Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
76. Secangkir cokelat hangat


__ADS_3

Hari ini keberangkatan Arrida ke kota X, menggunakan mobil. Selain Arrida sekeluarga, Uwais membawa serta Bu Tania. Sekalian ingin melihat tempat tinggal Uwais yang baru.


Adnan, pak Ridwan, dan Fariz tidak bisa ikut serta dikarenakan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.


"Wais, istirahatlah, biar ayah yang gantian nyetir" kata pak Arthur. Ia duduk disamping Uwais yang sedang menyetir.


"Gak papa, Yah, tadi kan udah istirahat, pas makan malam dan sholat"


"Tapi kamu dari pagi tadi lho, gak kesel?"


"Nggak, Yah... Ayah istirahat aja"


"Ya udah, hati-hati ya" Dan pada akhirnya pak Arthur pun tertidur. Keadaan dalam mobil begitu hening.


🌼


"Kak, kakak butuh apa?" Tanya Arrida. Dia duduk di bangku tengah tepat dibelakang Uwais. Disampingnya ada Bu Sofia dan Bu Tania.


" Lho ... Kamu gak tidur?"


"Nggak kak, baru aja bangun, kaget karna sepi banget ... Kakak pingin apa?"


"Gak ada Ar ... Tidur lagi aja, udah tengah malem, biar besok kamu bisa fit,"


"Kasihan, masa semuanya tidur, kakak gak ada yang nemenin,"


"Gak papa, paling dua jam lagi kita nyampe,"


"Biar aku temeni kakak, ya,"


"Hmm, terserah ... Asal kamu gak capek yaa,"


🌼


Sekitar pukul dua dini hari, mereka pun tiba di tempat Uwais. Lebih tepatnya semacam resto. Di bagian belakang tersedia tiga kamar, ukuran 3x3 m.


"Kamu udah pindah kesini Wais?" tanya Bu Sofia yang takjub dengan keadaan tempat Uwais. Berbeda dengan warung Cinta Pluto nya dulu. Bangunannya berukuran 15x15m². Di bagian depan dibuat untuk tempat makan resto, sementara di bagian belakang ada tiga kamar tidur, masing-masing ukuran 3x3m². Ada dua kamar mandi, dapur resto dan tempat sholat. Di bagian depan masih tersedia lahan untuk parkir dan taman mini. Luas tanah sekitar 25x30m².


"Iya Bun, udah tiga bulan ini,"


"Jadi ini nak, yang kamu beli itu? Wah, mamah seneng banget, jadi bisa sering-sering kesini," kata Bu Tania sambil memperhatikan sekeliling. Ia sampai menggelengkan kepalanya, tidak percaya jika anak bungsunya sangat luar biasa.


"Jadi ini punya kamu?" tanya pak Arthur ikut tidak percaya.


"InsyaaAllah yah, masih diusahakan jadi milik sendiri, sebagian masih pinjem uang dari mas Fariz,"

__ADS_1


"Luar biasa," pak Arthur menganggukkan kepalanya takjub.


"Doanya, Yah," kata Uwais memohon.


Arrida hanya bisa memperhatikan cowok pujaannya itu. Ia semakin mengagumi sosok Uwais, semakin cinta, dan semakin bersyukur. Rasanya ingin sekali dia mengatakan langsung "Hatiku Padamu Kak, I Love you" bukan lewat surat, karena nyatanya tak pernah ada surat balasan dari Uwais, dan juga tak pernah ada semacam ungkapan cinta dari cowok pujaannya itu. Walaupun selama ini, mereka memang begitu dekat layaknya sepasang kekasih.


Ah, kalau ingat hal itu Arrida selalu dibuat gemas dan kesal. Tapi, bagi Uwais sendiri apa itu penting? nyatanya dia sudah lebih dahulu serius dengan hubungannya bersama Arrida. Dia sudah mengantongi doa dan restu kedua orang tuanya dan orang tua Arrida. Itu sudah sangat cukup.


"Oiya, mamah, ayah, bunda, dan Arrida, tunggu disini ya, Uwais buatkan minuman hangat dulu,"


"Gak usah nak, kita mau istirahat aja," kata Bu Sofia, yang kemudian mendapatkan persetujuan dari pak Arthur dan Bu Tania.


"Oh, ya udah, ini kamar buat mamah, yang ini buat ayah dan bunda, dan yang satu lagi buat Arrida," kata Uwais sambil menunjuk kamar mana saja yang akan ditempati oleh keempatnya.


"Kamu dimana?" tanya Bu Sofia pada Uwais.


"Biar mamah sama Arrida aja," sahut Bu Tania memberi usul.


"Gak papa mah, Uwais bisa di sofa itu," kata Uwais sambil menunjuk sofa sudut dekat jendela kaca.


"Oh ya udah," Bu Tania mengangguk.


🌼


Ruangan yang ditempati Uwais sudah gelap hanya ada keremangan cahaya dari lampu teras dan cahaya dari ponsel Uwais.


"Eh, kakak ... Kakak juga belum tidur?" tanya Arrida dengan mata menyipit karena Uwais mengarahkan cahaya dari layar ponselnya ke wajah Arrida.


"Belum, kelewat masa ngantuk, mungkin habis subuh biasanya bisa tidur, kamu sendiri ngapain keluar?"


"Aku juga ga bisa tidur, ingin minum air hangat,"


"Oh, mau apa? susu hangat atau coklat hangat? Biar aku buatkan!"


"Gak usah kak, biar aku aja yang buat ... Lampunya dimana ya, Kak?"


"Oh iya bentar," Uwais segera menyalakan lampu hingga ruangan menjadi terang.


"Emang kamu tau tempatnya?" tanya Uwais setelah kembali di hadapan Arrida


"Enggak, makanya kakak tunjukin ...." pinta Arrida


"Ya udah, yuk... Sekalian, kayaknya minum yang anget-anget bisa bikin rileks ni tubuh,"


Arrida masih memindai ruangan yang sedang dipijaknya bersama Uwais, ruangan yang cukup elegan untuk kata 'dapur'.

__ADS_1


"Kamu pengen dibuatin apa? Susu atau coklat?"


"Sebenernya cuma pengen air putih hangat aja sih, Kak,"


Uwais tertawa. Namun ia segera memberikan segelas air putih hangat untuk gadis kesayangannya itu "Kamu tunggu ya, aku akan buatkan minuman coklat hangat untuk kamu,"


Arrida menurut, ia hanya memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan oleh Uwais saat membuat minuman coklat. Sebenarnya biasa saja. Tapi bagi gadis itu semua hal yang dilakukan cowok pujaannya itu adalah istimewa dan seksi.


Dan tidak butuh waktu lama, akhirnya dua cangkir minuman coklat pun siap.


"Nih buat kamu, kalo kamu belum pengen tidur gimana kalo kita duduk disana, nikmatin coklat hangat sambil lihat bintang," kata Uwais sambil menunjuk satu tempat yang hanya di sekat dengan penyekat dari partisi kayu.


"Aku terima tawaran kakak," kata Arrida bersemangat, sambil menerima secangkir minuman coklat hangat dari tangan Uwais.


🌼


Arrida dan Uwais tidak duduk berhadapan, tapi duduk bersebelahan menghadap dinding kaca yang besar. Ketika mereka duduk, keduanya bisa melihat keindahan langit malam, walau hanya dalam ruangan.


"Wah, indahnya! Langit tampak cerah, banyak bintang dan ada bulan sabit yang cantik," kata Arrida mengagumi keindahan langit.


"Kamu suka?"


"Hmm," Arrida mengangguk, sedikit melirik ke arah Uwais dan tersenyum.


"Kamu tau Ar, aku sengaja desain di bagian sudut ini sebagai tempat favorit ... Ketika aku merindukan seseorang yang jauh disana, aku akan menikmati secangkir coklat hangat sambil menikmati keindahan langit malam, begitu pun ketika turun hujan, aku akan duduk disini menikmati susu jahe hangat sambil merindukannya,"


"Wah romantis sekali, kakak merindukan siapa?" Arrida iseng bertanya, dia memiliki keyakinan, bahwa yang dirindukannya adalah dirinya, dia juga tidak berharap jika yang dirindukan oleh Uwais adalah orang lain.


"Belum nyadar?" Uwais melirik Arrida sambil menyeruput minuman coklatnya


"Apa?"


"Yang aku rindukan itu kamu! "


...🌸🌸🌸🌸🌸...


Makasih kakak readers udah mampir


Makasih udah baca


Makasih udah mendukung


Makasih juga like, favorit, vote dan komennya yaaa


Sehat selalu kakak readers

__ADS_1


Semoga suka dan terhibur...


☺️☺️☺️🥰🥰🥰👌🏻👌🏻👌🏻


__ADS_2