Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
107. Biarkan aku sendiri


__ADS_3

Ah, panggilan itu. Panggilan yang sangat dia rindukan. Rasanya ingin sekali ia berlari mendekat dan mendekap tubuh Uwais. Namun tiba-tiba saja ia teringat akan kata-kata lelaki itu ketika menjawab pertanyaan Laura yang menyatakan bahwa dia bukanlah 'pacar'.


Akhirnya ia pun memutuskan tidak membalas sapaan dan tatapan itu, ia langsung berlari untuk menghindari Uwais.


"Tunggu, Ar," Uwais mengejar Arrida.


"Maaf Kak, jangan ngikutin aku." kata Arrida berbalik, sambil mengangkat telapak tangannya.


"Kita harus bicara," ujar Uwais.


"Tapi aku lagi gak mau bicara dengan Kakak."


"Plis, jangan seperti ini, kita selesaikan baik-baik ...."


"Kita gak ada masalah kok, Kak, akulah yang bermasalah." kata Arrida.


"Gak, pasti ada sesuatu, aku mohon, katakanlah!"


"Maaf kak, aku lagi ingin sendiri." kata Arrida. Ia kembali membalikkan badannya lalu melangkah pergi.


"Plis, Ar." mohon Uwais sambil mencekal lengan Arrida.


"Maaf kak, biarkan aku sendiri." Arrida menepis tangan Uwais, kemudian berlalu dari hadapannya.


Uwais tak menyerah, ia mengikuti langkah Arrida berjarak dua meter dibelakangnya, memperhatikan gadis yang dirindukannya selama enam hari ini.


Arrida merasa risih, ia tahu kalau Uwais mengikutinya. Ketika ia menghentikan langkahnya, Uwais ikut berhenti, jika ia kembali melangkah, Uwais pun ikut melangkahkan kakinya.


"Jangan ngikutin aku, kak!" kata Arrida sambil berbalik, dan menatap tajam Uwais.


"Aku gak ngikutin kamu, Ar, kita sedang jalan di jalan yang sama."


"Bohong," ucap Arrida, nadanya terdengar manja. Ah, nada manja yang benar-benar dirindukan oleh telinga Uwais.


"Beneran," ucap Uwais meyakinkan.


"Ya udah, kakak jalan duluan aja." kata Arrida mempersilahkan Uwais berjalan lebih dulu.


"Kamu duluan, Ar ... Cepatlah, udah mau hujan, lihat ... Udah mulai gerimis, walaupun ini jalan pintas, tapi untuk ke asrama kamu masih cukup lumayan ...."


"Bodo amat, mau aku kehujanan atau nggak, apa peduli kakak."

__ADS_1


"Aku sangat peduli," kata Uwais sambil melangkah mendekati Arrida.


"Jangan dekat, kalo gak, hati aku akan luluh," Gumam bathin Arrida. Hatinya berdebar kencang, ia tidak ingin Uwais mendekat, namun sisi lain hatinya, ia sangat menginginkan Uwais mendekatinya.


"Ar, aku merindukanmu!" kata Uwais sambil memeluk Arrida.


Gadis itu tak menolaknya. Namun ia terdiam tak membalas dekapannya, hanya tangisnya mulai membasahi kedua pipinya. Ah, rindu, ya, dia sangat merindukan lelaki ini, namun dia juga merasakan sakit hati yang teramat dalam.


"Lepas, Kak, plis ...." ucap Arrida lirih.


Uwais mendengarnya, namun ia malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Gak, aku gak akan melepaskan kamu, aku gak mau kamu pergi lagi."


Arrida bergeming.


"Lepas Kak, jangan gini!!" kata Arrida sambil mendorong tubuh Uwais dengan sekuat tenaganya


Uwais terhenyak, ia mundur satu langkah akibat dorongan dari Arrida.


"Tolong, Ar, katakan ... Ada apa sebenarnya, aku gak tau apa kesalahan yang udah aku perbuat sama kamu? Terakhir kita masih baik-baik aja kan? bahkan aku akan mengantarkanmu membeli sebuah buku ... Lalu kenapa kamu tiba-tiba menghindariku?"


Arrida terdiam, sementara gerimis halus masih saja turun, keadaan mereka menjadi sedikit basah dan dingin. Namun keduanya seperti tak ingin saling meninggalkan. Masih ada kerinduan, dan tanda tanya di hati masing-masing. Mungkin, memang sudah saatnya Arrida berbicara dengan Uwais tentang perasaannya selama ini.


"Apa maksud kamu?" Uwais tak mengerti. Hatinya mulai merasakan nyeri.


Arrida malah mematung. Air matanya semakin mengalir bersamaan dengan gerimis halus yang mulai samar-samar membasahi wajahnya.


"Ini yang kedua kalinya, sikap kamu berbeda, Ar, pertama ketika kamu liburan, aku merasakan ada yang berbeda dari kamu, tapi aku mencoba untuk tetap memahami keadaanmu, ketika aku tanyakan kamu selalu mengalihkan dan tidak ingin membicarakannya, dan ini yang kedua kalinya ... Kamu bukan saja berubah, tapi juga menjauhiku, Kamu tau Ar, aku merasa benar-benar menjadi Pluto," jelas Uwais.


"Aku yang Pluto kak, aku ada, tapi ternyata aku bukan apa-apa, aku bukanlah siapa-siapa untuk kakak."


"Aku gak ngerti Ar, apa maksud kamu?"


"Aku capek jalani semua ini Kak ... Aku ingin berjalan sendiri tanpa kakak,"


"Aku masih nggak ngerti, coba jelaskan!"


"Kita sudahi aja hubungan yang gak jelas ini, aku juga gak ingin membebani kakak, kakak bebas sekarang."


Ada nyeri yang kini benar-benar Uwais rasakan di ulu hatinya, ia merasa bingung dengan penuturan yang disampaikan oleh gadis kesayangannya itu.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa harus seperti ini? Kenapa kamu tiba-tiba begini? Aku enggak ingin berakhir, hubungan kita jelas kok!" ujar Uwais sedikit berteriak dengan nada yang tertahan karena sakit di hatinya. Dadanya terasa sesak. Nafasnya tercekat sesaat.


"Kakak jangan egois, jangan cuma bisa mentingin diri sendiri,"


"Apa maksudmu? Aku egoisnya dimana?" Uwais semakin tak mengerti.


"Kakak semaunya sendiri, datang dan memperhatikan aku sesuka hati tanpa memberi kejelasan hubungan kita itu apa?"


"Maksudnya?" Uwais tak mengerti, bukankah selama ini hubungannya dengan Arrida itu jelas dan sangat serius, bahkan dia sudah mendapatkan restu dari orang tua Arrida dan kedua orang tuanya.


"Coba kakak jawab aku, karna aku sendiri ga yakin, selama ini, aku itu siapa buat kakak? Aku gak ngerti status kita itu apa! Sampai jika ada yang tanya, apa aku pacar kakak atau bukan ... Aku nggak tahu harus jawab apa, kakak emang tidak pernah mencintai aku!"


"Apa maksudmu?"


"Dari awal emang hanya aku yang suka kakak, tanpa aku tau kakak suka aku atau tidak!"


"Aku menyukaimu, Ar!"


"Hemgh... !" Arrida tersenyum sinis. "Tapi kakak tidak pernah mengucapkan cinta atau sayang yang menyatakan resminya hubungan kita!" kata Arrida mulai meninggi.


Uwais mengerutkan keningnya, ia mulai memahami maksud yang disampaikan oleh gadis kesayangannya itu.


"Aku yang bodoh, sekarang aku sadar, kalo disini hanya aku yang mencintai kakak,"


"Nggak, Ar, aku sayang kamu, aku cinta kamu!!"


"Basi kak, udah telat, hati aku udah kelamaan nunggu!" ucap Arrida ketus.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


...Makasih kakak readers...


...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...


...Makasih atas dukungannya, like, favorit n kommentnya...


...Sehat selalu ya kakak readers...


...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......


...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...

__ADS_1


...πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ˜πŸ˜πŸ˜...


__ADS_2