
"Ada apa, hm?" tanya Uwais lembut. Ia masih belum melepaskan genggaman tangannya.
"Kakak baik-baik saja?" tanya Arrida menyelidik. Satu tangannya memegang punggung tangan Uwais yang sedang menggenggam tangannya dan mengusapnya
"Iya,"
"Yang bener?" tanya Arrida tidak percaya.
"Baiklah ... Sebenarnya beberapa waktu lalu aku tidak baik-baik saja, apalagi waktu ngelihat tangan kamu digenggam oleh si uler, tapi saat ini, setelah mendengar panggilanmu, dan melihatmu, aku sangat sangat baik," kata Uwais sambil mengeratkan genggaman tangannya.
Arrida pun tersenyum tenang. Cepat sekali cowok pujaannya itu berubah moodnya hanya karena mendengar panggilan darinya dan melihat wajahnya.
πΌ
"Nah, udah, begini kan kak, menurut kakak bagus gak?" kata Arrida sambil memperlihatkan gambar poster buatannya di laptop. Uwais dari tadi memang memperhatikan dan mendampingi gadis kesayangannya itu dalam membuat poster digital sebagai tugas dari senior panitia PPKMB.
Saat ini mereka tengah duduk lesehan di taman belakang, menghindari ramainya resto. Uwais sengaja absen tidak membantu di resto, hanya untuk menemani gadisnya itu mengerjakan tugas.
"Hmm, iya, sip! Pintar!" puji Uwais sambil mengacak gemas pucuk kepala Arrida.
"Makasih ya, Kak, udah dampingi aku,"
"Kapanpun, Ar, InsyaaAllah aku siap dampingi kamu, dampingi kamu di pelaminan sekarang juga boleh," goda Uwais. Tidak serius.
"Gak boleh! ntar kalo udah lulus, aku mau!" jawab Arrida, dia tau kalau Uwais juga tidak serius.
"Tapi kamu udah punya KTP, kan?"
"Iya, tapi kan, bukan buat nikah sekarang juga kali,"
"Serius gak mau?" Uwais mendekatkan wajahnya beberapa senti di hadapan wajah Arrida, hingga membuat gadis itu tak berkutik.
"Ka-kak ... Gak usah macem-macem deh," kata Arrida sambil menelan salivanya. Wajahnya mulai memerah.
Ah, Uwais benar-benar menyukai wajah merona milik Arrida, dia sengaja membuat gadis kesayangannya itu salah tingkah. Menurutnya, itu sangat menggemaskan.
"Kenapa? Takut?" Uwais semakin menggoda Arrida
"Eh, ada bang Arman tuh!" kata Arrida mengalihkan pandangannya sambil telunjuknya terangkat menunjuk pintu belakang resto.
"Gak usah bo-ong, kalaupun ada, gak masalah, kan?" kata Uwais tanpa menoleh ke arah yang Arrida tunjuk.
Sekali lagi Arrida menelan salivanya yang sempat tertahan. Ia kembali menatap Uwais, yang wajahnya semakin dekat. Perasaannya tak karuan, jantungnya berdegup kencang.
"Ka-kak mau apa?"
"Menurutmu?"
"Ka-lo ka-kak makin dekat lagi ... Aku cium lho!"
"Kkhemm" Uwais berdehem seperti tersedak sesuatu, ia terkejut mendengar ucapan gadis pemilik mata indah itu, walaupun akhirnya ia tergelak juga. Ia segera menjauhkan wajahnya dari hadapan Arrida. Kemudian ia mengacak-acak pucuk kepala Arrida dengan sangat gemas.
"Ar ... Ar ... Bisa-bisanya seorang gadis ngomong kayak gitu sama seorang pria ... Harusnya yang ngomong seperti itu ... Pria pada gadisnya," kata Uwais masih menahan tawanya.
"Kenapa emangnya? Gak boleh?"
"Kamu kebanyakan nonton drama, Ar!"
"Iyakah?" Arrida malah sengaja mendekatkan wajahnya di hadapan Uwais. Kini keadaan berbalik. Arrida mulai menggoda Uwais, matanya mengerjap genit beberapa kali.
"Aish ... Anak ini!" Uwais segera menjauhkan wajahnya menghindari wajah Arrida "Gak usah macem-macem, Ar ... Ntar khilaf lho," kata Uwais mengulum senyum.
"Benar-kah?" Arrida masih mengedip-ngedipkan matanya sengaja makin menggoda Uwais. Ia tau, kalau cowok pujaannya itu tidak mungkin melakukan hal di luar batas.
"Ya Ampun ... Bener kata pak ustadz, kalo berduaan gini, yang ketiganya setan," kata Uwais sambil mengelus-elus dadanya. Ia menggelengkan kepalanya sambil tertawa gemas melihat tingkah menggoda gadisnya itu.
"Takut juga, kaaaan?" ledek Arrida. Ia miringkan kepalanya, dibawah wajah Uwais, agar bisa menatapnya. Matanya mulai memindai wajah cowok pujaannya itu.
"Gak takut, cuma nahan diri, Ar ... Dan itu ... Berat," ucap Uwais pelan, sambil menatap wajah Arrida dengan posisi kepala yang masih miring. Satu tangannya terulur meraih tengkuk leher Arrida sehingga membuat gadis itu menahan nafasnya, menahan salivanya, dan merasakan debaran jantungnya yang semakin tak karuan.
Hening sejenak. Masing-masing hanyut dalam tatapan mereka. Arrida masih menikmati hangatnya telapak tangan Uwais di tengkuknya seakan kepalanya disangga oleh telapak tangan Uwais. Walaupun jauh di dalam hatinya, ada getaran dan rasa aneh yang sulit dibendungnya.
__ADS_1
"Jangan suka menggoda, Ar," kata Uwais lirih
"Tapi ... A-ku su-ka meng-goda kakak,"
"Kalau aku tergoda gimana?"
"Aku ya-kin ka-kak bisa men-jaga,"
"Kalau aku khilaf gimana?"
"Maka aku ingatkan,"
"Caranya gimana, hm? Kalau sudah seperti ini? aku cium kamu lho ... Mau?" tanya Uwais, ia semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Arrida. Sangat sangat dekat.
Arrida memejamkan matanya kuat-kuat, menelan salivanya sangat berat, sambil merasakan sesak indah di dadanya. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Uwais. Ia hanya terdiam pasrah.
Tap
Ada sentuhan halus di bibir Arrida, membuat gadis itu segera membuka matanya. Dan yang pertama kali dilihatnya adalah senyum indah limited edition milik cowok pujaannya itu. Ia segera menegakkan badannya, bangun dari telapak tangan Uwais.
"Tadi itu apa?" tanya Arrida dengan polosnya.
"Apa?" Uwais tak mengerti.
"Kakak nyium aku beneran?"
"Hahaha ... Ya ampun, anak ini senengnya blak-blakan sama pria,"
"Ih, cuma sama kakak, kok,"
"Itu harus! Pokoknya cuma sama aku!"
"Iya, iya ... Jadi, tadi beneran?"
"Hahaha, Ar ... Ar, ngelihat wajah kamu merem ketakutan kayak gitu, apa iya aku melakukannya?"
"Jadi tadi itu apa?"
"Jadi ... Kalau aku gak takut, kakak akan melakukannya?"
"Saat kita udah siap ya ... Aku kan udah bilang, kita lakukan first kiss kita kalo udah nikah, ya,"
"Aish ... Kakak juga ternyata blak-blakan ngomongin soal ciuman,"
"Hahaha, gak papa, aku kan cowok, dan itu cuma sama kamu,"
"Iya deh iya ... Maaf ya kak, aku suka ngegoda kakak,"
"Gak papa, aku juga suka," kata Uwais terkekeh.
"Ishhh ... dasar!" kata Arrida sambil memukul lengan Uwais.
"Saling goda saling ngingetin," kata Uwais.
"Kalau aku yang khilaf gimana, Kak?" tanya Arrida.
"Ya udah, khilaf bareng aja gimana?"
"Astaghfirullahal 'adziiim ... Mau jadi apa generasi muda sekarang kalo khilaf," Arrida mengelus-elus dadanya.
"Jadi generasi khilaf lah, Ar,"
"Aaaah ... Gak mau! Aya aya wae," kata Arrida tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. (Aya-aya wae: ada-ada saja# sunda)
Uwais pun ikut tertawa, gemas.
"Oh iya kak, besok kita mau buat paper mob, doain lancar,"
"Iya, semoga bisa masuk rekor, pas angkatanku, sudah masuk rekor, tapi kemudian ada yang ngalahin rekornya dari kampus lain, "
"Wah, bisa masuk rekor juga ya,"
__ADS_1
" Iya, seru pokoknya,"
"Oh iya, kakak ikut UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) apa?"
"Dulu aku ikut KSR PMI, kalo di SMA itu PMR,"
"Ada ya, aku ikut juga ah,"
"Tapi aku udah gak aktif, Ar,"
"Kenapa?"
"Aku pindah UKM nya ke bidang bisnis, wirausaha,"
"Ada ya UKM seperti itu?"
"Iya lebih real,"
"Apa nama UKM nya, Kak?"
"RCP!"
Arrida mengernyitkan keningnya, tak mengerti.
"Resto Cinta Pluto,"
"Waaah ... Itu sih udah beneran usaha, kalau gitu aku ikut UKM RCP boleh, ya?"
"Kamu mau?"
"Hmm, gak papa kan? ada formulir pendaftarannya gak?"
"Gak perlu daftar ... Kamu diterima!"
"Perlu masa training gak?"
"Gak usah, silahkan bekerja langsung part time, saat kamu gak ada jadwal kuliah, l"
"Wah, asiknya ... Bisa punya uang jajan sendiri nih,"
"Hmm," Uwais mengangguk "Ya udah, pulang sekarang ya, udah jam setengah sembilan,"
"Siap!"
"Kamu juga masih belum meresume latin kan?"
"Santuuy, ntar selesai, kok,"
"Jangan terlalu malam, kalo udah beres tugasnya, terus istirahat, biar fit,"
"Okke,"
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈ...
Makasih kakak readers udah mampir
Makasih udah baca
Makasih udah mendukung
Makasih juga like, favorit, vote dan komennya yaaa
Sehat selalu kakak readers
Semoga suka dan terhibur...
βΊοΈβΊοΈβΊοΈπ₯°π₯°π₯°ππ»ππ»ππ»
Oiya kakak readers mampir juga ya ke karya temanku... recommended banget ngetπππ
Ini novelnya judulnya Noktah Merah karya Asri Faris
__ADS_1