Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
136. Cup sekilas (2)


__ADS_3

Uwais menatap istrinya yang tengah tertidur pulas dalam dekapannya. Meskipun keremangan cahaya lilin di kamarnya sudah meredup dan sudah dipastikan sebentar lagi tak ada penerang karena api di lilin akhirnya padam. Ia sangat suka melihat wajah Arrida, dan ia merasa bahagia bisa menikmati wajah Arrida dengan jarak yang sangat dekat.


"Aku janji, aku pasti akan segera mengingatmu!" Uwais membelai kepala Arrida yang masih tertutup jilbab. Lalu mencium keningnya berkali-kali. Terakhir, ciuman di keningnya itu dia lakukan sangat dalam dan lama. Dari sudut matanya menetes buliran sebening kristal. Hatinya berdebar hebat, ada perasaan yang membuncah indah membuat ia secara reflek semakin merapatkan wajahnya, dan dengan sadar ia mengecup sekilas bibir Arrida. Lembut. Namun hanya sekilas.


"Maafkan aku, belum bisa mengingatmu! Tapi aku suka setiap melihat kamu, aku suka gaya bicara kamu, aku suka senyuman kamu, dan aku memiliki perasaan aneh dan indah setiap bersama kamu, apakah ini Cinta?" Uwais bermonolog. Entah kenapa saat dia mengatakan 'Cinta' di ujung kalimatnya, bayangan saat Arrida digendong olehnya ketika pertama kali dia memanggil Arrida dengan sebutan 'Cinta' tiba-tiba saja muncul di kepalanya.


***"Aku lebih kangen daripada kamu, Cinta!"


"Eh, kakak manggil apa?"


"Cinta."


"Aku suka." ***


Ia memejamkan matanya kuat-kuat berusaha mengingat. Ya, itu bayangan saat Arrida kembali ke rumah tua tempat dia disekap oleh Laura. Tampak jelas dalam ingatannya. Namun, hal itu membuat sakit di kepalanya muncul dengan hebat. Ia sengaja menahannya tanpa suara, agar gadis kesayangannya itu tidak terbangun. Hingga akhirnya dia pun ikut tertidur.


🌼


"Ya Alloh, baru kali ini aku bisa tidur nyenyak setelah banyak kejadian," gumam Arrida. Ia melirik sekilas ke arah Uwais, kemudian tersenyum. Penerang kamar memang sudah tidak ada lagi subuh itu, namun ia masih bisa merasakan ketampanan wajah suaminya itu. "Semalam, aku tidur dalam pelukan kakak? Pantesan nyaman banget," gumamnya lagi. Tangannya terulur mengusap lembut pipi Uwais.


"Eh, aku juga kayak mimpi, semalam aku kayak dicium kakak?" ucapnya dalam hati. Ia tersenyum-senyum sendiri, berharap jika yang dia rasakan semalam adalah nyata, bukan mimpi. Akhirnya dengan sadar dan malu-malu, ia mengecup sekilas bibir Uwais. Hanya sekilas. Kemudian ia segera membenamkan kembali wajahnya di dada bidang milik Uwais. Ia juga tahu, jika yang dia lakukan akan dilupakan oleh Uwais. Namun, tanpa diketahui oleh Arrida, ada senyum yang terbit di wajah Uwais, sesaat setelah Arrida mengecup sekilas bibirnya.


🌼


"Jadi, kalian beneran mau ke kota X?" tanya Fariz pada Arrida.


"Iya Mas, Rida udah seminggu lebih gak ikut praktek lapangan, Rida harus secepatnya ngurus kuliah Rida,"


"Lalu Uwais?" tanya Fariz.


"Kemarin Rida udah konsultasikan sama dokter Indah yang nangani Kak Uwais, dia sangat setuju jika kak Uwais ikut serta, dia juga merekomendasikan dokter syaraf di kota X, temannya, biar kak Uwais bisa cek up lebih intens, karena disini para dokternya sedang disibukkan penanggulangan pasca bencana,"


"Kapan berangkatnya?"


"Nanti malam, ada pesawat, tapi sebenernya buat angkut para pasien kritis yang harus dibawa ke kota terdekat biar ditangani,"


"Terus, kok kalian bisa ikut?"


"Iya, ada beberapa penumpang seperti kita dibolehin ikut, kebetulan, Rida dapet rekom dari dokter Indah, trus dibantu juga sama mas Nael ketua tim relawan dari kota X,"


"Berarti, kalian nanti nggak langsung ke kota X?" tanya bu Tania kali ini.


"Iya, Mah, nanti pesawatnya kan transit di kota terdekat dengan kota ini, palingan kita bakal naik bis, tapi kalo bisa kereta, itu lebih baik,"


"Iya, mudah-mudahan lancar perjalanannya, sehat, selamat!" ujar bu Tania.


"Oh ya udah, mudah-mudahan disana Uwais cepat ingat," kata Fariz kemudian mendapat anggukan dari bu Tania.


"Aamiin," ucap Arrida dan Uwais bersamaan.


"Ini juga nanti mau pamitan ke bunda dulu sekalian jenguk bang Adnan dan Hani,"


"Iya, iya, salam buat bunda dan Adnan ya," kata Fariz memberi pesan.


Arrida mengangguk.


🌼


Beberapa mobil, ambulan, bis dan truk membawa penumpang ke pangkalan udara. Arrida dan Uwais ada di atas truk bersama penumpang lainnya. Mereka turut merasakan bagaimana rasanya jadi pengungsi. Berdesakkan dan berhimpitan. Duduk dengan menekuk lutut. Selama di truk Uwais sama sekali tidak melepas genggaman tangannya, bahkan sesekali mendekap tubuh Arrida, ia benar-benar ingin melindungi istrinya itu. Hingga akhirnya mereka pun tiba di pangkalan udara. Kemudian, mereka dan penumpang lainnya segera masuk ke pesawat, kurang lebih setengah jam mereka pun tiba di kota tujuan.

__ADS_1


Kini Arrida dan Uwais sedang di terminal, menunggu bis yang akan mengantarkan mereka ke kota X.


"Maaf ya, Kak, kita pergi dalam keadaan seperti ini!" kata Arrida.


"Aku gak papa, aku justru mengkhawatirkan kamu!" ujar Uwais sambil mengusap lembut pucuk kepala Arrida dan membuat gadis itu mengangguk.


"Aku ingin ke toilet dulu," kata Uwais.


"Biar aku anter, ayok!"


"Hei, gak usah!" Uwais menolak.


"Kakak yakin?"


"Hei, aku cuma hilang ingatan, bukan bodoh, aku tau arah toilet dan pasti bisa kembali ke sini!" protes Uwais yang merasa kalau Arrida menyepelekannya.


Arrida terkekeh.


"Bukan itu maksud aku, Kak!"


"Lalu apa?" tanya Uwais sambil mencari jawaban dari mata Arrida.


"Oooh, atau kamu takut aku tinggal ya?" tanya Uwais menggoda.


Arrida makin terkekeh.


"Iya, aku takut Kakak kenapa-kenapa dan gak kembali!"


Uwais tersenyum merasa lucu.


"Ya udah, kamu ikut aku tapi jangan masuk!"


"Ish," Arrida menyipitkan matanya menatap Uwais membuat lelaki itu tergelak.


🌼


Arrida menunggu di toilet, ia sengaja berdiri bersandar di luar toilet. Tangannya mengutak-atik ponselnya yang mulai aktif.


"Kamu Arrida, kan?" tanya seseorang dengan nada yang sangat berat.


Arrida mendongak, melihat siapa yang menyapanya.


"Benar kamu Arrida, walaupun kamu sekarang dijilbab, aku tidak akan pernah lupa dengan gadis kecilku!" ucapnya menyeringai.


"Pak Jefry?!!!" kata Arrida tak percaya. Dia benar-benar terkejut, terlebih ketika tangannya langsung di tarik paksa meninggalkan toilet.


"Lepas, Pak! Tolong!!" teriak Arrida memberontak.


Bugh


Sebuah pukulan mendarat di pipi pak Jefry.


"Jangan pernah sentuh istriku!!!" teriak Uwais, orang yang memberikan pukulan di pipi pak Jefry. Beruntung, Uwais keluar dari toilet ketika Arrida di tarik pak Jefry yang menurutnya adalah orang asing.


"Ya ampun, aku bener-bener sial!! Lagi-lagi kamu!! Selalu kamu yang bersama Arrida!!" kata pak Jefry sambil berlari ke arah Uwais dan hendak memukulnya.


Namun ia malah jatuh tersungkur saat kaki Arrida sengaja menghalangi dengan menendang perutnya dari samping. Kemudian gadis itu tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia segera menghampiri pak Jefry yang hendak bangun, lalu menendangnya lagi, lagi dan lagi. Hingga pak Jefry merasa kesakitan dan kelelahan. Orang-orang mulai berdatangan, termasuk petugas keamanan.


"Jangan pernah bapak mengganggu aku, apalagi sampai menyakiti suamiku!! Paham?! Satu saja pukulan mampir ke suamiku, aku pastikan puluhan pukulan akan melayang di tubuh Bapak!!"

__ADS_1


Uwais terbelalak melihat aksi istrinya itu.


"Siapapun petugas keamanan disini, tolong amankan dia, karna dia berusaha mengganggu dan menculik saya!!" kata Arrida sambil memperhatikan orang yang datang dan mengelilinginya.


"Ayo, Kak, kita pergi! Biarkan dia disini!!!" ucap Arrida sambil menarik lengan Uwais untuk pergi dari tempat itu.


🌼


"Kenapa, Kak?" tanya Arrida, ia merasa jika suaminya itu sedang keheranan dan merasa aneh terhadapnya. Saat ini mereka sudah berada di bus yang akan menuju kota X.


"Kamu sangat luar biasa, aku nggak nyangka istriku begitu tangguh,"


Arrida tersenyum.


"Kakak tau siapa dia?"


"Orang yang mau nyulik kamu, kan?"


"Dia adalah orang jahat, yang sudah melukai perut Kakak!"


"Apa? Benarkah?"


Arrida mengangguk meyakinkan.


"Berarti dia orang di masa lalu?" tanya Uwais.


"Iya, bagian dari masa lalu kita! Aku juga gak nyangka kita bisa ketemu lagi setelah sekian lama, mungkin dia sudah bebas dari penjara, atau kabur karena peristiwa gempa dan tsunami!"


"Tapi syukurlah kamu selamat, eh, apa kamu emang punya bela diri?"


Arrida mengangguk dan tersenyum.


"Tapi tetap saja, aku sangat mencemaskanmu!"


🌼


Arrida tertidur sambil bersandar di lengan kekar Uwais. Ia benar-benar merasa nyaman. Walaupun Uwais melupakannya namun ia merasa bahagia karena Uwais tetap memperhatikan dan memberikan rasa cinta kepadanya.


Diam-diam Uwais mengecup lembut pucuk kepala Arrida, dan tanpa sepengetahuan Uwais, gadis itu merasakan kecupannya itu. Nyaman.


Kemudian dia mendongak menatap wajah Uwais dengan jarak yang begitu dekat, membuat suaminya itu terkejut, hingga tanpa sengaja, bibir Uwais mendarat di bibir Arrida. Cup. Hanya sekilas.


Keduanya terpaku cukup lama. Menetralkan degup jantung mereka yang tak karuan.


"Apakah ini first kiss ku setelah nikah?" tanya Arrida dalam hati.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


1 Ramadhan 1434 H/ 3 April 2022/ Ahad


...Makasih kakak readers...


...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...


...Makasih atas dukungannya, like, vote, comment dan favoritnya...


...Sehat selalu ya kakak readers...


...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......

__ADS_1


...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...


...πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ˜πŸ˜πŸ˜...


__ADS_2