
"Janji," ucap Uwais pasti.
Arrida dan Uwais tersenyum saling menatap. lembut dan hangat. Getaran aneh yang indah pun kembali menyapa keduanya.
🌼
"Kamu Uwais, kan?" tanya seseorang yang tiba-tiba menghampiri Uwais dan Arrida. Ada tiga orang lain lagi berjalan di belakangnya.
Uwais memandang tajam. Tatapannya
menyelidik, memerintahkan otaknya bekerja cepat agar bisa mengenali orang-orang yang ada dihadapannya. Tapi nihil. Dia sama sekali tidak mengenali keempatnya.
"Iya, saya Uwais," jawabnya pasti.
Entah angin apa, membuat orang tersebut, yang memiliki wajah sebenarnya cukup tampan namun auranya terlihat sangar, tiba-tiba langsung mendekat tepat di hadapan Uwais menarik kerah baju seragam Uwais hingga membuat Uwais berdiri.
Arrida mulai panik. Dia terkejut, keadaan seperti apalagi yang harus dia hadapi.
"Maaf, ada apa ya?" tanya Uwais tenang. Tidak terlihat sedikit pun kecemasan apalagi ketakutan di wajahnya. Sangat kalem. Pintar sekali Uwais mengendalikan emosinya.
"Ada apa - ada apa!!!" ujar orang yang sedang menarik kerah bajunya dengan nadanya yang tinggi.
BUGH
Satu tinju melayang tepat di pipi kanan Uwais. Membuat Uwais tersungkur. Ada cairan berwarna merah dan kental keluar dari sudut bibir Uwais.
"Ini untuk adik gue!" kata pemuda itu.
"Heiii!!! " Arrida memekik, dia bangkit dari duduknya bermaksud untuk menolong Uwais. Namun satu diantara ketiga orang yang berdiri tidak jauh di tempat itu, menarik lengan Arrida.
Uwais yang sempat tersungkur, segera mengembalikan keseimbangan, ia bangkit, sambil mengusap darah yang keluar dari mulutnya.
"Ada apa ini? Apa salah saya?!!!" Nada Uwais mulai meninggi. Ia mulai tidak bisa menerima begitu saja perlakuan orang yang kini berdiri dihadapannya.
Tanpa menjawab, ia malah melayangkan tinjunya lagi. Dan hampir saja mendarat di pipi yang sama kalau saja Uwais tidak segera menahan lengan bawahnya yang cukup kekar itu. Bahkan bukan hanya ditahan tapi juga diputar oleh Uwais hingga si mpunya tangan merasa kesakitan.
__ADS_1
Ketiga rekannya segera menolongnya. Yang dua orang menarik Uwais dan yang satunya berusaha melepaskan cengkeraman tangan Uwais di lengan orang yang hampir saja meninju Uwais.
Sambil mengusap-usap lengan yang berhasil diputar oleh Uwais, orang tampan yang terlihat sangar ini menghampiri Uwais, lalu meninjunya dan memukuli perutnya berulang kali, juga menendang kedua kakinya, Uwais hanya bisa bertahan, kedua tangannya dicengkeram erat oleh dua orang rekan si tampan yang sangar.
Ia hanya mampu menahan rasa sakit, di pipi, perut dan kakinya, bahkan sepertinya luka diperutnya yang masih belum sembuh kembali terkoyak dan mengeluarkan darah. Dia hampir tidak mampu melawan.
Arrida panik. Ia teringat dengan tongkat pramuka yang bersandar di tembok halte. Ia pun segera mengambilnya. Lalu tanpa pikir panjang lagi, ia memukulkannya ke kepala orang tampan yang sangar itu. Berkali-kali hingga si tampan sangar sempoyongan memegangi kepalanya, sementara ketiga orang rekan si tampan sangar bereaksi. Rekan yang dua segera melepaskan cengkeraman tangan mereka di kedua lengan Uwais dan yang satunya lagi berusaha mengelus kepala si tampan sangar.
Ketiganya hendak mendekati Arrida, tetapi Arrida tidak tinggal diam. Dia mengayunkan tongkat pramuka itu dengan barbar dan mengarahkannya ke kepala ketiganya sambil berteriak minta tolong.
"Tolooooong, ada pengeroyokan!!! Tolooooong!! Tolooooong!!" Suaranya lantang dan nyaring, sampai keempatnya mendadak panik. Sambil berteriak, tangan Arrida tidak berhenti mengayunkan tongkat ke arah kepala mereka.
Sambil mengusap-usap kepala mereka, keempatnya segera pergi melarikan diri karena melihat dua satpam sekolah berlari ke arah mereka. Akhirnya terjadi pengejaran antara keempat orang yang memukuli Uwais dan dua orang satpam sekolah.
🌼
Uwais limbung, ia terjatuh. Ada rembesan darah di bagian sisi perutnya tembus dari baju seragam.
Arrida segera menolongnya, mendekap Uwais dipangkuannya. "Bertahan ya, Kak, luka Kakak berdarah lagi!" kata Arrida dengan segala kecemasan di wajahnya.
Entahlah ia semakin mengagumi sosok Arrida yang menurutnya tangguh. Gadis mungil bermata bulat itu bisa menghadapi orang-orang tadi hanya dengan bermodalkan tongkat pramuka. Baginya tidak ada yang lebih keren dari gadis yang sedang mengkhawatirkannya saat ini. Ah, andai Arrida bisa mendengar degup jantungnya yang semakin tak karuan, mungkin dia akan lebih nyaman berada dalam dekapannya saat ini. Merasakan betapa pedulinya gadis itu padanya.
Arrida sempat mengernyit mendengar kata hebat, namun gadis itu tidak menghiraukannya.
"Gak usah bercanda!" kata Arrida menetralisir kecemasannya. Ia mencoba untuk tetap tenang, walau sebenarnya jauh didalam hatinya saat ini, dia ingin menangis dan menjerit, melihat cowok pujaannya dalam keadaan terluka. Cairan bening yang menggenang di kelopak matanya saja sempat meluncur sebentar yang dengan cepat ia usap. Ia tak ingin cowok tampan pujaannya itu mengetahuinya. Padahal sebenarnya Uwais sempat melihat Arrida mengusap air matanya.
"Aish, galaknya!" gumam Uwais pelan namun samar- samar masih bisa terdengar di telinga Arrida.
Arrida melirik tajam ke arah Uwais lalu menarik nafas panjang. Sempat-sempatnya cowok ini menggodanya.
"Tunggu, biar aku hubungi seseorang!" kata Arrida.
Bertepatan dengan Arrida yang akan mengambil ponselnya untuk meminta pertolongan, datanglah sebuah mobil yang berhenti di samping mereka. Mobil Fariz.
"Ya ampun, Dek, kenapa ini?" Fariz telah keluar dari mobilnya. Dengan rasa panik dan cemasnya dia segera menghampiri Uwais.
__ADS_1
Uwais menggeleng lemah. Karena dia juga memang tidak mengetahui apa yang sebenarnya sudah terjadi sehingga membuat dia sampai harus dipukuli.
"Mas, kak Uwais terluka lagi, cepetan bawa ke rumah sakit!" pinta Arrida sedikit memerintah.
"Iya iya!" Fariz langsung mengiyakan. Ia pun langsung membawa Uwais ke mobil, diikuti oleh Arrida.
🌼
Uwais sudah berada di ruang penanganan pasien.
Arrida dan Fariz menunggu di koridor.
"Ceritakan, apa yang terjadi!" pinta Fariz pada Arrida.
Kemudian gadis itu menceritakan semua yang dia ketahui.
"Kamu tunggu disini ya, Dek, sampai Uwais selesai ditangani, mas mau kembali ke sekolah, mau mencari informasi sama pak satpam, siapa tau mereka ada yang ketangkap, ntar, kamu pulangnya mas antar!"
Arrida mengangguk, sambil melepas kepergian Fariz. "Eh, tunggu dulu, mas Fariz bilang apa barusan? Dek? Apa mas Fariz benar-benar menganggap aku adik iparnya?" gumam bathin Arrida.
Gadis itu hanya mengulum senyum, hatinya saat ini sedang berbunga-bunga, ia merasa bahagia.
🌼
Akhirnya Uwais harus dirawat, dia terbaring lemah. Sempat memejamkan matanya, sebelum mendengar pintu ruangan dibuka oleh gadis manis pujaan hatinya.
Pandangannya beralih ke arah gadis yang tengah berjalan mendekatinya.
"Gimana, Kak?" tanya Arrida yang sudah berdiri di samping tempat tidur.
Uwais langsung menampilkan senyumnya yang khas, limited edition. Dia tidak ingin membuat gadisnya menjadi semakin khawatir.
"Ih kak, ditanya malah cuma senyum," Arrida sempat menepuk lengan atas Uwais.
"Aku baik Ar, emang kamu gak paham dengan arti senyumku?"
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸🌸...