Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
9. Cup sekilas (1)


__ADS_3

Seharusnya pagi ini matahari mulai menampakkan diri agar kehangatan pagi hari bisa mereka rasakan. Namun tampaknya matahari sedang enggan menyinari, dia terus bersembunyi di balik awan. Awan kelabu. Cuaca mendung. Sudah diperkirakan pasti sebentar lagi turun hujan.


Setelah tengah malam kegiatan pengambilan logo PMI, kini semua disibukkan membongkar tenda, dan mempersiapkan diri untuk acara sayonara (upacara penutup).


Ada rasa haru, dan bahagia bercampur. Walaupun kebersamaan mereka hanya dua hari, namun mereka merasakan kedekatan yang begitu luar biasa, layaknya seperti keluarga, baik itu dengan para pembina, kakak dewan maupun rekan-rekan lainnya. Sangat menyenangkan dan begitu berkesan di hati mereka. Tidak terkecuali di hati Arrida. Ada suatu kenangan indah yang tidak akan pernah dilupakan seumur hidupnya.


Setelah acara penutup, dari area perkemahan, sebagian besar dari mereka ada yang langsung pulang ke rumahnya masing-masing, karena sudah dijemput keluarganya, dan ada juga yang menuju ke sekolah terlebih dahulu, entah itu untuk mengembalikan tenda, peralatan, maupun perlengkapan lainnya atau untuk keperluan lainnya.


Bagi yang kembali ke sekolah disediakan dua mini bus engkel. Sisanya ada yang ikut naik motor dengan kakak dewan atau mobil dengan pembina.


Satu per satu sudah mulai meninggalkan area perkemahan. Tersisa satu mini bus dan satu motor milik kakak dewan yang masih belum berangkat. Mereka masih checking akhir. Memastikan tidak ada yang tertinggal di area perkemahan.


"Cepet! Kalian pergi, keburu turun hujan!" perintah Uwais pada Rian dan Asep yang akan menggunakan motor menuju sekolah.


"Siap, ndan laksanakan!" kata Rian bercanda. Namun ia segera menaiki motornya disusul oleh Asep.


"Hati-hati, ya!" kata Uwais ketika motor yang dikendarai Rian meninggalkannya.


🌼


Uwais segera menaiki bus, ketika hujan akhirnya turun tanpa permisi. Dia harus berdiri dengan keenam temannya yang lain, karena semua tempat duduk di bus sudah terisi. Dia berdiri di dekat pintu, seperti seorang kondektur.


"Tunggu, Pak!" Uwais menghentikan bus yang baru saja melaju ketika melihat Arrida berlari ke arah bus yang sedang dia tumpangi dari arah tempat seharusnya para andik menunggu jemputan.


"Itu masih ada yang ketinggalan!" kata Uwais sambil menunjuk ke arah Arrida, yang kemudian bus pun berhenti.


Arrida terengah-engah, mengambil udara sebanyak mungkin ketika dia sudah berada dihadapan bus. Uwais mengulurkan tangannya agar bisa diraih oleh Arrida. Namun sayang gadis itu hanya menatapnya, lalu dia pun segera menaiki bus dengan memegang besi pegangan pintu bus. Merasa ditolak, oleh Arrida, Uwais segera menarik uluran tangannya sambil menggeleng dan tersenyum.


Kini mereka berdiri berdekatan, berhadapan, hampir mengikis jarak mereka kalau saja tas ransel Arrida tidak menghalanginya. Tadi, sesaat ketika dia akan naik, dia langsung melepas ranselnya dan memeluknya, sehingga sekarang Arrida menggendong ranselnya di bagian depan.


Setelah Arrida naik, bus pun melaju dengan kecepatan sedang mungkin sedikit kencang.


"Kok ikut bis, Ar? " tanya Uwais pada Arrida. Menurut sepengetahuannya, Arrida termasuk dalam daftar andik yang dijemput keluarganya untuk pulang.


" Iya, Kak," jawab Arrida singkat.

__ADS_1


"Lho, kenapa?"


"Bang Adnan ga bisa jemput sekarang, abang ada kuliah tambahan, dosennya mendadak harus ke luar kota, jadi sekarang abang masih di kampus, dan baru bisa jemput nanti abis Dzuhur ... Jadi aku mutusin ke sekolah aja dulu, biar abang jemputnya di sekolah,"


Uwais mengerti. Ia menganggukkan kepalanya sambil memperhatikan wajah Arrida yang setengah basah karena sempat terkena air hujan. Refleks, tangannya menyentuh anak rambut Arrida yang terkena tetesan air hujan. Merapikannya.


Arrida mematung. Malu dan canggung.


"Woi ... Jangan pacaran di pintu bis, ntar jatuh keluar!!!" Ada suara Roni meneriaki Uwais dari tempat duduk paling belakang. Dibarengi tawa rekan lain yang ada di bis.


Uwais berbalik tanpa komentar. Dia hanya memberikan senyumnya yang lebar. Semenjak kejadian penyelamatan yang dilakukannya untuk Arrida, Roni memang tidak henti-hentinya menggoda Uwais. Risih, tapi entah kenapa dia menyukainya.


Namun dari tempat duduk belakang sisi lainnya ada Erna yang menatap penuh rasa tidak suka. Ada rasa cemburu dan iri melihat Uwais begitu memperhatikan Arrida.


Selama hampir tiga tahun dia bersama Uwais, meskipun berada di kelas yang sama dan satu organisasi, dia tidak pernah sedikitpun menerima perlakuan seperti yang Uwais berikan pada Arrida, padahal dia tidak pernah berhenti untuk selalu memberikan perhatian lebih pada Uwais, namun sayangnya, Uwais tidak pernah merespon sesuai yang diharapkannya. Kecewa sudah tentu, namun sampai saat ini dia belum menyerah untuk memperjuangkan cintanya pada Uwais.


Hening.


Ada rasa tidak nyaman dengan posisi berdiri mereka saat ini, namun entah bagaimana mereka seakan malah menikmatinya. Arrida terus menundukkan kepalanya karena malu, tapi seperti biasa, ada getaran aneh daan indah hadir di hati Arrida.


Sebenarnya Uwais juga sempat merasakan getaran aneh itu di hatinya. Namun segera dia tepis, apalagi setelah penolakan uluran tangan sebelumnya.


Bus tiba-tiba mengerem. Menghindari sesuatu. Bus sempat oleng, membuat para penumpang ikut oleng. Mereka ada yang berteriak karena terkejut. Ada yang beristighfar menyebut nama Allah. Ada yang latah, dan ada juga yang hanya mengelus dada menetralkan jantungnya.


Namun, tanpa ada satu pun yang menyadarinya, saat bus mengerem tadi, tubuh Uwais maju mendesak tubuh Arrida. Arrida mendongak menatap Uwais. Kedua tangan Uwais memegang pintu, menahan dirinya sehingga kedua tangannya ada diantara pundak dan kepala Arrida, seperti hendak memeluknya.


Cup


Ada yang mendarat kecil di bibir mungil Arrida. Sekilas. Hanya sekilas saja, sepersekian detik, ketika bibir Uwais menyentuh bibir Arrida tanpa sengaja. Keduanya terpaku, dengan perasaan yang bercampur aduk. Arrida mengerjapkan matanya, kemudian menoleh keluar.


"Ya ampun, apa itu tadi?" Bisik bathin Arrida.


"Hah ... Tidaaak ... First kisskuuu!" hati Arrida memekik.


"Kamu gak papa Ar? " tanya Uwais menetralisir kecanggungan. Jujur hatinya juga bergetar dengan apa yang baru saja terjadi. Walaupun tidak ada unsur kesengajaan, namun tetap saja membuat rasa di hatinya campur aduk.

__ADS_1


"Ya ampun ni orang tenang banget ... Gak tau apa kalo jantung ku mau copot!" Arrida masih bergumam dalam hati.


Setengah ragu-ragu, Arrida mengangguk. Ia masih berusaha untuk menetralisir keadaan hatinya. Kalau dia harus jujur, sebenarnya saat ini dia sedang tidak baik-baik saja. Tubuhnya setengah melemas. Kakinya terasa tidak bisa diajak kompromi untuk menopang tubuhnya.


Untung saja salah satu tangan Uwais menahannya agar tubuh Arrida tidak limbung dan jatuh keluar bus.


Arrida segera mengembalikan kesadaran, otaknya bekerja dengan cepat. Memerintahkan jantungnya untuk kembali normal.


Tak ada lagi percakapan setelahnya hingga bus tiba di pelataran sekolah. Semua penumpang turun, bahkan Arrida dan Uwais terlebih dahulu turun, karena mereka di bagian pintu bus.


Hujan masih mengguyur, Arrida segera berlari mencari tempat berteduh, tepatnya di mushola sekolah. Ia tidak memperdulikan Uwais kemana. Saat ini pikirannya hanya ingin menjauh dari Uwais, tidak ingin menunjukkan rasa malu dan canggungnya lebih lama di hadapan Uwais. Dia bermaksud untuk menenangkan dirinya dan mencerna apa yang sudah terjadi dan apa yang akan terjadi ke depannya.


Sementara Uwais setelah turun langsung membantu rekan-rekannya untuk menyimpan peralatan dan perlengkapan kemah di tempatnya. Dia juga berusaha menetralisir keadaan hatinya yang masih terasa canggung. Dia juga bergegas ke mushola sekolah untuk menunaikan sholat Dzuhur setelah semua peralatan tersimpan.


🌼


Arrida sedang mengutak-atik ponselnya mengirim pesan pada Adnan di pinggir teras mushola sekolah. Dia sudah memakai sepatunya. Sebelumnya, sudah beberapa kali dia mencoba untuk meneleponnya. Namun tidak diangkat.


"Ar ... Masih belum pulang?"


Deg


Arrida tau siapa orang yang menyapanya. Selain dari suaranya dia juga tau dari panggilan khusus untuknya yang hanya diberikan oleh Uwais.


"Ya Allah, kenapa harus ketemu lagi sih, padahal ini hati masih gak karuan, gimana ini? " gumam bathin Arrida. Dia memperhatikan Uwais yang ikutan duduk tidak jauh dari sampingnya. Wajahnya tampak segar dan masih agak basah.


"Astaghfirullah ... Ganteng banget ... Mau terus natap takut dosa," gumam Arrida dalam hati setengah cekikikan.


"Belum kak, ni tadi abis sholat dulu ... Kakak baru sholat?" tanya Arrida kini.


"Hmm," Uwais hanya mengangguk, "Belum dijemput?" tanyanya kemudian.


"Ini lagi nge-chat bang Adnan ... Mm, aku duluan ya, Kak, Assalamu'alaikum." Arrida langsung beranjak meninggalkan Uwais. Setengah berlari. Sementara Uwais hanya menatapnya sampai punggung Arrida tidak terlihat lagi.


"Wa'alaikumsalam" jawab Uwais. Dia memejamkan matanya, memikirkan sesuatu.

__ADS_1


...🌺🌺🌺🌺🌺...


.


__ADS_2