Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
99. Siapa dia?


__ADS_3

"Nggak papa, Kak, aku paham,kok" kata Arrida sambil tersenyum.


"Makasih ya ..!"


Arrida mengangguk.


"Kenapa kamu akhirnya pergi kesini sendiri, hm?" tanya Uwais.


"Karna kakak ga bisa jemput, aku juga gak mau ngerepotin kakak."


"Bukan ga bisa, tapi waktunya diundur,"


"Lah ... ini kakak ... kenapa jadinya bisa pulang ke rumah?"


"Aku minta ijin dosen pembimbing, dan setelah diijinkan aku langsung berangkat."


"Kenapa kakak gak bilang?"


"Tadinya mau buat surprise tapi ternyata malah aku yang terkejut."


Arrida terkekeh.


"Trus, kok kakak udah ada disini lagi?"


"Aku naik pesawat, dan jadwal penerbangannya ternyata jam tujuh malam, aku berharap seh ada yang bisa lebih cepat,"


"Oh" Arrida mengangguk.


"Tadinya aku mau nyuruh Kirno jemput kamu, tapi setelah lihat jadwal tiba, kayaknya aku bisa nyusul kamu ke stasiun. Jadi, aku minta Kirno datang ke bandara ... Motornya aku pakai, dan Kirno pulang naik taksi. Untung aku lewat jalan pintas biar lebih cepat, dan ternyata malah lihat kamu dikeroyok."


Arrida mengangguk lagi.


"Maafin aku, Kak, aku terlalu maksa kakak, dan ngerepotin kakak."


"Udah ku bilang, untuk kamu aku tidak pernah merasa repot ... aku bahagia jika bisa melakukan sesuatu yang berarti dan bermanfaat buat kamu, dan aku akan sangat menyesal jika tidak bisa melakukannya."


"Kakak sayang banget ma aku ya?" selidik Arrida.


"Itu jelas, segenap jiwaku dan seluruh hidupku,"


"Lalu kenapa kakak gak pernah bilang sayang aku?" tanya Arrida santai, ia menghabiskan suapan bakso terakhirnya.


"Aku sayang kamu." kata Uwais spontan penuh ketegasan.


"Ouwh .." Arrida terkejut.


"Kenapa?" tanya Uwais melihat ekspresi Arrida yang terkejut saat dia mengatakan bahwa dia sayang kepada gadisnya itu.


"Gak papa, rasanya kok aneh ya?" Arrida bahagia, seperti ada bunga-bunga yang bermekaran di sekitarnya, namun ia merasa ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Hal itu disebabkan karena Uwais mengungkapkan perasaannya atas pertanyaannya yang menanyakan kenapa dia tidak pernah menyatakan perasaan sayangnya kepada Arrida.


"Maksudnya?" tanya Uwais.


"Entahlah, apa karena timingnya ya?" kata Arrida masih berpikir. Dia ingat kata-kata Nana yang menyarankan agar Arrida menanyakan pada Uwais apakah dia sayang Arrida atau tidak? Jika dia berbelit-belit, jawabnya tidak tegas, mencari celah untuk menghindar dengan pertanyaan, atau dia masih berfikir dulu untuk menjawabnya, berarti dia belum bisa dibilang sayang yang sebenar-benarnya. Namun jika dia langsung menjawab dia sayang tanpa berbelit-belit dan tanpa berpikir panjang, itu berarti Uwais benar-benar sayang pada Arrida.


"Timing gimana maksudnya?"


"Gak papa kak, lupakan aja."


Uwais mengangguk.


"Udah kedua kalinya ini kamu nanyain itu, Ar ... Apa kamu ragu padaku? Atau ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu? Hm?"

__ADS_1


"Ah, aku sudah kenyang, Kak, aku gak sanggup ngabisin dua mangkok ... , ini kakak aja yang menghabiskan ya." kata Arrida sambil menyerahkan satu mangkuk bakso yang belum dimakan, ia sengaja mengalihkan pertanyaan karena tidak ingin menjawab pertanyaan Uwais.


"Ya udah, nanti biar aku habiskan." kata Uwais. Ia tahu jika Arrida sengaja tidak ingin menjawab pertanyaannya, ia pun tidak ingin terlalu memaksanya. Dia lebih memilih membiarkan gadisnya itu tenang dan nyaman tanpa harus terbebani dengan pertanyaannya.


Arrida mengangguk.


"Oh ya, gimana praktek lapangan kakak?"


" Udah berjalan dua minggu tinggal empat minggu lagi! Besok kalo kamu kuliah, mungkin aku gak terlalu sering untuk antar jemput, soalnya praktek lapangan ku di tempat yang lumayan jauh daerahnya."


"Iya kak, gak papa."


"Maaf ya, Ar"


"Iya kakak, aku gak papa."


Uwais mengangguk.


"Boleh aku pinjam sepeda kakak selama kakak praktek lapangan?"


"Silahkan, apa mau motor aja?"


"Gak lah, sepeda udah cukup."


"Pokoknya, kalo ada apa-apa, kamu bisa minta bantuan bang Arman, bang Dika dan Mbak Fika."


"Iya kak, tenang aja, aku kan juga masih kerja part time di sini."


"Jangan terlalu lelah ya."


"Hmm" kata Arrida sambil mengangguk.


🌼🌦️🌼


"Da, aku antar ya." kata seorang cowok, teman sekelas Arrida. Ia memiliki wajah tampan, turunan Turki. Rasya. Menurut yang Arrida tahu, bersumber dari Lani, Rasya ini sudah menyukainya sejak awal masuk perkuliahan. Namun, karena Arrida selalu diantar jemput oleh Uwais, ia berpikir kalau Arrida sudah memiliki pacar. Ia pun mengurungkan niatnya melakukan pendekatan. Dan kini, Arrida tidak lagi terlihat bersama Uwais, ia pun memilih untuk kembali mendekati Arrida, karena dianggapnya hubungan Arrida dan Uwais telah berakhir.


Arrida menatap Rasya sekilas. Ia segera memasukkan alat tulis ke dalam tasnya.


"Maaf, Sya, aku gak bisa."


"Kenapa? Apa kamu takut sama pacarmu itu?"


"Maksudnya?"


"Itu, senior dari fakultas lain, yang kerja di resto Cinta Pluto."


"Oh, kak Uwais maksudnya?"


"Ya mungkin, aku gak tau namanya."


"Tadi kamu bilang, dia siapanya aku?"tanya Arrida


"Pacar, atau aku salah ya ...?"


"Kenapa kamu berpikiran seperti itu?" tanya Arrida. Ia tidak menyangka ada orang lain yang menganggap kalau Uwais adalah pacarnya, bukan kakaknya.


"Apanya?"


"Kenapa kamu bisa nebak kalau dia pacar aku?"


"Ya kelihatan lah, siapapun yang ngelihat kebersamaan kalian, pasti akan mengatakan kalau kalian pacaran ... yaaa, walaupun ada seh yang mengatakan kalau kalian itu kakak beradik ... tapi aku tidak mempercayainya ... Atau mungkin sekarang udah jadi mantan pacar ya? Aku lihat kamu sekarang gak pernah diantar jemput olehnya."

__ADS_1


Arrida hanya tersenyum mendengar penuturan Rasya.


"Jadi, gimana? aku anter kamu ya, Da"


"Maaf, aku gak bisa."


"Kenapa?"


"Aku pake sepeda, Sya."


"Oh, gitu ya."


"Hmm, maaf ya, aku ... duluan ya, Sya," kata Arrida sambil bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.


"Tunggu, Da!"


"Apa?" Arrida berbalik kembali menatap wajah tampan Rasya


"Kalo next time mau ya."


"Gak janji ya ... " kata Arrida sambil tersenyum. Ia pun segera berlalu dari hadapan Rasya.


🌼


Arrida mengayuh sepedanya dengan sangat cepat, ia ingin segera ke gedung fakultas tempat Uwais. Mereka sudah berjanji akan bertemu sore itu, karena Uwais hendak mengajaknya menonton film di bioskop. Sebenarnya, mereka janji bertemu di resto, namun Arrida sengaja ingin memberikan kejutan pada Uwais.


Arrida memarkirkan sepedanya, kemudian ia menuju kantin, dan menunggu kedatangan Uwais di sana sambil menikmati secangkir coklat hangat.


Sekitar sepuluh menit dia menunggu akhirnya dia melihat kedatangan Uwais menaiki motor menuju tempat parkir. Namun, ada rasa yang tak biasa hadir, saat melihatnya, karena Uwais datang dengan membonceng seorang wanita cantik. Wanita itu tampak bahagia. Wajahnya tersenyum sumringah berseri-seri.


"Siapa dia?" gumam bathin Arrida


"Hei, lihat tuh si Karina, dia dibonceng terus sama Uwais, seneng banget," kata seorang wanita berbaju pink pada kedua temannya. Mereka sedang makan di kantin, dan duduk di dekat meja Arrida.


"Kayaknya dia gak ada saingan lagi setelah kepindahan Metha," sahut yang lainnya. Seorang wanita berambut panjang, memakai bandana.


"Kayaknya, si Laura belum tau hal ini, coba kalo udah tau, bisa ada jambak-jambakan lagi di kampus kita,"celetuk yang satunya lagi sambil menyeruput jus jeruknya.


Arrida menelan salivanya sangat berat mendengar percakapan ketiga wanita yang ada di meja makan yang tak jauh dari mejanya. Ada rasa nyeri di sudut hatinya. Cemburu.


"Ah kak, apa karena ini kamu gak mau antar jemput aku? sudah ada wanita itu kah?" gumam hati Arrida lagi. Arrida segera menghabiskan minuman coklatnya ia ingin segera pergi. Namun terlambat, Uwais dan wanita itu sudah menuju ke area kantin.


Wajah Uwais sebenarnya datar-datar saja, namun wajah wanita di sebelahnya yang terlihat begitu bahagia. Senyumnya tidak luntur dari wajahnya, apalagi ketika ia melambaikan tangannya kepada ketiga rekannya yang tadi membicarakan dirinya.


Arrida menunduk, memainkan ponselnya. Sungguh, ia tidak ingin melihat Uwais saat ini.


"Udah lama Ar?" sapa Uwais ketika mendekati meja Arrida.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


...Makasih kakak readers...


...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...


...Makasih atas dukungannya, like, favorit n kommentnya...


...Sehat selalu ya kakak readers...


...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......


...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...

__ADS_1


...πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ˜πŸ˜πŸ˜...


__ADS_2