Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
41. HUT Sekolah (1)


__ADS_3

Hari ini merupakan hari pertama semester genap. Kejadian terakhir yang menimpa Uwais tempo hari sebelum terima raport semester ganjil akhirnya terselesaikan dengan Vano diskors selama seminggu.


Awal semester ini, akan ada perayaan hari ulang tahun sekolah yang dilaksanakan di akhir bulan.


Agendanya ada acara internal dan eksternal. Untuk acara internal ada bersih sekolah, pertandingan futsal dan voly, lomba menghias tumpeng, lomba akustik dan lomba lomba tradisional, sementara untuk acara eksternal ada Festival Band, perlombaan atletik, dan fashion show pakaian daur ulang.


Agenda acara di gelar selama seminggu. Hari Senin upacara pembuka, dan bersih sekolah. Seluruh kelas, ruang guru, lapangan, mushola, perpustakaan, laboratorium, ruangan intra dan ekstrakurikuler, toilet juga kantin sekolah dibersihkan oleh seluruh warga sekolah mulai dari kepala sekolah, guru, karyawan, murid, penjaga kantin, dan penjaga sekolah. Semuanya bekerja sama melaksanakan kerja bakti membersihkan sekolah.


Hari Selasa digelar pertandingan futsal untuk siswa laki-laki dan voly untuk siswa perempuan pertandingan dilaksanakan antar kelas. Sementara untuk bapak ibu guru dan karyawan dilaksanakan pertandingan yang sama hanya saja berbeda kepanitiaan. Jika pertandingan siswa yang menjadi panitianya adalah OSIS, sedangkan pertandingan pihak guru yang menjadi panitianya adalah guru-guru yang ditunjuk oleh pihak sekolah.


Durasi pertandingan tidak menggunakan waktu umumnya. Hanya menggunakan 2 babak dengan durasi 10 menit per babak pertandingannya. Karena dimaksudkan agar hari itu langsung mendapatkan juaranya.


Uwais mengikuti pertandingan futsal siswa.


Kelasnya bisa masuk babak final, dan untuk pertandingan final diselenggarakannya sore hari.


Keadaan sekolah sore ini memang sudah tidak terlalu ramai, karena para supporter hanya mendukung kelasnya masing-masing, jika kelasnya kalah maka mereka memilih untuk pulang. Walaupun masih ada juga, beberapa siswa dari kelas lain yang berada di sekolah, termasuk Arrida, Hani dan Nana, mereka memang sengaja tidak pulang, karena ingin menyaksikan dan memberi dukungan pada Uwais dan timnya.


Uwais tersenyum melihat Arrida dan sahabatnya menonton pertandingan. Rasanya seperti mendapatkan kekuatan yang luar biasa.


"Kalo supporter nya spesial kayak gini, pasti semangat nih," ledek Roni pada Uwais ketika mereka sudah siap di lapangan.


Uwais hanya terkekeh. "Iya, main yang bener ya," kata Uwais sambil menepuk pundak Roni, dan menempati posisinya.


Pertandingan pun akhirnya dimulai. Beberapa menit berlangsung seru dan menyenangkan. Babak pertama skor kedua tim masih kosong-kosong. Kini berlanjut babak kedua, sayangnya, di menit terakhir babak kedua, Uwais mengalami cedera, kakinya terkilir. Dengan terpaksa ia pun tidak bisa melanjutkan pertandingannya. Ia berjalan menepi, keluar area pertandingan.


Arrida, Hani dan Nana segera menghampiri Uwais.


"Gimana, Kak? Sakit banget ya? Bisa jalan?" tanya Arrida tampak cemas.


"Gak papa cuma terkilir kok, cuma agak sakit sih kalo da buat jalan,"


"Ayo ke UKS!" ajak Arrida agar bisa menangani kaki Uwais yang terkilir.


"Ntar Ar, lagi seru, tinggal 2 menit lagi,"


"Masih bisa nahan?"


"Iyaaa ... Ar," jawab Uwais lembut tapi penuh penekanan. Nana dan Hani hanya tersenyum melihat tingkah Arrida yang menurut mereka terlalu mencemaskan Uwais.


Pertandingan pun berakhir setelah dua menit. Namun skor masing-masing masih sama. Kosong-kosong. Akhirnya diambil tendangan dari titik pinalti untuk mendapatkan skor dari kedua tim. Yang kemudian dimenangkan oleh tim lawan.


Ada raut kekecewaan dari Uwais dan timnya. Namun, mereka tetap bersuka cita karena sudah ikut serta memeriahkan acara HUT sekolahnya di tahun ketiga mereka menuntut ilmu di situ.


🌼

__ADS_1


"Ditungguin taunya kalah juga, kan?" gerutu Arrida ketika mereka sudah tiba di UKS. Nana, Hani dan Roni mengikuti keduanya.


"Pertandingannya seri Ar, kalo toh menang pinalti itu hanya karena faktor lucky aja,"


"Sama aja ... yang orang tau kan kelas kakak kalah," kata Arrida kemudian mengambil ice pack dari dalam lemari pendingin yang ada di ruang UKS.


"Tapi secara bertanding, kekuatan kita seri, Ar," Uwais tetap mempertahankan argumennya. Ia kini sedang duduk di bed, kakinya ia selonjorkan. Sementara Roni, Nana dan Hani duduk di kursi yang ada di ruangan tersebut. Mereka menunggu sambil memainkan ponsel masing-masing. Ketiganya memang sengaja agar Arrida yang merawat Uwais.


"Kalo udah kalah ya, kalah aja, Kak," Arrida menaikkan kaki Uwais yang terkilir ke atas bantal, agar kaki yang terkilir lebih tinggi dari pinggangnya.


Kakinya memang sengaja diangkat lebih tinggi sehingga mengurangi resiko pembengkakan dan nyeri.


"Yang kalah tuh tim kelas mu, gak masuk delapan besar juga, kan?"


"Ish, kok jadi kelas aku sih, kita kan lagi bicarain kelas kakak yang tadi bertanding di final trus kalah,"


"Seri, Ar, kekuatan kita sama," kata Uwais sengaja menggoda Arrida. Ia suka melihat gadis kesayangannya ini ngambek-ngambek lucu menggemaskan.


Arrida menyipitkan matanya melirik Uwais, tangannya bergerak mengompres bagian kaki yang terkilir. Lihatlah, tatapan seperti inilah yang ingin dilihat Uwais, ketika Arrida melirik dengan menyipitkan matanya. Seperti ada sesuatu yang menggelitik perasaannya.


"Sudah sudah ... ini kenapa sih malah berantem kalah menang ... kayak suami istri yang lagi berantem uang belanja aja," kata Roni menengahi membuat Uwais dan Arrida menatap tajam ke arahnya. Kalimat terakhirnya itu lho ... suami istri lagi berantem??!! Hani dan Nana malah cekikikan melihat ekspresi keduanya.


"Kak Roni! Mau dikompres juga tuh mulut?" kata Arrida mengancam sambil mengacungkan icepack di tangannya.


"Hahaha, bener Ar, mulut Roni harus dikompres biar gak makin bengkak!" kata Uwais terpingkal.


Arrida dan Uwais pun terkekeh geli.


"Pegang ni, Kak," kata Arrida meminta agar Uwais memegang icepacknya kemudian menekannya ke bagian kaki yang terkilir. Uwais pun menurutinya.


Kemudian Arrida beralih mengambil perban elastis dari dalam lemari mini yang ada di ruangan itu.


Setelah kira-kira dikompres selama 15 menit, barulah Arrida membalut pelan bagian kaki Uwais yang terkilir mulai dari telapak hingga pergelangan kakinya.


"Dah beres," kata Arrida setelah menyelesaikan balutannya.


Uwais tersenyum dengan senyuman limited edition nya. Ia merasa bahagia, bahwa gadis pujaannya ini begitu perhatian. Hingga ada sesuatu yang membuat dia yakin kalau gadis dihadapannya ini juga memiliki perasaan yang sama dengannya.


Namun untuk saat ini dia belum bisa sepenuhnya memantapkan hati untuk mengungkapkan perasaannya pada gadis bermata bulat itu.


"Makasih banyak ya, Ar,"


"Hmm," Arrida mengangguk sambil tersenyum manis. Hingga membuat Uwais tidak tahan, serasa ingin mencubitnya. Ia menuju ke kotak obat, dicarinya obat pereda nyeri.


"Nih Kak, diminum dulu," kata Arrida pada Uwais sambil menyerahkan sebutir tablet pereda nyeri, dan segelas air dari dispenser.

__ADS_1


"Gak perlu lah, masih bisa buat jalan kok," Uwais menolak.


"Gak usah ngeyel," kata Arrida penuh pemaksaan.


"Diminum aja Wais, daripada istri lo marah-marah!" celetuk Roni.


"Huss, istri, istri, anak orang tuh, belum di akad, belum sah," Kali ini Nana yang berkomentar. Ia memukul lengan atas Roni. Jarak duduk mereka memang bersebelahan, jadi memudahkan Nana untuk memukulnya.


Uwais hanya tersenyum. Kemudian dia mengambil obat yang ada di telapak tangan Arrida dan segera meminumnya.


"Baru satu semester ikut PMR, kamu udah bisa melakukan pertolongan pertama, Ar, sip!" Uwais memuji Arrida sambil mengangkat ibu jarinya.


"Iya, dan kakak adalah orang pertama yang aku tolong,"


"Waah jadi bahan percobaan dong," kata Uwais menggerutu bercanda membuat kelimanya tertawa hangat.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


Hai kak readers


sehat selalu ya


makasih udah setia baca kisah Arrida dan Uwais


makasih atas dukungannya ya 😘😘😘


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


...Hai kak readers...


...mampir juga neh di novel sahabatku kak Senja_90 jangan lupa like, vote, komment yaaa...


Blurb : Kehamilan merupakan sebuah impian besar bagi semua wanita yang sudah berumah tangga. Begitu pun dengan Arumi. Wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter bedah di salah satu rumah sakit terkenal di Jakarta. Ia memiliki impian agar bisa hamil. Namun, apa daya selama 5 tahun pernikahan, Tuhan belum juga memberikan amanah padanya.


Hanya karena belum hamil, Mahesa dan kedua mertua Arumi mendukung sang anak untuk berselingkuh.


Di saat kisruh rumah tangga semakin memanas, Arumi harus menerima perlakuan kasar dari rekan sejawatnya, bernama Rayyan. Akibat sering bertemu, tumbuh cinta di antara mereka.


Akankah Arumi mempertahankan rumah tangganya bersama Mahesa atau malah memilih Rayyan untuk dijadikan pelabuhan terakhir?


Kisah ini menguras emosi tetapi juga mengandung kebucinan yang hakiki. Ikuti terus kisahnya di dalam cerita ini!



...Happy reading yaaaa😘😘😘...

__ADS_1


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


__ADS_2