
"Nih, Kak," Arrida memberikan sekantung plastik mini berisi biskuit, susu kotak, sari kedelai dan sebutir telur rebus pada Uwais yang tengah bersantai memainkan ponselnya di gazebo dekat GOR.
"Makasih," Uwais menerimanya.
Ia baru saja menyelesaikan pengambilan darah yang berlangsung sekitar sepuluh menit yang lalu.
"Kakak pusing?" tanya Arrida.
Uwais menggeleng.
"Kenapa memilih menyendiri disini?"
"Biar lebih tenang, tadi mamah nelpon,"
"Oh," Arrida langsung duduk disamping kiri Uwais.
"Gak bertugas?" tanya Uwais.
"Nggak, dari tadi juga gak ngapa-ngapain, kita cuma duduk diem ngawasi, mau bertugas yang ngambilin darahnya belum ahli, takut salah,"
"Ah iya kamu bener, jadi mendingan kamu temeni aku disini ya," kata Uwais, ia tau kalau acara donor darah tidak terlalu menguras tenaga, karena yang melakukan pengambilan darahnya dari pihak PMI, sementara anggota PMR hanya mengawasi, mengarahkan dan mendampingi pendonor melakukan prosedural donor darah.
"Iyalah iya, aku temeni, ini juga lututnya cenat cenut,"
"Hati kali, Ar, cenat- cenut,"
"Oh, cekat cekut?" kata Arrida singkat.
"Cekit cekit," sela Uwais.
"Nyut nyut," balas Arrida.
"Dutdut,"
"kedat kedut,"
Memikirkan kata apa yang pas untuk menyatakan rasa nyeri di lutut, tidak ketemu, akhirnya mereka pun hanya tertawa.
"Kamu mau?" Uwais menawarkan susu kotaknya.
"Nggak, itu kan buat orang yang donor, Kak,"
"Gak papa, staminaku udah balik kok,"
Arrida mengangguk sambil meraih susu kotaknya dan tanpa ragu ia menusukkan sedotannya ke kotak susu dan meminumnya.
"Jadi, ini udah yang ke berapa kali kakak donor?"
"Ini yang ketiga,"
"Waw, pertama kali kapan?"
__ADS_1
"Saat usia udah 17 tahun, kebetulan pas banget seminggu setelah ultah, PMR ngadain kegiatan donor darah, udah deh, aku mulai donor, dan setiap 3 bulan sekali aku usahain donor, mudah-mudahan seterusnya gak lupa," Uwais mengambil susu kotak yang tadi diminum oleh Arrida. Lalu meminumnya. Tapi kali ini Arrida membiarkannya. Dia tidak protes.
"Emang udah niat banget ya buat donor darah? Apa yang memotivasi Kakak buat donor?"
"Emmm," Uwais sedikit berpikir, sebenarnya dia sendiri tidak pernah tau apa yang menjadi motivasi dia melakukan donor darah.
"Hanya ingin saja mungkin," jawabnya tidak pasti.
"Hah, bukan karena untuk kesehatan gitu, Kak?" tanya Arrida.
"Entahlah, gak juga, tapi apapun yang kita lakukan untuk orang lain itu pasti tidak sia-sia, iya gak?" kata Uwais.
Arrida mengangguk. Tangan satunya mengambil kembali kotak susu dari tangan Uwais. Lalu meminumnya tanpa ragu.
"Hei, itu susu kotakku!" Uwais protes karena Arrida mengambil susu kotak dari tangannya
"Haish, dia lupa, kan uda dikasihin aku kak, gak boleh diambil balik, pamali," Arrida langsung meminumnya bahkan sampai habis.
Uwais tersenyum. Ia pun mengambil sari kedelai dari dalam kantung plastik lalu meminumnya setelah sebelumnya dia tusukkan sedotan di kotaknya.
"Yang ini mau?" tanya Uwais menawarkan sari kedelai yang sudah diminumnya.
"Hehee, ini yang donor siapa, yang menikmati camilan siapa?" sahut Arrida sambil menggeleng.
"Itung-itung sedekah, Ar, berguna juga kan buat kamu yang lagi masa pertumbuhan,"
Arrida melirik Uwais sambil menyipitkan matanya. Uwais pikir dia masih anak-anak yang membutuhkan susu untuk pertumbuhannya.
"Eh kamu tau, Ar, donor darah itu memberikan sesuatu yang sangat berguna buat orang lain tanpa tau siapa yang menggunakannya!"
"Hmm, setuju," kata Arrida sambil menjentikkan jarinya.
"Dan tanpa ada imbalan atau terimakasih dari orang yang menggunakannya, itung-itung sedekah yang tulus," sambung Arrida.
"Hmm, bener, karna orang yang menggunakannya tidak tau siapa yang memberi, jadi, mau terima kasih kemana coba?"
"Ke Allah" jawab Arrida singkat.
"Pintar!" Uwais langsung mengacak pucuk kepala Arrida dan Arrida makin menyukainya apa yang Uwais lakukan. Satu kata 'nyaman'.
"Jadi golongan darah kakak O ya?"
"Iya, kamu udah tau golongan darahmu?"
Arrida menggeleng.
"KAK UWAIS!!!" Tiba-tiba ada seseorang datang dan tepat berdiri dihadapan keduanya. Audy.
"Aku Udah Gak Tahan Lagi ya Kak, Aku Gak Bisa Kamu Giniin Terus ... Sakit Hati Tau!!! " teriak Audy sambil terisak menangis.
Arrida dan Uwais bengong. Mereka bingung dengan sikap Audy yang tiba-tiba datang dan marah-marah.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Uwais masih bingung.
"Kakak gak usah pura-pura bingung ... Pokoknya kakak harus bertanggungjawab, aku udah gak bisa mengatasinya sendirian, Kak,"
"Mbak Audy tenang dulu, bicarakan baik-baik disini biar jelas!" kata Arrida sambil berdiri memberi tempat agar Audy duduk dia sebelah Uwais.
"Diam kamu!!! Kamu hanya perusak hubungan orang ... Selama ini aku sabar ngelihat kalian selalu bareng, tapi sekarang aku ga bisa tinggal diam,"
"Hah?" Arrida terkejut. Apalagi ini ada julukan baru untuknya 'perusak hubungan orang'.
"Alaaaah ... Gak usah munafik dan ga usah sok suci ... Player tetap aja player!"
"What?? Kenapa hadir lagi kata player?" Bathin Arrida memanas. Lagi. Dia disalahkan.
"Eh, jaga omonganmu!" Uwais kini berdiri langsung di hadapan Audy.
"Kenapa kakak malah ngebelain dia sih! Kamu jahat Kak, kamu gak bisa giniin aku!" Audy masih terisak, dia makin mengencangkan suaranya karena marah, sehingga membuat beberapa siswa mulai berdatangan.
"Aku gak ngerti apa yang kamu omongin," ucap Uwais tegas dan penuh penekanan.
"Kamu pura-pura gak ngerti karena ada dia atau emang kamu mau lepas tanggung jawab, hagh!!" Audy makin menangis dalam teriakannya. Ia benar-benar tidak menyangka orang yang selama ini dia kagumi berani mempermainkan hatinya bahkan sampai tega memperlakukannya seenaknya.
"Ini pasti ada salah paham," Uwais mencoba mencerna keadaan.
Arrida yang merasa risih dengan keadaan sekitar karena menjadi bahan tontonan lebih memilih pergi. Dia juga merasa tidak ada urusannya dengan Audy dan Uwais.
"Ar, tetap disini!" pinta Uwais sambil menarik lengan Arrida yang hendak meninggalkannya dengan Audy.
Melihat itu Audy langsung mencekal tangan keduanya berusaha untuk memisahkannya.
"Kamu apa-apaan sih!!" kata Uwais membentak Audy. Genggaman tangannya sengaja ia lepas karena tak ingin membuat tangan Arrida sakit.
"Kamu lupa apa!! Sebenarnya siapa yang lebih penting disini?!??!!! Dia atau aku, hagh?!!!" Audy makin meninggikan suaranya.
"Dia!" jawab Uwais tegas sambil kepalanya sedikit menoleh ke arah Arrida
"Bren*sek!! Dasar laki-laki gak bertanggungjawab!! Penipu!! kurang AJAR!! SialaNN!" Audy memaki sambil memukul dada Uwais kuat-kuat.
Arrida hanya diam. Dia tidak bermaksud melerai Audy dan Uwais. Dia juga tidak tahu harus berbuat apa.
"Tenang lah Audy!!!" kata Uwais sambil mencengkeram kedua lengan Audy agar berhenti memukuli dadanya.
"Kamu suruh aku tenang?!! Setelah kamu puas sama aku sekarang kamu seenaknya main sama dia!!" Audy makin menangis.
"Sumpah aku gak paham!" Uwais makin bingung, ia sama sekali belum terhubung kemana alur pembicaraan Audy.
Audy geram, dia menggelengkan kepalanya sambil menarik baju Uwais. "Tega banget sih!!" Air mata Audy masih saja mengalir. Ia mendorong tubuh Uwais kuat-kuat.
"Dasar Buaya Busuk!! Kamu udah ngancurin aku, dan sekarang kamu pura-pura gak tau! Munafik! Kamu takut imej kamu hancur didepan semua orang kan? Tanpa kamu peduli dengan keadaan ku sekarang?!!" teriak Audy sambil terisak.
Uwais hanya mengernyitkan keningnya. Sampai detik ini dia tidak tau maksud Audy.
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸🌸...