
Sore ini di panti asuhan. Semua sedang mempersiapkan untuk acara berbuka puasa bersama. Arrida dan keluarganya juga Uwais sudah ada di panti sejak Ashar.
" Kakak, kenapa kakak galak itu ngikut lagi?" Melati menyapa Arrida sambil menunjuk Uwais yang berada agak jauh dari tempat mereka, tepatnya dekat pintu aula.
Arrida hanya tertawa kecil. Dia tidak menyangka kalau Melati masih mengingatnya.
"Tapi dia ganteng lho Mel, lihat, temen-temen kamu pada ngedeketin, kayaknya lagi minta foto bareng deh" Kata Arrida membela Uwais. Terlihat Uwais sedang dikerumuni anak-anak seusia Melati, jumlahnya sekitar lima orang.
"Hei... kok bisa, pasti pinjem hape kakak pengurus" Melati tidak terima.
"Kamu gak pengen gitu foto ma dia?" Goda Arrida.
"Gak mau, kakak itu galak"
"Serius? Entar nyesel"
"Nggak, kan udah ada foto bareng-bareng ma bang Adnan, dia juga ganteng kok"
"Gantengnya bang Adnan ma kak Uwais beda lho" Arrida masih menggoda Melati.
Melati terdiam. Sedikit berfikir.
"Iya ya... gak papa deh galak juga, yang penting ganteng... Ayo kak, anter aku kesana" Melati menarik tangan Arrida untuk menghampiri Uwais yang sedang dikerumuni oleh teman-temannya.
"Hei, minggir, minggir... Awas, aku yang harusnya foto bareng kakak ganteng"
Tampaknya Melati ini yang paling bar-bar diantara teman-temannya, karena disaat dia bicara semua langsung terdiam.
"Haish anak ini lagi, yang lima ini aja uda bikin riweuh, malah dateng lagi anak bar-bar"
Arrida masih tertawa kecil.
"Ayok fotoin aku!" perintah Melati tanpa basa basi.
"Ish , minggir sana!! Gak ada foto-fotoan!" Uwais berengut.
"Kak batal lho pahala puasanya kalo marah-marah!" celetuk Melati.
"Iya kak... Foto aja ya" Kata salah satu anak yang memegang ponsel.
"Ya udah kalian tenang..." pinta Uwais. "Kita foto ... tapi bareng bang Adnan dan kak Rida ya" Uwais memberi usul
"Gak mau!!!" Beberapa anak protes
"Foto bareng atau tidak sama sekali!" Uwais sudah merasa jengkel.
" Salah sendiri kakak pake ganteng segala" Salah satu anak yang tidak memegang ponsel berkomentar. "Jadi kita maunya cuma foto sama kakak aja"
Arrida terkekeh mendengar kepolosan anak cewek di usianya yang baru sembilan tahun. Sementara Uwais hanya menggelengkan kepalanya sambil menarik nafas panjang.
"Ar, aku ke bang Adnan dulu, aku pusing ma anak-anak ini, kamu urus mereka lah"
Arrida masih saja tertawa melihat salah tingkahnya cowok pujaannya itu. Dan pada akhirnya mereka tidak ada yang berfoto dengan Uwais.
πΌ
"Ar, kamu cantik dan makin terlihat imut menggemaskan" bisik Uwais sesaat setelah mereka berbuka puasa. Cowok tampan itu sudah sejak sore, saat mereka bertemu, ingin sekali mengomentari penampilan gadis kesayangannya itu. Bagaimana tidak, walaupun tahun sebelumnya dia pernah melihat Arrida mengenakan busana muslimah ketika acara buka puasa di sekolah, namun saat ini Arrida benar-benar terlihat sangat cantik dan anggun dengan setelan gamis overall, dengan model manis, ada tambahan aksen kancing dan tali yang menggemaskan, kainnya berbahan toyobo, berwarna cyan dan jilbab instan berwarna senada dengan gaunnya dengan motif bunga-bunga di pinggirnya.
Arrida tersenyum sambil melirik cowok pujaannya itu.
"Kakak juga ganteng"
__ADS_1
"Beneran Ar... waktu sore tadi, aku sempet syok lihat kamu... Untung aja segera sadar... dan waktu pengen bilang, kamu cantik, aku tahan... nunggu buka puasa dulu"
Arrida tertawa kecil.
"Kenapa kalo bilangnya sore tadi? ada yang salah?"
"Nggak, akunya aja yang takut, kalo sampai otakku cuma mikirin kamu, sayang kan puasaku, mana ini hari terakhir lagi...." Uwais menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kamu tau Ar, akhirnya dari tadi aku banyakin istighfar... dan hamdalah, betapa luar biasanya Alloh menciptakan makhluk indah seperti kamu"
Arrida makin melebarkan senyumnya, terdengar suara tawa membersamainya.
"Kakak juga ganteng, aku baru deh lihat kakak pake baju koko plus sarung"
Uwais tertawa... Dia memang sengaja hari itu mengenakan baju koko dan sarung, walaupun dia memakai celana panjang didalamnya. Tidak lupa dia mengenakan peci di kepalanya. Ia merasa lebih pas mengenakan sarung ketika nanti ikut takbir keliling bersama anggota PMR dan para alumninya, dia diundang sebagai tamu dewan kehormatan alumni.
πΌ
"Yah, Bun... kami duluan mau langsung ke alun-alun, temen-temen udah pada disana" Pamit Uwais pada pak Arthur dan bu Sofia. Mereka sudah menunaikan sholat Isya
"Iya hati-hati, nanti bunda ma ayah nyusul ke alun-alun, entar kita tunggu di masjid agung ya nak, mungkin setelah bayar zakat fitrah" kata Bu Sofia pada Uwais dan Arrida.
Arrida mengangguk sambil mencium punggung tangan Bu Sofia dan pak Arthur disusul kemudian Uwais.
πΌ
Kini mereka sudah ada di alun-alun. Mereka semua berkumpul, Roni, Asep, Rian, bahkan Erna pun datang. Arrida bergabung dengan Nana dan Hani serta anggota PMR yang lain. Ada satu mobil bak terbuka, yang diatasnya sudah ada bedug untuk ditabuh. Beberapa anak anggota PMR ada yang naik mobil tersebut, namun ada juga yang berjalan kaki sambil nanti mereka memegang obor yang memang sudah disiapkan sejak siang oleh anggota PMR.
Rian dan Erna hanya memandang kedekatan Arrida dan Uwais dengan pandangan yang sulit dilukiskan. Kemungkinan, lebih seperti cemburu dan curiga. Seakan banyak pertanyaan yang melintas di pikiran mereka, namun mereka urung bertanya pada keduanya. Mereka tidak ingin disebut 'belum bisa move on" walaupun nyatanya memang seperti itu.
Arrida dan Uwais mengambil tempat berjalan kaki dengan rombongan yang lain sambil membawa obor mengikuti mobil yang membawa bedug dengan laju yang sangat pelan. Rute yang diambil pun hanya sekitaran alun-alun, tidak jauh.
"Kenapa nangis Ar?" tanya Uwais saat melihat Arrida mengusap air matanya.
"Gak papa kak, udah kebiasaan, tiap takbir pasti aku nangis... gak tau kenapa, selalu saja hati ini bergetar hebat"
Uwais mengangguk mengerti.
Sekitar pukul setengah sepuluh, rombongan takbir keliling PMR yang dipimpin pak Salman pun selesai. Mereka tidak ikut seperti rombongan takbir keliling yang lain yang bisa sampai tengah malam.
Arrida, Uwais, Nana, Hani, Roni, dan Asep menyempatkan diri untuk menikmati malam takbiran. Mereka duduk di lapangan rumput alun-alun. Arrida, Nana, Hani dan Asep duduk berjejeran, sementara Uwais dan Roni duduk dihadapan keempatnya. Keenamnya asyik bercanda dan mengobrol sambil memandang indahnya kembang api di langit kota yang menambah kemeriahan suasana malam takbiran saat itu. Sementara Erna dan Rian lebih memilih untuk tidak ikut serta dengan keenamnya
"Oiya, kalian jadi study tour ke kota X?" Tanya Uwais memastikan sesuatu pada Arrida, Nana dan Hani.
"Iya kak, kok bisa kebetulan ya?" kata Hani sambil melirik Arrida bermaksud menggodanya.
"Wah berarti ntar kita bisa ketemuan gak kak?" Tanya Nana bersemangat.
"Kita lihat aja nanti" jawab Uwais sambil melirik Arrida. Yang dilirik malah tidak merespon, dia lebih tertarik memperhatikan kembang api yang menghias langit alun-alun. Indah.
Uwais pindah duduknya mensejajari Arrida. Membuat gadis itu melirik pada Uwais yang sudah duduk sempurna disampingnya.
"Kamu udah ga nangis lagi Ar?" tanya Uwais serius
"Nggak kak, cuma, kalo ntar fokus ngedengerin takbir pasti nangis lagi"
Uwais mengangguk mendengar jawaban Arrida.
"Ar, apa harapan mu di malam takbiran ini?"
"Pengen semuanya bahagia dan kebersamaan kita baik-baik saja.... kalo kakak?"
__ADS_1
"Semoga Alloh selalu mengijinkan aku untuk membahagiakan kamu"
Arrida menutup mulutnya sambil tertawa tak percaya.
"Aamiin"
"Kenapa kakak bisa baik banget gini seh...?!" tanya Arrida gemas
"Cuma sama kamu" jawab Uwais mantap
"Iyakah... temen cewek kampus kakak gimana?"
"Siapa?" tanya Uwais bingung
Arrida mengangkat kedua bahunya. Dia malas menjawab. Sebenarnya dia teringat kejadian beberapa hari menjelang puasa, ketika mereka untuk pertama kalinya melakukan panggilan video di sekolah, itupun karena Nana sedang merayakan ulang tahunnya di kantin, dia mentraktir semua teman sekelasnya. Suasana kantin saat pulang sekolah saat itupun menjadi ramai.
Ketika panggilan video itu, ada seorang gadis menyapa Uwais, suaranya terdengar manja menggoda. Namun saat itu, Arrida lebih memilih mengabaikannya, karena sepertinya Uwais tidak terlalu merespon panggilan tersebut. Padahal di saat yang sama Uwais juga merasa cemburu ketika tau Andri si vokalis itu sedang menyerahkan minuman pada Arrida.
Setelah kejadian itu mereka memang tidak pernah membahasnya, mereka memilih untuk percaya pada hati dan menganggap semua baik-baik saja. Walaupun sebenarnya Arrida memang sempat berniat untuk membahasnya kalau bertemu.
"Udah lupakan kak, aku cuma bersangka-sangka aja kok, kali aja ada cewek di dekat kakak saat di kampus, kayak dulu waktu di sekolah, kakak kan jadi idola sekolah, banyak kan cewek-cewek yang deket ma kakak" kata Arrida beralasan.
"Gak usah mikir yang aneh-aneh ya... " Uwais meyakinkan Arrida, ia tersenyum sambil mengusap pucuk kepala Arrida yang tertutup kerudung.
Tiba-tiba ponsel Arrida berbunyi. Panggilan dari Bu Sofia.
πΌ
"Bunda ma ayah udah mau ke masjid agung, kak... lagi parkir mobil" kata Arrida pada Uwais.
"Ya udah kita kesana yuk"
Mereka pun berpamitan pada Nana, Hani, Roni dan Asep, namun sebelumnya mereka berfoto bersama terlebih dahulu, mereka ingin memiliki kenangan kebersamaan yang indah di malam takbiran. Beberapa kali mereka berfoto. Semua tampak indah dan berbeda, karena yang putri mengenakan busana muslimah, sementara yang putra mengenakan setelan koko.
πΌπ¦οΈπΌ
Pak Arthur dan Bu Sofia berjalan melalui gerbang masjid agung. Kini mereka sudah ada di halaman masjid. Pak Arthur fokus dengan ponselnya, ia tidak terlalu memperhatikan langkahnya. Hingga tiba-tiba pak Arthur sedikit terhunyung ke belakang ketika ada seseorang yang menabraknya, dan ternyata orang itu juga sedang fokus pada ponselnya. Sehingga ponsel keduanya sama-sama terjatuh.
"Eh Maaf" ucap keduanya bersamaan
Pak Arthur mematung seketika saat melihat orang yang menabraknya, ada perasaan bahagia dan nyeri di ulu hati yang bercampur menjadi satu. Begitupun orang yang menabraknya. Dia juga memiliki perasaan yang sama di hatinya.
"RIDWAN" Pak Arthur dan Bu Sofia menyebut nama orang yang menabrak itu bersamaan.
"ARTHUR" panggil orang itu lirih. Wanita yang disampingnya menutup mulutnya tak percaya jika mereka bertemu dengan pak Arthur dan Bu Sofia. "Orang di masa lalu"....
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
Makasih kakak readers udah mampir
Makasih udah baca
Makasih udah mendukung
Makasih juga like, favorit, vote dan komennya yaaa
Sehat selalu kakak readers
Semoga suka dan terhibur...
βΊοΈβΊοΈβΊοΈπ₯°π₯°π₯°ππ»ππ»ππ»
__ADS_1