereka berangkat menuju alun-alun kota. Tampak sudah ramai, acara konser memang dimulai pukul 19.00 waktu setempat. Sebelumnya, memang sempat gerimis, namun terus berhenti, sepertinya pawang hujan yang dikatakan Roni sudah bernego dengan alam. Mungkin.
Keenamnya berdiri tidak terlalu jauh dari panggung. Mereka berada di tengah-tengah kerumunan massa yang sedang menyaksikan konser. Ternyata disana juga mereka bertemu teman-teman satu sekolah bahkan satu kelas. Mereka mulai asik menikmati sebuah lagu yang dinyanyikan band awal. Kemudian ketika band Andri dan Ical tampil, Arrida, Nana dan Hani bergerak maju, agar bisa melihat dengan dekat rekannya tampil. Mereka bahagia apalagi ketika lambaian tangan mereka dibalas oleh Andri sang vokalis. Ketiganya juga sampai ikut berjingkrak mengikuti irama lagu yang dinyanyikan Andri dan kawan-kawan.
"Segitunya ngelihatinnya ... seneng banget ya," Kata Uwais di dekat telinga Arrida, dengan nada cemburu yang tertahan penuh penekanan, ia tidak suka saat Arrida membalas tatapan yang diberikan sang vokalis.
"Iya, lagunya bagus kan kak! Aku, Nana ma Hani sering banget ngedengerin mereka nyanyi kalo di kelas, anak-anak sekelas juga pada suka!" Kata Arrida sedikit berteriak karena mengimbangi suara musik.
Uwais menarik nafas panjang. Ternyata gadis disampingnya ini tidak peka, seperti tidak merasakan jika dirinya sedang cemburu. Uwais bergerak maju tepatnya mengambil posisi dihadapan Arrida. Ia sengaja melakukannya untuk menghalangi gadis itu agar tidak melihat pada sang vokalis. Ketika kepala Arrida ke kanan, Uwais segera menghalangi, begitupun saat kepalanya ke kiri, Uwais masih saja menghalangi.
Arrida menghentikan lompatannya, dia tidak lagi berjingkrak, tatapan tajamnya yang menyipit mengarah pada Uwais.
"Kakak apaan sih, awas ih... aku gak lihat!"
"Gak boleh, kamu gak boleh ngelihatin si vokalis apalagi membalas senyuman ataupun lambaian tangannya!!!"
"Ish, ini kan nonton konser kak, namanya nonton ya pasti ngelihat dong, pake mata!"
"Kamu nikmatin lagunya atau orangnya?"
__ADS_1
"Dua-duanya lah,"
"Haish, gak boleh!"
"Lho... kan lihat performanya kak."
"Cukup nikmatin lagunya! Gak boleh orangnya!!"
"Aish, ya gak seru kak!!!" teriak Arrida sedikit merengek.
"Lihat aku aja ya,"
"Gak mau!" Arrida mulai mode cemberut. keduanya terdiam.
"Ya udah tapi jangan lihatin vokalisnya terus ya," Uwais mulai mengalah. Ia tidak tega melihat wajah memelas gadisnya itu. Ia pun kembali berdiri di samping Arrida.
Tapi ternyata Arrida malah maju kemudian memposisikan tubuhnya di hadapan Uwais.
"Kakak jangan marah ya... aku akan nikmati lagunya, dan menikmati kakak aja,"
Arrida mengangguk lalu menekan pipinya di telapak tangan Uwais.
"Sudah, gak papa, kamu lihatin panggung sana, lihat vokalisnya juga gak papa, asal jangan membalas apapun!" Kata Uwais memerintah. Arrida pun mengembangkan senyumannya.
Dan akhirnya mereka menikmati konser dengan menyenangkan. Namun ketika band utama mulai tampil, gerimis mulai turun.
"Mau udahan apa gimana?" Tanya Adnan berteriak agar kelimanya mendengar
"Masih gerimis bang, ntar kalo udah gede banget baru kabur," Roni berkomentar asal, karena dia sangat menikmati lagu yang dibawakan band utama.
Adnan mengangguk setuju.
Tiba-tiba ketika band utama akan menyanyikan lagu kedua, angin kencang berhembus. Sangat kencang! Bahkan lebih terlihat seperti angin badai, karena tiang panggung beberapa kali sempat terlihat miring, posisinya seperti akan ambruk.
Dan benar saja, ketika petir menggelegar, serta hujan turun dengan sangat derasnya, di saat yang sama, tiba-tiba saja tiang panggung ambruk, dan listrik padam. Keadaan kota menjadi gulita seketika. Para penonton panik, mulai terdengar jeritan, semua mencari tempat berlindung agar aman, saling berlarian tak karuan bahkan saling menabrakkan diri.
__ADS_1
Arrida kebingungan, tadi ketika kejadian ambruknya tiang panggung dan listrik seketika padam, dia ada yang menabraknya, sehingga ia terdorong, menjauh dari tempatnya tadi berdiri, kemudian ia terhimpit, selanjutnya terbawa begitu saja tubuhnya hingga ia sempat terjatuh dan kakinya ada yang menginjaknya. Ia berusaha bangkit walau dengan sangat susah payah, karena beberapa orang ada yang tidak sengaja menabraknya.
Dengan menahan segala rasa sakit di kakinya, dia berlari, hingga menemukan tempat yang dirasa aman. Agak jauh dari kerumunan, di ujung lapangan alun-alun, di pinggir taman bunga mini. Panik. Takut. Kalut. Hujan deras masih saja mengguyur, bahkan petir seakan tidak berhenti menggelegar. Sambil memeluk tubuhnya yang basah Arrida menangis ketakutan dan menahan sakit di kakinya. Dia bersandar di pagar taman bunga tersebut.
Keadaaan masih saja gulita, suara teriakan masih juga terdengar. Namun Arrida masih sendirian. Dia tak bisa menghubungi siapapun karena saat jatuh tadi ponselnya pun ikut terjatuh, dan kemungkinan besar sudah hancur karena diinjak-injak.
πΌ
Uwais mencoba menghubungi Arrida berkali-kali. Hasilnya nihil. Ia mulai cemas dan panik. Saat ini dia juga sendirian. Tapi dia lebih mengkhawatirkan gadis kesayangannya itu. Hanya Arrida yang ada dalam benaknya saat ini, apalagi setelah mengetahui Hani, Nana, Roni dan Adnan dalam keadaan aman dan baik-baik saja walaupun mereka terpisah. Mereka bisa saling menghubungi dengan ponsel mereka.
Mengetahui Arrida tidak bisa dihubungi, Adnan juga ikut panik. Maka diputuskannyalah Nana dan Hani menuju tempat dimana mobil di parkir, sementara Uwais, Adnan dan Roni akan mencari Arrida. Dengan bantuan senter dari ponsel, mereka pun mencari keberadaan Arrida.
Terdengar suara sirine ambulans dan mobil polisi, keadaan alun-alun menjadi tidak terlalu gelap, karena ada cahaya dari lampu mobil dan motor, juga cahaya dari ponsel beberapa orang di sekitar.
Arrida memindai sekitar berharap bisa menemukan seseorang yang dia kenali, siapapun, walaupun dalam keadaan remang cahaya. Namun nihil.
Sehingga tak lama kemudian, ada satu cahaya, seperti dari ponsel, mendekat ke arahnya. Arrida bangun dari duduknya dengan sangat pelan sambil menahan sakit di kakinya, ia berdiri ingin memastikan siapa yang berjalan ke arahnya diantara lalu lalang orang-orang. Tangisnya pecah seketika.
"Cahaya itu!" gumam bathin Arrida
"Aku akan selalu menjadi cahaya untukmu Ar..." Arrida teringat kembali kata-kata Uwais semalam ketika mati lampu di panti asuhan
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
Makasih kakak kakak reader
Udah mampir... udah mendukung
makasih like vote dan favorit nya
juga komennya
Sehat selalu ....
Semoga terhibur ya
__ADS_1
π₯°πππ»