Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
79. Wallpaper (obat rindu)


__ADS_3

Kini Arrida dan Uwais baru saja sampai di resto, membawa tas belanja yang tertinggal di tempat Mpok Imah beserta sekantung plastik besar berisi beberapa bungkus nasi uduk.


"Dari mana aja kalian? kok lama?" Bu Sofia menyapa Arrida dan Uwais.


" Arrida pengen lihat sunrise bun" jawab Uwais.


"Jadi tadi kita duduk di pinggir jalan, untung masih belum terang"


"Trus kamu nurutin kemauan Arrida?" tanya Bu Sofia.


Uwais hanya tersenyum sambil melirik Arrida.


"Tapi emang indah kok Bun, besok kita lihat sunrise bareng" Arrida mengusulkan


"Iya Bun saking indahnya, mataharinya malah yang lihat kita, bukan kita yang lihat matahari terbit" Uwais menyindir.


"Gak mau ah, kalo harus duduk di pinggir jalan" kata Bu Sofia menolak ajakan Arrida.


"Ntar, kita ke pantai Bun, sore lihat sunset, abis ngurusin pendaftaran Arrida ke kampus dan ke asrama"


"Kamu gak capek Wais?" Bu Sofia masih bertanya


"Ntar istirahat, abis ini Bun, pendaftaran kan bentar, kemaren kan Uwais udah hubungi pak Anto bagian pendaftaran di kampus, ke asrama juga, Uwais udah menghubungi Bu Anita, nanti, kita tinggal nyerahin biaya dan berkas buat kelengkapan administrasi aja, sama lihat-lihat kampus dan asrama." Kata Uwais menjelaskan.


Dan akhirnya, Uwais, Arrida, kedua orang tuanya, Bu Tania, Kirno, Arman dan Andika sarapan pagi dengan nasi uduk yang dibawa oleh Uwais sebelumnya.


🌼


Hari itu, Arrida sudah menyelesaikan segala administrasi pendaftaran, baik di kampus maupun di asrama putri. Sore harinya mereka menyempatkan ke pantai untuk menikmati senja, sesuai janji Uwais kepada Bu Sofia.


" Ini kedua kalinya ya Ar, kita menatap sunset. Kalo dulu saat kita SMA, sekarang udah masa kuliah" Uwais berjalan berdua di belakang Bu Sofia dan Bu Tania. Mereka berjalan di bibir pantai sehingga ombaknya mengenai kaki mereka. Sementara pak Arthur hanya menunggu di pasir sambil mengambil foto.


"Iya kak, dulu kita bareng sahabat, sekarang bareng orang tua, padahal sekarang kita udah gede ya" Arrida cekikikan.


"Masih ingat sama cowok tampan di balik sunset?" tanya Uwais pada gadis itu.


"Udah luppa" canda Arrida


"Hmmm" Uwais melirik Arrida berpura-pura kecewa. Ia tau kalau gadisnya itu hanya bercanda.


"Hehehe... iya iya kak... aku gak akan lupa hal itu... Apa kakak juga masih inget sama gadis cantik dibalik sunset?"


"Bagaimana mungkin bisa lupa Ar... nih" Kata Uwais sambil memperlihatkan ponselnya. Ternyata, gambar Arrida waktu itu masih setia menjadi wallpaper di layar ponselnya.


"Waah" Arrida menutup mulutnya sambil tertawa.


"Wallpaper ini obat rinduku.... wallpapermu sekarang apa? ponselmu yang dulu kan hilang, aku gak pernah lagi lihat ponselmu"


"Ini" Arrida menyerahkan ponselnya pada Uwais.


Cowok tampan itu tersenyum. Sangat manis. Wajahnya tampak berbinar bahagia. Bagaimana tidak dia merasa bahagia, karena di layar ponsel gadisnya itu ada gambar Uwais yang sedang berdua dengan gadis itu saat di gazebo setelah acara perpisahan kelas dua belas.


"Cantik... gadis di ponsel ini sangat cantik" kata Uwais memujinya dengan tulus. Ia menyerahkan ponsel itu pada Arrida


"Cowok yang ada di ponsel ini juga tampan, bahkan aslinya semakin tampan" puji Arrida sambil menerima kembali ponselnya.


Uwais tertawa kecil.


"Tadinya kak, foto yang jadi wallpaper ku itu, yang waktu kita di perahu pak Ahmad. Kakak masih inget?"


"Oh yang itu, ini... aku buat sebagai layar chat"


"Wah, kalo layar chat aku yang ini kak, agar ketika aku ber chat ria, aku inget kakak" Arrida memperlihatkan foto Uwais saat duduk di perahu dengan senyuman limited editionnya.

__ADS_1


Senyuman di wajah Uwais semakin mengembang. Ia tidak percaya wallpaper mereka ternyata benar-benar dijadikan pengobat rindu.


"Kak, kenapa masih menggunakan foto itu sebagai wallpaper?"


"Karena itu foto kamu pertama yang aku miliki, pas sunset, cantik banget"


"Tapi aku jadi keingetan hal yang mengerikannya, waktu diculik pak Jefry" Arrida menghentikan langkah kakinya. Ia kemudian memukul pelan kepalanya beberapa kali sambil menggelengkan kepalanya, mencoba untuk menghilangkan kejadian buruk itu dari ingatannya.


"Hei sudah, yang diingat yang senengnya aja ya...." kata Uwais sambil memegang tangan Arrida dengan maksud menghentikan gadis itu untuk tidak lagi memukuli kepalanya.


"Ah bener juga, seharusnya aku ingat betapa besar pengorbanan kakak untuk aku" Arrida teringat perut Uwais yang sempat terluka. Ia mulai merasakan kembali keharuan.


"Saat itu aku panik banget Ar... aku hanya bisa berdoa untuk keselamatanmu..."


"Makasih kak, makasih untuk waktu itu, makasih untuk waktu yang sangat lama hingga nanti" Ucap Arrida berkaca-kaca.


"Sudah, ayok cepetan, tuh mamah ma bunda udah sampai di tempat ayah" kata Uwais sambil menunjuk Bu Sofia dan Bu Tania yang sudah menghampiri pak Arthur.


Hingga akhirnya waktu malam pun tiba, keadaan pantai masih saja ramai, walaupun bukan akhir pekan. Dan saat ini, mereka ada di tempat parkir sebuah rumah makan, kecuali Arrida yang masih ada di toilet. Sebelumnya mereka berlima menikmati makan malam di rumah makan tersebut.


"Eh maaf!! maaf gak sengaja" Arrida meminta maaf ketika dia menabrak seseorang hingga ponsel yang dipegang orang yang ditabraknya terjatuh. Gadis itu baru saja keluar dari toilet dengan tergesa


"It's Okay" jawab orang tersebut, kemudian mengambil ponselnya yang terjatuh.


"Ponselnya gak papa mas?" tanya Arrida pada pria yang ditabraknya tadi.


"Oh gak papa tenang aja, saya yang salah, karena terlalu fokus pada hape, dan gak ngelihat kamu..." Pria itu berdiri tepat dihadapan Arrida, ia langsung melepas kacamata hitamnya.


"Cantiiik!" gumamnya yang sengaja dikeraskan agar Arrida mendengarnya. Senyumnya mengembang, dan barisan giginya yang rapih terlihat jelas oleh Arrida.


"Sekali lagi maaf ya mas.. saya permisi dulu" Arrida tidak ingin berlama-lama berdiri dihadapan orang yang tidak dikenalnya


"Eits... tunggu...!" Tangan itu menghalangi langkah Arrida.


"Boleh kenalan?"


"Aih apa-apaan sih ni?" Bathin Arrida bergumam. Ia mulai merasa risih.


"Maaf mas saya harus cepetan, saya sudah ditunggu" Arrida malas berurusan dengan pria yang baru pertama kali bertemu. Sangatlah tidak penting.


"Siapa? pacar?" tanya pria itu menyelidik. Penasaran siapa yang menunggu gadis cantik yang ada dihadapannya itu.


Arrida makin malas. Rasanya, pria ini terlalu percaya diri dan sok tau.


"Iya, maaf ya mas" kata Arrida cepat. Ia langsung melangkahkan kakinya hendak segera berlalu dari hadapan pria sok tahu itu.


"Ighh, ternyata udah punya pacar.. okkey... aku akan biarkan kamu pergi asalkan kamu mau kenalan dengan aku" Pria itu memaksa, sambil mencengkram lengan Arrida. Dia sengaja tidak akan membiarkan Arrida pergi begitu saja.


"Okke... lepaskan dulu tangan mas, pliss, yang sopan"


"Oh okkey nona cantik, maaf, saya gak bermaksud untuk tidak sopan, saya cuma gak mau kehilangan cewek cantik kayak kamu" Pria itu langsung melepas cengkramannya


"Jadi namamu siapa?"


" Ida" jawab Arrida singkat


"Oh, Ida.... boleh minta nomer telepon?"


"Gak hafal"


"Mana ponselmu?"


"Di tas, di mobil, tidak dibawa"

__ADS_1


"Jadi bener kamu gak hafal?" pria itu menatap penuh selidik.


Arrida mengangguk. Namun pria itu masih tidak percaya.


"Oh ayolah, aku tau kamu hafal, atau perlu aku antarkan kamu ke tempat pacarmu, biar sekalian dia kenal aku"


Arrida mengernyitkan keningnya. Ia makin sebal dengan pria yang ada dihadapannya ini.


"Mas gak usah aneh-aneh ya"


"Wah kayaknya kamu takut kalo pacarmu cemburu ya"


"Maaf aku harus pergi, dan aku rasa sebaiknya kita biasa aja.... cuma pertemuan yang tidak sengaja, cukup itu, gak perlu saling kenalan, toh hape mas juga gak kenapa-kenapa kan?"


"Siapa bilang? nih lihat!" Pria itu menunjukkan ponselnya yang di layarnya tampak garis retakan.


"Oh ayolah mas, gak usah nipu, tadi mas nya bilang gak kenapa-kenapa hapenya, sekarang tiba-tiba retak! aku tau itu retaknya udah lama kan?"


"Waw... " pria itu malah mengagumi sosok Arrida yang tidak gentar mengahadapi 'sedikit masalah'


"Kenapa?" Arrida malah merasa aneh, pria dihadapannya ini malah bilang 'waw?'


"Kamu keren" puji pria itu.


"Ish, aneh"


"Jadi berapa nomer telepon mu" pria itu memaksa lagi. Agar Arrida memberikan nomer teleponnya.


"Okke, sini hapenya" Arrida meminta ponsel milik pria tadi.


"Jangan bohong ya" kata pria tersebut sambil menyerahkan ponselnya ke tangan Arrida. Sebelumnya ia telah membuka kunci ponselnya


Arrida hanya tersenyum malas dan sinis. Kemudian ia mengetikkan beberapa angka di ponsel tersebut.


"Sudah nih" Kata Arrida sembari mengembalikan ponsel kepada pria itu


"Kamu kasih nama apa?"


"Cari aja sendiri"


"Okke, tadi namamu Ida kan"


"Hmm... aku udah boleh pergi kan"


"Okke nanti aku hubungi kamu ya... ingat... namaku Bryan... pake 'y' okke...!!!"


Arrida mengangguk. Lalu bergegas meninggalkan pria itu. Ada senyuman kecurangan terbit di wajah Arrida.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


Makasih kakak readers udah mampir


Makasih udah baca


Makasih udah mendukung


Makasih juga like, favorit, vote dan komennya yaaa


Sehat selalu kakak readers


Semoga suka dan terhibur...


☺️☺️☺️πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»

__ADS_1


__ADS_2