
Akhirnya masalah Uwais selesai. Dia bisa bernafas lega.Tersenyum dengan rasa bahagia yang membuncah. Saat ini dia ada di ruang BK, sebelumnya memang sudah dipanggil oleh pak Lukman untuk menjelaskan permasalahan yang sebenarnya.
"Terimakasih Pak, Bu," Uwais mengucap terimakasih teramat sangat, ia mencium punggung tangan pak Lukman, pak Tino, bu Sofia dan bu Intan di ruang BK dengan takdzim.
"Iya, sama-sama ... semoga kedepannya lebih baik ya," kata Pak Lukman menyemangati.
"Makasih, Pak,"
"Semoga sukses, kejadian kemarin biar dijadikan pelajaran ya, semoga kamu makin kuat mengahadapi semuanya, okke," pak Tino ikut memberi semangat.
Uwais mengangguk tersenyum.
"Lebih hati-hati ya," kata Bu intan memperingatkan.
"Siap, Bu,"
"Jaga diri selalu ya," ucap bu Sofia sambil mengusap lembut pucuk kepala Uwais. Entahlah, yang tadinya ada rasa malu yang tidak bisa dia gambarkan kepada bu Sofia tentang penitipan salam untuk Arrida, kali kini yang terasa hanyalah rasa tenang dan nyaman mendapat perlakuan diusap pucuk kepalanya, seperti seorang ibu memperlakukan anaknya.
"InsyaaAllah, Bu! Mohon doanya ya Pak, Bu! Kalau gitu saya permisi dulu," kata Uwais kepada keempat guru BK nya, kemudian dia meninggalkan ruang BK setelah mendapatkan anggukan dari keempatnya.
πΌ
Bahagia. Satu kata yang bisa mewakili keadaan hatinya saat ini. Setelah dilakukan penyelidikan oleh pihak sekolah bekerja sama dengan pihak kepolisian, akhirnya terungkap siapa yang berperan menjadi Uwais palsu.
Seperti dugaan yang sudah ada. Pelakunya adalah Ruben. Dia memang sengaja menyamar menjadi Uwais. Menggunakan nama Uwais untuk menjerat Audy yang sebelumnya telah menolak cintanya. Motifnya karena sakit hati cintanya tak terbalas. Karena sifat arogan Audy lah membuat Ruben dendam, dia merasa dipermalukan.
"Udah gue bilang ya, gue gak suka elo ... lo tuh jauh dari tipe gue ... gue ilfeel sama lo!!!" Itu kata-kata penolakan dari Audy untuk Ruben, yang dia lontarkan dengan berteriak dan penuh amarah. Dan sejak saat itu teriakan penolakan Audy terus terngiang-ngiang di telinga Ruben, dan selalu menghantui pikirannya.
"Gadis bodoh, lihat saja pembalasan gue, gue pastikan lo akan menikmati ke ilfeel-an lo ke gue!!!" senyumnya menyeringai. Akhirnya, dia melancarkan aksinya dengan menyamar menjadi Uwais. Karena memang semua orang tau kalau Audy pernah mengumumkan Uwais adalah gebetan miliknya. Walaupun semua juga tahu kalau sebenarnya Uwais sendiri tidak pernah memberikan respon sama sekali. Dan hal ini dijadikan senjata oleh Ruben. Strategi nya sangat rapih, sehingga Audy tidak mengetahui kalau dia sudah masuk dalam jebakan balas dendamnya Ruben.
Dengan kasus ini, Ruben dikeluarkan dari sekolah, dan dia terkena kasus pidana telah melakukan penipuan dan pemerkosaan. Sementara Audy karena dia hamil maka dia tidak lagi bersekolah. Sebenarnya pihak sekolah memberi keringanan kepada Audy, karena dia merupakan korban.
Jika Audy hendak melanjutkan sekolah bisa dengan home schooling selama kehamilan dan kembali ke sekolah jika sudah melahirkan. Namun tampaknya pihak keluarga Audy tidak menginginkannya, karena menjaga psikis Audy, mereka tidak mau kalau Audy akan mendapatkan hinaan kelak di sekolahnya, dan Audy sendiri sepertinya stress, dia shock untuk bisa menerima semuanya. Mentalnya down. Jadi kemungkinan, Audy pun tidak akan pernah kembali bersekolah di situ.
πΌπ¦πΌ
__ADS_1
"Ya ampun? Lagi?" Uwais merasa aneh, ini sudah yang kedua kalinya ban sepedanya kempes. Bahkan kali ini bukan kempes tapi kedua ban nya sobek.
"Ini pasti ada yang sengaja! Hmmmh ...." Uwais menarik nafas panjang. Dia pun menuntun sepedanya keluar gerbang sekolah.
"Kempes lagi, Wais?" tanya pak Yono pada Uwais. Bapak yang usianya sudah lebih dari setengah abad itu masih tampak segar bugar. Orang lain pasti tidak menyangka kalau usianya sudah hampir enam puluh tahun. Rambutnya masih terlihat hitam, hanya beberapa helai saja yang terlihat memutih di sisi kanan dan kiri kepalanya.
"Iya ini, Pak, kayaknya ada yang sengaja, malah yang ini bukan dikempesin Pak, tapi disobek bannya,"
"Hm, lihat CCTV tempat parkir aja Wais," pak Yono mengusulkan.
"Boleh, Pak," Uwais menerima tawaran pak Yono. Dia juga penasaran siapa sebenarnya yang melakukannya, hingga kedua ban sepedanya selalu saja bocor dalam dua hari ini. Dia juga sempat teringat saat kejadian kedua ban motornya kempes ketika akan mengantar pulang Arrida setelah makan mie ayam.
"Itu dia!" Uwais menunjuk seseorang di layar monitor. Dia dan pak Yono telah beberapa menit mengamati layar monitor.
Pak Yono memperhatikannya. Namun nihil. Keduanya tidak bisa melihat dengan jelas orang tersebut, karena selain membelakangi CCTV, orang itu menggunakan topi, sehingga tidak bisa terlihat jelas siapa dia sebenarnya.
"Yah, ga jelas, Pak," komentar Uwais
"Iya, coba besok, bapak perhatikan langsung tempat parkirnya diam-diam, mungkin orangnya akan buat ulah lagi,"
"Kasihan kamu Wais, baru kasus fitnah kemarin menimpa kamu selesai, sekarang masih ada lagi yang iseng sama kamu,"
"Hehee, iyya nih pak, banyak yang seneng kalo saya sabar," kata Uwais sambil mengusap tengkuknya.
"Hahaha, bisa aja ni anak,"
" Ya udah Pak, saya ke bengkel dulu,"
Pak Yono mengangguk mempersilahkan.
πΌπ¦πΌ
Esoknya, seperti yang sudah diperkirakan oleh pak Yono, di tempat parkir ada seseorang yang sedang mendekati sepeda Uwais. Dan orang tersebut sedang melakukan aksinya. Ia memotong kabel rem sepeda Uwais sambil tersenyum menyeringai.
"Rasakan ini! Celaka ... celaka lo!!!" gumamnya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan ma sepedaku?" tanya Uwais dari arah belakangnya. Ia memang dari tadi sudah menunggu di dekat tempat parkir bersama pak Yono.
Pemuda bertopi itu berbalik. Dia tak ragu untuk menunjukkan wajahnya di hadapan Uwais.
"Vano?" Uwais agak terkejut. Sementara Vano hanya mengedikkan bahunya tanpa rasa bersalah. Tangan kanannya memegang sebuah pisau cutter yang tadi dia gunakan untuk memotong kabel rem sepeda milik Uwais.
"Kenapa kamu lakukan ini? Kita gak punya masalah kan?"
"Lo bisa bebas, enak- enakkan, sementara temen gue di penjara!"
"Maksud lo Ruben?" Uwais mencoba memastikan prasangkanya.
"Menurut lo?" Vano setengah berteriak.
"Tapi aku merasa gak ada masalah dengannya, bukannya dia memang bersalah, kan? Menggunakan namaku untuk menipu anak gadis orang,"
Vano tidak menerima alasan Uwais. Sejujurnya dia juga tidak menyukai Uwais, karena gadis yang dia sukai 'Erna' malah menyukai Uwais.
"Kamu gak bisa hidup tenang selagi Ruben masih di penjara,"
"Gak boleh gini Vano, kamu jangan menambah masalah," Pak Yono mencoba menjadi penengah, sebelum sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
"Bapak gak usah ikut campur, Pak," Vano agak emosi dia mengacungkan tangan yang memegang pisau cutter
"Eh, anak ini malah bantah, jangan berkelahi kalau gak mau dikeluarkan dari sekolah," Pak Yono mendekati Vano untuk membuatnya lebih tenang.
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
Hai kak readers
sehat selalu yaπ
makasih udah setia baca kisah Arrida dan Uwais
makasih atas dukungannya ya πππ
__ADS_1