Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
67. dekapan pertama


__ADS_3

Uwais mengangkat tinggi-tinggi ponselnya. Berharap Arrida bisa melihatnya dan mengerti isyarat yang diberikan oleh Uwais melalui cahaya senter dari ponselnya. Ia berjalan lurus mengarah ke taman bunga di ujung lapangan alun-alun.


Dalam keremangan cahaya, dan kekacauan orang-orang yang lalu lalang, akhirnya netranya menangkap sosok gadis yang sangat disayanginya sedang berusaha bangkit dari duduknya kemudian menegakkan tubuhnya hingga berdiri sempurna menatap ke arah cahaya yang dia bawa.


Dengan jalan yang sedikit pincang, Arrida melangkah mendekati Uwais. Wajahnya terlihat meringis menahan sakit, dan sepertinya air mata gadis itu juga tengah menetes ke pipinya diantara air hujan yang membasahi wajahnya. Uwais yang melihat itu, segera melangkah cepat agar gadis itu tidak perlu bersusah payah mendekat ke arahnya.


Kini keduanya sudah saling berhadapan. Hanya berjarak beberapa senti. Saling menatap penuh arti. Benar saja, Arrida sedang menangis, ia terisak, buliran kristal bening dari matanya turun bersamaan dengan turunnya air hujan.


"Aku ... tau ... ka-lau ... kakak pas-ti a-kan ... datang" tangis Arrida.


"Kamu gak papa?" kata Uwais panik, ia menahan tangisnya karena dia sungguh-sungguh tidak tega melihat keadaan gadis kesayangannya dalam keadaaan seperti itu.


Arrida mengangguk, tangannya mengusap pangkal hidungnya yang basah karena menangis.


"Aku takut banget kak, hiks," kata Arrida mencurahkan segala yang ia rasakan.


"Aku jatuh... kakiku ada yang nginjek... ponselku ilang.... aku takut banget... aku terus lari sampai disini, menunggu... hingga aku lihat ada cahaya kesini... hiks," Arrida menarik cairan yang keluar dari hidungnya karena menangis. Lalu sekali lagi, tangannya mengusap pangkal hidungnya.


Uwais menelan salivanya dengan sangat berat mendengar penuturan gadis kesayangannya itu. Ada yang nyeri di ulu hatinya karena tidak bisa melindunginya. Tangannya pun terulur meraih kepala Arrida lalu didekatkan ke dadanya, kemudian mendekap tubuh gadis itu sangat erat.


"Tenang ya... Udah ada aku, kamu akan baik-baik saja, maaf.. maaf karna aku terlambat... maaf, karena aku gak bisa jaga kamu." kata Uwais sambil tangan satunya yang tidak memegang ponsel mengusap punggung Arrida yang basah, kemudian mengusap rambut gadis itu yang sudah basah terkena guyuran air hujan, lalu menekan kepalanya agar bersandar erat di dadanya.


Arrida tak menjawab dengan kata-kata, kepalanya hanya mengangguk didalam dekapan Uwais. Kedua tangannya mengeratkan dekapan di tubuh Uwais. Hangat, tenang dan merasa aman terlindungi. Dan saat ini, rasa takutnya sirna begitu saja.


"Makasih kakak udah menemukanku."


"Hmm," Jawab Uwais singkat. Ia masih mendekap gadis itu erat. Hening sejenak. Seakan memberi jeda untuk saling meluapkan perasaan mereka dalam dekapan, hingga kedua hati itu menjadi tenang.


"Kakimu sakit banget ya?" Tanya Uwais setelah melepaskan dekapannya.


Arrida mengangguk berkali-kali, mengisyaratkan kalau kakinya benar-benar sakit.


"Bentar aku hubungi bang Adnan dan lainnya, ngasih tau kalau kamu sudah ketemu."


🌼


"Ayo kita ke tempat parkir, Nana dan Hani sudah di sana, nanti bang Adnan dan Roni nyusul." Kata Uwais setelah menutup panggilannya ke Adnan, Roni dan Hani.


"Iya ... ! tapi pelan-pelan jalannya ya kak,"


Uwais menatap wajah Arrida dan tersenyum. Ia serahkan ponselnya ke tangan Arrida agar gadis itu memegangnya, kemudian ia membelakangi Arrida dan berjongkok, memberi isyarat agar Arrida naik ke punggungnya.


"Tempat parkirnya jauh kak, nanti kakak capek," Arrida memberi alasan berusaha menolaknya.


"Gak usah nolak, ayo cepet!"


Walau ragu-ragu, akhirnya Arrida naik ke punggung Uwais.


"Kamu terangi jalannya ya ...." perintah Uwais pada Arrida. Ia sudah menggendong gadis itu, lalu berjalan menuju tempat parkir mobil yang jaraknya cukup jauh dari taman bunga, melewati keributan dan kekacauan orang-orang yang lalu lalang di sekitar alun-alun setelah peristiwa ambruknya panggung konser.

__ADS_1


"Kak,"


"Hmm,"


"Kalau aku hilang lagi, kakak harus menemukanku ya,"


"InsyaaAllah ...."


"Beneran kak, kakak harus serius cari aku."


"Kamu diam di tempatmu, jangan kemana-mana, aku pasti akan datang, menemukan keberadaanmu,"


Arrida mengerti. Ia mendaratkan kepalanya di pundak Uwais dan mengeratkan dekapannya.


"Kak,"


"Hmmm,"


"Kira-kira kejadian tadi ada korban jiwa gak ya?"


"Kita lihat aja beritanya nanti," jawab Uwais. "Yang jelas, ada yang terluka,"


" Kira-kira berapa orang ya?"


"Aku baru tau satu.... kamu,"


Arrida terkekeh.


"Kalau aku pegang kakak ...Nanti kakak gak jadi nyari aku dong ...."


Uwais tersenyum mendengar penuturan Arrida.


"Jangan bikin cemas lagi ya," Kata Uwais memohon


"Kakak genggam aku ya," Kata Arrida juga memohon.


"Okke aku akan selalu genggam tangan kamu, Ar," Uwais memberi keyakinan hati pada Arrida.


" Makasih, Kak"


"Hmm,"


Akhirnya mereka pun sampai di tempat parkir. Nana dan Hani terlihat panik dengan keadaan Arrida. Adnan dan Roni datang sesudahnya hampir bersamaan.Mereka pun segera pulang menuju rumah Arrida.


Pak Arthur dan Bu Sofia berusaha tenang, saat dikabari oleh Adnan. Oleh karenanya mereka tidak terlihat panik ketika keenamnya datang dan melihat kondisi Arrida.


"Kalian berempat nginep aja disini, nanti Bunda yang ngijinin sama orang tua kalian. Hujan masih sangat deras! Bunda gak bisa kalo harus mengijinkan kalian pulang dalam keadaan seperti ini"


"Biar abang anter mereka aja," Adnan mengusulkan diri

__ADS_1


"Oh ya sudah kalo gitu, terserah kalian,"


🌼🌦️🌼


Siang ini Uwais datang kembali ke rumah Arrida untuk mengambil motornya yang semalam sengaja ditinggal.


"Aku sekalian pamit Ar... aku besok siang ada mata kuliah," Ucap Uwais pada Arrida di teras rumahnya, tampaknya kaki gadis itu sudah lebih baik dari waktu tadi malam. Uwais sengaja memilih berpamitan dengan Arrida di teras, setelah sebelumnya mereka berbincang lumayan lama bersama pak Arthur dan bu Sofia.


"Iya, kakak hati-hati disana, jaga kesehatan!"


"Kamu juga, hati-hati, dan jaga hati!"


Arrida hanya tersenyum dengan kata terakhir yang disampaikan oleh Uwais.


"Kenapa senyum?" tanya Uwais saat melihat gadisnya itu hanya tersenyum.


"Gak papa, kakak juga jaga hati!"


Uwais tersenyum sambil menatap Arrida.


"Nah tuh, kakak juga hanya senyum kan dengan kata jaga hati,"


Uwais tertawa kecil.


"Aku ga bisa nganter ke stasiun kak, dan mungkin kita belum bisa komunikasi seperti biasanya,"


"Gak papa," Uwais mengangguk mengerti.


"Oh ya kak, makasih buat yang semalam,"


"Mau berapa kali kamu ngucapin makasih, hm?"


Arrida nyengir memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih.


"Aku pulang dulu ya, Ar ..." Akhirnya Uwais benar-benar pamit.


"Iya," Arrida mengiyakan. Namun hatinya seperti tidak rela. Dia masih sangat menginginkan Uwais bisa berlama-lama dengannya. Dia masih ingin membicarakan perasaannya atas kejadian semalam. Namun, melihat Uwais tak ada respon diapun mengurungkan niatnya.


"Flat banget sih .. emang kak Uwais gak ngerasain apa-apa gitu saat dekapan semalam?Itu dekapan pertamaku." gumam bathin Arrida. Ia senyum-senyum sendiri mengingat kejadian semalam.


"Hei... udah senyum-senyumnya... mikir apa sih?" tanya Uwais sambil menyentil kening Arrida.


"Aww," Arrida tersadar dari lamunannya, ia mengusap-usap keningnya yang tadi di sentil oleh Uwais.


"Gak ada, ya udah, kakak pulang sana, trus siap-siap... Ntar kabari aku lewat nomer bang Adnan yaaa,"


"Hmm," jawab Uwais singkat. " Aku pergi dulu ya, Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam," jawab Arrida

__ADS_1


Dan akhirnya Uwais pun pergi. Hanya seperti itu, tak ada salaman perpisahan apalagi dekapan perpisahan. Hanya lambaian tangan perpisahan, itupun ketika ia hendak melajukan motornya. Arrida terdiam melihat kepergian Uwais. Ada perasaan kecewa bercampur sedih. Namun bagaimanapun, ia sangat bersyukur bisa menjalani dua hari yang indah saat memasuki usianya yang ke tujuh belas tahun. "Makasih ya Allah," gumamnya lirih.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_2