Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
58. Kepiting


__ADS_3

Arrida mengangguk, ia juga ingin mengistirahatkan sejenak tubuhnya, lebih tepat kakinya. Sembari ditolong oleh Uwais, ia berusaha untuk bangun. Namun sayang, sakit di kakinya masih sangat terasa.


Rasanya untuk melangkah sangat tidak memungkinkan.


"Ayo!" Uwais jongkok tepat dihadapan Arrida. Ia memerintahkan agar Arrida mau naik ke punggungnya. Ia bermaksud menggendong Arrida.


"Eh" Arrida bingung.


"Ayo, gak papa" kedua tangan Uwais malah terulur ke belakang, meraih kedua kaki Arrida untuk mendekat ke punggungnya dan bisa mendaratkan tubuhnya di punggung Uwais.


Hup


Arrida kini sudah berada di punggung Uwais. Memeluk erat tubuhnya, merasakan kehangatan dan wangi parfum tubuhnya. Begitupun Uwais, ia memang merasakan kehangatan. Namun ada perasaan lain yang lebih membuat dia tidak tenang, yaitu perasaan khawatir. Entahlah, walau hanya kakinya Arrida yang terkilir, tapi dia sangat sangat khawatir, ia tidak ingin gadis kesayangannya itu kenapa-kenapa.


Mereka sampai di dekat sebuah pohon kelapa yang tidak berbuah. Keduanya duduk bersandar di pohon tersebut. Uwais segera memeriksa kaki Arrida.


"Sakit banget ya?"


Arrida mengangguk sambil meringis ketika Uwais menekan punggung kakinya.


"Ini juga ada luka bekas capit" Uwais menunjuk luka di tumit Arrida...nyesel nggak Ar?"


"Apa?"


"Tadi malah kamu ngasih ide untuk melepas sepatu dan dititipkan di perahu"


"Di pantai itu kan... paling asik gak pakai alas kaki kak" Arrida membela diri. Uwais pun hanya melirik menatap kedua mata Arrida, seakan menyetujui ucapan gadis itu.


"Sayang gak ada kotak P3K disini... kita pulang aja ya... kita tunggu Pak Ahmad datang... mudah-mudahan di rumahnya ada obat dan es, biar kita bisa ditangani dulu kaki kamu"


Arrida mengangguk setuju, dan Uwais segera menghubungi pak Ahmad. Namun sepertinya pak Ahmad tidak merespon panggilan dari Uwais, ia pun mengetikkan sebuah pesan untuk pak Ahmad.


"Gak ada jawaban ya kak?"


"Iya, mungkin pak Ahmad lagi gak pegang hape, mudah-mudahan, dia segera baca pesan, sabar ya" Uwais mengusap-usap lembut kaki Arrida Ia tidak berani untuk memijatnya, karena dikhawatirkan malah terjadi kesalahan.


"Kak, aneh ya, kenapa kepiting bisa keluar siang-siang kayak gini? bukannya ... kepiting itu keluarnya kalau saat-saat matahari terbit atau terbenam ya?


"Mungkin ini kepiting spesial" Uwais terkekeh. Begitupun Arrida.


"Kenapa gak kakak tangkap, lalu kita masak, bakal jadi menu spesial kan" Canda Arrida yang disambut tawa kecil dari Uwais.

__ADS_1


"Udah kamu istirahat ya"perintah Uwais


"Untuk apa kak, aku kan gak sakit?" kata Arrida sambil mengernyitkan keningnya.


"Mungkin aja kamu lelah"


"Gak usah berlebihan kak, yang sakit itu kaki aku, bukan badan aku"


"Sama aja, kaki itu bagian dari badan kamu kan"


"Nggak lah, aku kan gak merasa pusing"


"Terserah kamu... tapi kamu harus janji ya, kamu gak boleh terluka atau sakit apalagi pas aku gak bisa nemenin kamu"


"Hei kak, gak ada orang yang mau sakit ataupun terluka, dan kalaupun itu terjadi yaaa terjadilah, nikmati aja prosesnya"


"Ar, aku gak mau kamu kenapa-kenapa, apalagi saat aku jauh dari kamu"


"Oh kak, gak usah posesif gini ... ini bikin aku semakin merasa teristimewa"Gumam bathin Arrida


"Udah lah kak, InsyaaAllah aku baik-baik aja ya"


"Aku percaya itu" Uwais mencoba untuk yakin pada ucapan Arrida.


"Aku kuliah di universitas B, ambil ilmu lingkungan"


"Hei ... itu kan kampus favorit ku, gak tau kenapa aku pengen banget kalo besok bisa kuliah di kampus B"


"Benarkah?"Uwais tak percaya


"Iya kak, serius... kalo gak percaya tanya bang Adnan... aku tau kampus itu, waktu kelas enam, waktu bang Adnan lagi milih-milih kampus, dan entah kenapa ketika itu... aku langsung tertarik pada kampus B, bang Adnan nyampe bingung, siapa yang mau kuliah malah aku yang heboh waktu itu... pengen cepet-cepet lulus SMA, biar cepet kuliah di kampus B.... tapi sayang abang malah lebih milih kampus yang di dalam kota, katanya biar bisa jagain bunda ma aku"


"Berarti kalau kamu jadi ke kampus B, kamu akan jauh dari bunda, abang dan ayah?"


"Iya ... tapi ayah, bunda, abang udah tau kok, mereka dukung-dukung aja, kalau aku mau kuliah disana"


Uwais tersenyum bahagia. Wajah tampannya semakin bersinar.


"Kenapa kak, kok senyum gitu?"


"Aku tunggu kamu di kampus B, dua tahun lagi ya"

__ADS_1


Mendengar penuturan Uwais, Arrida pun langsung menampilkan senyum indahnya disertai anggukan.


🌼


"Maaf telat, tadi abis dari tukang benerin mesin perahu dulu.... Katanya udah bener mesinnya, jadi saya langsung ambil" kata Pak Ahmad menjelaskan. Ia baru saja datang dan langsung menghampiri Uwais dan Arrida.


"Iya pak, gak papa... kami juga sebenarnya masih pengen lama disini, belum sempet berkeliling juga, tapi ni ... dia dapet kecelakaan kecil"kata Uwais menjelaskan kejadian


"Kenapa?"


"Kakinya terkilir jatuh dari batu karang gara-gara menghindari kepiting"


"Hah... ada kepiting muncul?" Pak Ahmad merasa tak percaya.


"Iya pak" jawab Uwais singkat


"Wah ini luar biasa" pak Ahmad berkomentar. Ia malah mengambil tempat untuk duduk dihadapan keduanya


Arrida dan Uwais saling pandang. Mereka tidak mengerti kenapa ada kepiting merupakan hal yang luar biasa?


"Nih nak Uwais dan nak Rida, bapak mau bilang entah ini mitos atau kepercayaan... yang jelas penduduk di kampung nelayan sini banyak yang percaya..."


Arrida dan Uwais mulai serius mendengarkan.


"Kepercayaan seperti apa pak?"tanya Uwais mulai penasaran


"Kalau tiba-tiba muncul kepiting saat kita berada di pulau ini, maka keberuntungan akan menghampiri kita... orang yang sakit akan sembuh, yang sedih pasti akan bahagia, yang belum menikah akan menikah, yang sudah menikah belum punya anak akan dikaruniai anak laki-laki dan perempuan, yang sudah punya anak akan lancar rezekinya dan makin harmonis sampai maut memisahkan, tapi kalian harus janji dulu kepercayaan ini jangan sampai keluar, cukup kalian saja"


"Maksudnya pak?" Uwais tidak mengerti.


"Cerita ini cukup sampai kalian saja, jangan sampai keluar... kalau kalian menceritakan pada orang lain di luaran sana, maka akan ada hal buruk yang terjadi pada kalian juga pada bapak, bahkan keberuntungan atau hal baik itu tidak akan pernah terjadi"


"Wah benar-benar kepercayaan yang unik" Arrida penasaran.


"Kalian janji ya"


Arrida dan Uwais kembali saling memandang. Kemudian mengangguk sambil tersenyum kikuk ke arah pak Ahmad. Mereka sebenarnya tidak percaya hal yang seperti itu. Lihat saja, katanya yang sakit akan sembuh, lah ini, Arrida yang sehat-sehat saja, malah sakit, kakinya luka karena capit kepiting dan terkilir.


"Pasti kalian gak percaya, tapi kami yang penduduk sini sangat menghormatinya.... karena beberapa kejadian memang terjadi"


Arrida dan Uwais kembali mengangguk. Merasa tidak ingin mengecewakan pak Ahmad.

__ADS_1


...🌸🌸🌸🌸🌸...


.


__ADS_2