Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
20 Aku pasti menemukanmu


__ADS_3

"Ada apa Ar?" Uwais yang duduk tepat di hadapan Arrida menyadari kegelisahannya.


"Gak papa, Kak," Arrida mencoba menenangkan diri.


"Ada sesuatu?" Adnan mulai merespon.


"Gak tau Bang, kayak ada yang ngawasin Rida terus, tapi dicari gak tau siapa, ada atau nggak, juga gak jelas,"


"Perasaan kamu aja kali, Da," kata Nana mencoba untuk tetap tenang.


"Mungkin, tapi ini udah yang ke sekian kalinya," kata Arrida.


"Oh iya, waktu di halte tempo hari pas pulang sekolah juga kamu gelisah kan, Da, celingukan mulu kayak nyari siapa gitu," sahut Hani.


Arrida mengangguk.


"Sebenarnya pas pagi aku nyampe sekolah waktu itu juga udah ngerasa aneh aja, kayak ada yang ngawasin gitu, dan hari ini, dari mulai keberangkatan trus nyampe disini, bersih-bersih, aku juga masih merasakan hal yang sama," Arrida menyeruput jeruk hangatnya.


"Tapi waktu bang Adnan dateng, aku jadi lebih tenang, dan ini kerasa lagi, bikin hati gak enak banget, gak tau kenapa," lanjutnya.


Kelimanya mulai berpandangan menaruh kecurigaan.


"Ya sudah, gak papa, kan ada kita-kita," kata Adnan mencoba menenangkan. Arrida pun mengangguk.


Mereka pun kembali makan dengan hangat, sesekali mereka tertawa bercanda.


"Ar, coba lihat hape mu!" pinta Uwais.


Tanpa ada rasa curiga, Arrida pun segera menyerahkannya.


"Kuncinya apa?" tanya Uwais setelah menerima ponsel Arrida.


"2001,"


Uwais segera mengotak atik sebentar di ponsel Arrida. Entah apa yang sedang dilakukan. Namun keempat orang yang ada dihadapannya tidak peduli, mereka sedang asyik mengobrol.


"Nih hapenya, makasih!" kata Uwais sambil menyerahkan ponsel tersebut


"Buat apa sih, Kak?" tanya Arrida yang akhirnya penasaran.


"Hehehe nggak, cuma buat mastiin aja, wallpapernya udah ganti apa belum, ternyata belum, ya udah aku ganti jadi cowok tampan di balik sunset," jawab Uwais terkekeh.


"Ish, siapa yang ngijinin?"


Uwais mengedikkan bahunya sambil tersenyum lebar.


Arrida langsung membuka ponselnya, dan benar saja foto yang menjadi wallpapernya sekarang adalah foto Uwais yang sore tadi diambilnya.


Arrida mendelik menatap tajam ke arah Uwais.

__ADS_1


"Udah natapnya jangan serem gitu, jangan diganti ya!" kata Uwais percaya diri.


"Ya ampun kalian ini bertengkar mulu!" Adnan mencoba menengahi, "Ntar jadi jodoh lho, mau dijodohin?" celetuk Adnan. Nana dan Hani cekikikan melihat raut wajah Arrida yang memerah tersipu. Karena mereka tau banget perasaan Arrida pada Uwais. Sementara Arrida kikuk, Uwais hanya tersenyum santai.


"Abang ikhlas neh Arrida sama saya? Mau jadi kakak ipar saya?" tanya Uwais sedikit bercanda, walau di hatinya itu adalah pertanyaan serius.


"Hahaha itu seh gimana Arridanya aja," jawab Adnan sambil melirik Arrida.


"Arrida banyak yang ngantri, Bang, beberapa kali saya ditolak," ucap Uwais. Sebenarnya, maksud ditolak adalah penolakan saat Uwais mau menolongnya, Arrida selalu merasa bisa sendiri tidak butuh bantuan. Bagi Uwais, itu berarti Arrida sedang menjaga jarak dengannya.


"Usaha yang keras dong, tapi kalo aku jadi kamu, aku pasti sudah gak punya muka lagi dihadapan tu cewek yang udah nolak," ledek Adnan namun tetap memberikan semangat pada Uwais.


Uwais terkekeh. Sementara Nana dan Hani cekikikan.


Namun Arrida malah bingung ... 'ditolak'...


"Emang kapan Kak Uwais ngungkapin perasaannya, bukannya dia ya yang banyak dikelilingi cewek-cewek?" gumam batin Arrida.


"Yuk cabut, abis ini kita nonton ya!" ajak Adnan.


Ketiga gadis yang diajaknya bersorak gembira, mereka benar-benar akan menghabiskan malam dengan penuh kebahagiaan. Sementara Uwais hanya tersenyum.


🌼


"Bang, tunggu, Nana kebelet pipis, pengen ke toilet nih." Nana mengeluhkan dirinya yang ingin buang air kecil. Saat itu kelimanya sudah di tempat parkir kendaraan.


"Da, anterin yaaa!" pinta Nana pada Arrida.


Arrida mengangguk, sambil memasukkan ponselnya ke dalam ransel.


🌼


Nana sedang di dalam toilet. Arrida menunggu di luar. Tiba-tiba dari arah belakangnya ada seseorang mendekati Arrida sambil menempelkan sesuatu di punggung Arrida. Terasa tajam.


"Jangan teriak, kalau tidak mau pisau ini menembus tubuh kamu!" gertak orang tersebut. Arrida mematung terkejut. Dia tidak tau harus berbuat apa. Teriak kah? Lari atau apa? Otaknya mendadak tidak bisa bekerja.


"Ikuti saya! Jalan!!!" perintah orang tadi dengan sedikit penekanan. "Dan jangan membuat orang curiga, kalau tidak ingin saya berbuat gila!!!"


Arrida menelan salivanya susah payah. Tubuhnya yang sedang gemetaran tiba-tiba saja menurut dengan apa yang dikatakan oleh orang yang sedang mengancamnya.


🌼


"Yuk, Da!" ajak Nana pada Arrida setelah keluar dari toilet.


"Lho, Da!" Nana celingukan mencari Arrida. Perasaannya langsung tidak karuan.


"Arridaaa!" Nana panik, "Oh tidak! Jangan lagi, Da!!"


Nana semakin cemas mengetahui Arrida tidak ada. Ia segera berlari ke tempat dimana mobil Adnan terparkir.

__ADS_1


"Abaaaang, Arrida hilang!!" Nana tiba di tempat mobil Adnan terparkir. Dia mengatur nafasnya agar bisa lebih normal.


"Ya Tuhan, yang bener, Na, kamu yakin?" Nada suara Adnan agak meninggi karena cemas.


"Iya, Kak, aku ke luar toilet Arrida udah gak ada, aku udah cari di sekitaran toilet, Arrida tetep gak ada," jelas Nana.


Uwais diam dalam keterkejutannya. Hani memeluk Nana menenangkan.


"Kamu yakin Arrida gak ikutan masuk ke toilet, Na?" tanya Hani menyelidik.


"Iyya Han, aku udah cek, nyampe aku teriak teriak tapi gak ada yang nyahut," Nana mulai menangis


"Kenapa mesti pas Arrida nungguin aku, pasti ada aja sesuatu terjadi ma dia," isak Nana menyesali.


Adnan mengusap wajahnya kasar. Netranya berkeliling berharap menangkap bayangan Arrida. Namun nihil. Arrida tidak terlihat.


"Apa mungkin Arrida diculik orang?" Nana malah menduga-duga yang membuat parno.


"Kita berpencar, Bang, cari Arrida, kalo emang dia dibawa orang, pasti dia akan butuh kendaraan, Wais yakin Arrida masih ada di dekat sini," usul Uwais.


Adnan mengangguk.


"Kalian berdua tunggu disini ya, siapa tau Arrida balik kesini," kata Adnan pada Nana dan Hani. Mereka berdua pun mengangguk.


Uwais dan Adnan segera berlari, mencari ke seluruh penjuru tempat parkir, di setiap mobil yang terparkir, mereka melongok memastikan ada orang di mobil. Uwais juga mencari dan bertanya di gerbang masuk area pantai dan tak segan bertanya pada orang-orang yang berpapasan dengannya. Tapi hasilnya nihil. Ia kembali ke tempat dimana mobil Adnan terparkir.


"Gimana Kak, Bang?" Hani bertanya setelah Uwais dan Adnan ada di hadapan mereka.


Keduanya menggeleng. Mereka mengatur nafasnya.


"Ini juga, udah dari tadi ditelpon gak diangkat-angkat," Nana masih panik, ia berusaha untuk menghubungi Arrida.


"Mungkin hapenya di silent," kata Adnan masih cemas.


Uwais menyadari sesuatu, ia segera mengambil ponselnya, mengotak atik sebentar. Tidak sia-sia ketika tadi dia meminjam ponsel Arrida, dengan dalih mengganti wallpapernya. Karena sebenarnya, dia bermaksud untuk mengaktifkan GPS di ponsel Arrida. Entah mengapa, hatinya tidak tenang, saat Arrida menceritakan tentang perasaan dan kecurigaannya, hingga akhirnya Uwais terdorong untuk mengaktifkan GPS di ponsel Arrida.


"Aku tau dimana Arrida ... Mudah-mudahan tidak meleset, ayo Bang, ikuti aku!" kata Uwais sambil langsung menuju motornya, sementara Adnan, Nana dan Hani segera masuk ke mobil.


🌼


Dengan perasaan cemas yang tidak lagi bisa digambarkan, Uwais melajukan motornya, mengikuti arah yang ditentukan GPS. Dan Adnan terus mengikuti motor Uwais. Nana dan Hani saling berpelukan menguatkan dan melafalkan doa.


Uwais masih terus fokus, cemas dan takut bercampur di hatinya. Entah gimana, rasanya rapuh sekali perasaannya saat ini, hingga air matanya meluncur dari kelopak matanya.


"Ya Allah ... Lindungi dan selamatkanlah Arrida!" Doa Uwais dalam hati


"Bismillah ...." gumamnya "Aku pasti menemukanmu!"


...🌸🌸🌸🌸🌸...

__ADS_1


__ADS_2