Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
32. Untaian doa di waktu mustajab


__ADS_3

"Sayang sekali, kalian bukan pasangan ya, tapi doa nenek agar kalian bisa menjadi pasangan, karena auranya bisa nenek rasakan, kayak rantai, kalian saling mengikat satu sama lain," kata nenek itu sangat jelas.


Arrida dan Uwais menatap lagi ke arah nenek yang ada di hadapan mereka dengan tatapan percaya dan tidak percaya. Bukankah kita tidak boleh percaya pada ramalan, tapi nenek itu rasanya juga bukan seorang peramal.


"Berdoalah yang baik- baik, mumpung hujan. Hujan adalah berkah, bukankah menurut hadis saat turun hujan adalah waktu mustajab?" Begitulah penuturan nenek itu sebelum akhirnya bapak dan anak laki-laki yang ada di dalam mushola keluar.


"Udah bu ... Ayo kita lanjutkan perjalanan," kata bapak itu lalu menggandeng nenek tersebut sambil membantunya untuk bangun dari duduknya.


Arrida dan Uwais makin tak mengerti dengan apa yang mereka rasakan saat ini.


"Nenek pamit ya, kalian harus terus saling percaya, semoga kalian bahagia, ya,"


Arrida dan Uwais mengangguk sopan. Mereka memandang nenek itu berlalu dari hadapan mereka dan masuk ke dalam mobil. Tidak lupa bapak tadi menggunakan payung yang sebelumnya diletakkan di dekat teras.


"Kalian boleh tidak percaya dengan yang dikatakan nenek Arti, tapi di tempat kami, banyak orang yang selalu minta pendapatnya. Hanya saja nenek tidak mudah begitu saja untuk menyampaikan pendapatnya, cuma orang-orang tertentu saja yang kalau nenek merasa klik, barulah nenek bisa memberitahukannya ... Yaaa, seperti kalian tadi!" Ibu yang berusia empat puluh tahunan itu menghampiri Arrida dan Uwais sambil menggendong anak perempuannya. Lalu dia mengomentari apa yang dikatakan nenek Arti sambil menunggu payung yang dipakai bapak itu bergantian dengan nenek Arti dan anak laki-lakinya.


"Makanya gak sembarangan orang lho nenek Arti mau memberitahu apa yang dirasakannya, dan asal kalian tau, apa yang dikatakan nenek Arti seringnya tepat dan selalu terjadi, menurut ibu sih, kalau memang itu baik berdoalah seperti yang nenek Arti sampaikan ...." kata ibu yang berjilbab pink itu sambil memberikan senyuman yang penuh keyakinan.


🌼🌦🌼


(((((


Arrida dan Uwais masih terpaku, sambil menatap mobil yang ditumpangi nenek Arti dan keluarganya berlalu menjauh. Mereka sempat melambaikan tangan tanda perpisahan kepada nenek Arti yang entah kemungkinannya mereka bisa bertemu lagi dengannya atau tidak.


Keduanya menarik nafas panjang hampir bersamaan. Lalu saling menoleh senyuman.


"Apa? Hmm?" tanya Uwais penuh selidik.


"Entah," jawab Arrida canggung. Dia mengedikkan bahunya lalu netranya beralih memandangi hujan.


"Mau berdoa di waktu mustajab?" kata Uwais dengan senyuman limited editionnya. Apakah itu pertanyaan atau ajakan yang mendengarnya pasti merasa ambigu.


Arrida melirik Uwais sambil membalas senyumannya. Lalu dia bangun dari duduknya melangkah perlahan ke bibir teras. Satu tangannya terulur, kemudian telapak tangannya menadah air hujan. Pandangannya ke atas menatap langit yang gelap, menikmatinya sesaat, kemudian ia menutup matanya agak lama, sampai dia tidak menyadari Uwais telah berdiri di sampingnya dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya.


Ketika menutup mata, ada untaian doa yang terucap dalam hati keduanya. Hening beberapa saat. Mereka larut dalam doanya masing-masing


Tak lama kemudian Uwais lebih dulu membuka matanya, melihat telapak tangannya yang sudah basah terkena air hujan, lalu dia melirik gadis yang berdiri di sampingnya. Sambil terus memperhatikan wajah bening milik gadis kesayangannya itu, senyuman hangat pun terbit di wajahnya.


Merasa seperti ada yang memperhatikan, Arrida membuka matanya perlahan, kedua netranya langsung menangkap jelas wajah tampan Uwais.


Uwais sedikit terkejut, karena dia ketahuan sedang memperhatikan Arrida.

__ADS_1


"Ekhem ...." Uwais berdehem menghilangkan rasa canggung, mengalihkan tatapannya pada telapak tangannya yang sedang menadah air hujan.


"Jadi, apa yang kamu doakan?" tanya Uwais penasaran.


"Mau tau aja, apa mau tau banget?" jawab Arrida bercanda.


Uwais tersenyum lebar sambil menggeleng gemas.


"Mau tau banget, hmhh?" kata Uwais pasti.


"Emang kakak tau kalo aku lagi berdoa, siapa tau aku cuma menikmati hujan aja, sederhana, menenangkan dan menyenangkan," kata Arrida sambil mengutip yang pernah dikatakan oleh nenek Arti tentang hujan.


Mendengar jawaban seperti itu, tangan Uwais yang sedang menadah air hujan kemudian bergerak menyipratkannya ke wajah Arrida.


"Hish, Kak!" Arrida sedikit berteriak, tak mau kalah dia pun menyipratkan air hujan yang ada di telapak tangannya ke wajah Uwais. Namun Uwais segera menghindar, tangan kirinya pun menghalanginya sehingga tidak terkena cipratan air yang Arrida berikan.


"Haha, maaf ya maaf," Uwais tertawa hangat.


"Ga mau," Arrida pura-pura cemberut.


"Ooh ayolah ... Masa gitu aja ngambek," rayu Uwais.


Arrida sengaja memalingkan wajahnya, dia tidak mau memandang Uwais.


Arrida meliriknya dan tersenyum.


'Ah, indahnya wajah ini," Arrida bergumam dalam hati. Ia sengaja berlama-lama mengagumi wajah Uwais yang tepat ada di hadapannya.


Uwais sadar, karena tak ada cipratan air pun yang mengenai wajahnya. Perlahan ia membuka matanya dan menangkap netra Arrida yang sedang asyik memandangi wajahnya.


"Gak jadi nyipratin ya, masih pengen lama-lama ngelihatin wajah tampan ini?" tanya Uwais penuh percaya diri.


Jantung Arrida berdetak kencang, perasaannya tak karuan. Malu. Dia pun mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Hey, kenapa malah ngelihatin sana? Wajah tampannya ada disini,"


Mendengar perkataan Uwais, dia pun segera menoleh ke arah Uwais.


"Hissh, pede banget," ucap Arrida sambil menyipitkan matanya.


"Natapnya gak usah kayak gitu, Ar," Uwais menetralkan perasaannya.

__ADS_1


"Kenapa? Aku nggemesin ya?" kata Arrida sambil mengerjapkan matanya beberapa kali.


Uwais menggelengkan kepalanya tersenyum. Dia benar-benar tidak tahan melihat gadis kesayangannya itu begitu menggemaskan. Tangannya pun terulur mencubit gemas hidung Arrida.


Spontan Arrida langsung memegang hidungnya.


"Kak! Usil banget seh!" kata Arrida sambil mendorong Uwais sehingga kini tubuh Uwais basah karena terguyur air hujan.


Arrida tertawa memandangi cowok pujaannya itu basah terkena hujan. Uwais tidak tinggal diam, dia akhirnya menarik lengan Arrida, hingga kemudian tubuh mereka basah terguyur air hujan.


"Kak ... Usil banget sih!"


"Biar aku ga basah sendirian, Ar," ujar Uwais.


Arrida menggeleng tersenyum. Dia pun malah sengaja membiarkan tubuhnya basah. Sambil merentangkan kedua tangannya, wajahnya menengadah, matanya terpejam.


Melihat wajah Arrida yang terkena air hujan, Uwais menelan salivanya dengan susah payah. Dia benar-benar mengagumi gadis yang selalu membuat hatinya tidak menentu.


"Yah, anak ini malah kesenengan mandi air hujan," Uwais mencoba untuk menenangkan perasaan dan pikirannya.


"Ayo, ntar malah kamu sakit, karena hujan-hujanan," kata Uwais sambil menarik tangan Arrida untuk kembali ke teras mushola.


Arrida menurut, ia membiarkan tangannya di genggam oleh Uwais. Perlahan jemarinya pun mengeratkan genggamannya. Uwais merasakan itu. Dan hati keduanya saat ini berdebar-debar. Namun terasa sangat nyaman.


Mereka kini duduk di dekat bibir teras sedikit keluar dari teras mushola karena baju mereka saat ini benar-benar basah.


Arrida melipat kedua lutut dan memeluknya.


"Dingin ya?" tanya Uwais yang mendapatkan anggukan dari Arrida.


"Kita pulang, ya,"


Arrida mengangguk lagi mengiyakan.


Uwais mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya, kemudian memesan taksi agar Arrida bisa pulang.



...🌸🌸🌸🌸🌸...


Halo kak readers

__ADS_1


sehat selalu ya


mksh uda setia baca kisah Arrida dan Uwais yaaaa😘😘😘😘


__ADS_2