
Arrida sedang menunggu Uwais dengan harap-harap cemas di luar ruangan fakultas Uwais. Ia bisa merasakan ketegangan yang dihadapi oleh calon suaminya di dalam ruang sidang skripsi.
"Kamu gak pengen nunggu di deket ruangan?" tanya Fika pada Arrida. Mereka menunggu Uwais yang sedang melaksanakan sidang skripsi.
"Nggak, Mbak, rasanya malah makin cemas!" jawab Arrida.
Fika kini menjadi mahasiswa di Universitas B. Ia akhirnya memutuskan untuk kuliah lagi atas saran Arman. Walaupun mengambil kelas karyawan.
Malam itu, di depan semuanya, Fika mengiyakan lamaran pribadi Arman. Tiga bulan berikutnya, Arman datang bersama kedua orang tuanya juga Kirno. Sebenarnya, sempat terjadi konflik di keluarga Arman yang lain, karena status Fika yang janda. Namun, orang tua Fika yang memang dari awal setuju dengan hubungan mereka, membuat Arman dan Fika tetap menjalani kedekatan mereka. Sehingga sebelum Fika kuliah, Arman memutuskan untuk menikahi Fika. Kini, mereka sudah memiliki rumah di samping resto milik Uwais.
Dalam waktu satu setengah tahun, banyak hal sudah terjadi, selain Arman dan Fika yang menikah, Adnan juga akhirnya menikah dengan Hani. Tidak hanya itu, Uwais kini memiliki cabang resto di area alun-alun kota. Uwais mempercayakan Andika untuk mengelolanya, bersama Kirno dan ditambah dua karyawan yang membantunya. Sementara resto inti, ada Uwais dan Arman yang mengelolanya, ditambah tiga karyawan lain yang membantunya. Untuk halaman belakang resto yang masih luas, sudah dibangun rumah minimalis berukuran 8x12mΒ². Uwais sengaja membangunnya, untuk rumah masa depannya bersama Arrida. Tidak hanya itu dalam waktu setahun setengah ini, resto juga direnovasi menjadi lantai dua.
πΌ
"Emang gak pengen ngasih dukungan gitu di deket sana?" tanya Fika lagi menyelidik. Ia menunjuk tempat yang berada dekat ruang sidang skripsi.
"Nggak lah Mbak, tunggu di sini aja sambil berdoa, kalo liat kak Uwais, ntar malah gak fokus,"
"Eh tuh, Wais!" kata Fika sambil menunjuk ke arah pintu keluar ruang sidang skripsi. Arrida setengah berlari mendekatinya.
"Gimana, Kak?" tanya Arrida penuh harap dan cemas.
"Aku wisudanya bareng kamu aja ya!" kata Uwais, wajahnya dibuat sendu.
"Kak, serius? Kakak lulus kan sidangnya?"
Uwais mengangguk.
"Alhamdulillah ... Lalu kenapa kakak pengen wisuda bareng aku, kan masih lama,"
"Wisuda aja kan, gak papa!"
"Ih gak boleh, kakak harus segera wisuda, trus ambil S2 ya!"
"Kenapa? Kamu pengen jadi pendamping wisudaku?"
"Tentu, pendamping sidang, pendamping wisuda," kata Arrida tersenyum, "Bukankah aku setia?" tanya Arrida dengan wajah menggemaskannya.
Uwais mengangguk dan tersenyum, "Lalu menjadi pendamping hidupku, ya!" kata Uwais menyemangati.
"InsyaaAlloh, segera ya, Kak!" Arrida menyanggupi.
Fika segera menghampiri keduanya, lalu mengucapkan selamat pada Uwais.
"Makasih ya, Mbak! Lho, Mbak kok disini? Bukannya nungguin bang Arman di rumah sakit?" tanya Uwais yang sempat bingung karena setahunya, Fika sedang menunggu Arman yang sedang opname di rumah sakit karena penyakit tipus.
"Iya, tadi ada mamahnya bang Arman, minta mbak pulang dulu, istirahat, gantian katanya, tapi mbak bilang mau ambil salin aja, sekalian mampir bentar kesini lihat kamu sidang skripsi,"
"Oh ya udah, ayo kita pulang, nanti, kalo bang Arman udah sehat kita rayakan bareng," ajak Uwais pada Fika dan Arrida.
"Tunggu, Dek!" cegah Fika.
"Ada apa Mbak?" Uwais bingung.
"Kamu pulang ya, ke rumah papah," kata Fika pada Uwais.
"Ada apa, Mbak?"
"Kamu yang tenang, ya! Papah lagi kritis, dari kemarin masuk rumah sakit, mbak dan mamah sengaja nggak bilang sama kamu, agar konsentrasi kamu menjelang sidang tidak terganggu!"
__ADS_1
"Ya Alloh!" Uwais menarik nafas panjang. Ia melirik Arrida, dan gadis itu mengangguk, menandakan berita itu benar adanya.
"Pulang ya, sekarang juga, pake pesawat, biar cepet!" saran Fika.
"Lalu, bagaimana mbak Fika?" tanya Uwais.
"Mamah bilang tunggu bang Arman sembuh, baru pulang!"
"Ya udah, aku pergi hari ini," kata Uwais sangat pasti.
πΌ
"Aku berangkat ya, Cinta!" kata Uwais pada Arrida, saat ini mereka berada di bandara.
"Hati-hati, Kak, maaf aku gak bisa ikut pulang!"
"Aku yang minta maaf, karena gak bisa anter kamu praktek lapangan! Padahal besok hari pertama kamu praktek lapangan, kan?"
"Gak papa, Kak! Aku malah yang gak enak, karena belum bisa jenguk papah!"
"Besok, setelah papah sembuh, aku segera pulang kesini, ya,"
"Iya, Kakak ...." kata Arrida dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jangan nangis, kenapa? Kok sedih?"
"Eh! Gak tau, Kak, rasanya aneh aja," Arrida merasakan sesuatu yang berbeda, padahal dia sudah biasa mengantar Uwais pulang, karena delapan bulan terakhir, pak Ridwan sering keluar masuk rumah sakit.
"Aku kan udah biasa bolak-balik, sana sini, Cinta,"
Arrida mengangguk.
Uwais tersenyum.
"Jangan khawatir, berdoalah, yang tenang ya, biar aku juga tenang!"
Arrida mengangguk, sambil tersenyum.
"Sini!" ucap Uwais sambil menarik kepala Arrida kemudian menyandarkan di dadanya dan memeluk tubuh gadis itu erat. Arrida pun mengangkat kedua tangannya, mengeratkan dekapan, merasakan kehangatan pelukan kekasih hatinya itu. Ah, entah kenapa, rasanya berat sekali ditinggalkan oleh Uwais kali ini.
"Udah, jangan nangis, berdoa aja ya," ujar Uwais masih mendekap gadis kesayangannya itu.
"Iya, Kak," ucap Arrida sambil melepaskan dekapannya.
"Nanti, kalo pulang, jangan tidur di taksi, ya!"pesan Uwais.
"Gak jadi naik taksi, nanti Lani jemput aku, sekalian katanya mau jengukin bang Arman,"
"Oh, ya udah, hati-hati ya," kata Uwais.
Arrida mengangguk.
"Ya, udah ya, udah ada panggilan penumpang tuh, aku pergi dulu ya, Cinta," pamit Uwais saat mendengar panggilan penumpang pesawatnya.
Arrida mengangguk. Kemudian mematung melihat Uwais pergi sambil melambaikan tangannya.
"Kak!!" panggil Arrida saat Uwais sudah berjarak sekitar enam meter darinya.
Uwais menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap penuh arti pada gadisnya itu.
__ADS_1
Arrida segera berlari, kemudian kembali mendekap erat Uwais.
"Kakak, janji ya, akan kembali,"
"Iya, Cinta," jawab Uwais, dan Arrida pun mengangguk dalam dekapannya.
"Kalo udah sampai hubungi aku, ya, Kak!"
"Iya, Cinta, pasti!" kata Uwais sambil mengecup pucuk kepala Arrida.
"Aku sayang Kakak!" kata Arrida sembari mengeratkan dekapannya.
"Aku yang lebih dan sangat menyayangimu, Cinta!"kata Uwais sambil mengusap rambut Arrida.
Kemudian, keduanya pun melepaskan dekapan mereka.
"Udah ya, jangan sedih, aku pergi, Assalamu'alaikum." ucap Uwais sambil mengusap lembut pipi Arrida.
"Wa'alaikumsalam," Ucap Arrida sambil mengangguk. Ia pun akhirnya melepas kepergian Uwais dengan berat hati. Dihapusnya air mata yang menetes di pipi.
Ia berjalan keluar, berdiri di dekat pagar pembatas. Melihat pesawat yang terbang, pergi menjauh dan terlihat semakin mengecil.
"Hati-hati, Kak, I love you!" ucapnya dalam hati.
...πΈπΈπΈπΈπΈ...
Makasih kakak readers
Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini
Makasih atas dukungannya, like, vote, comment dan favoritnya
Sehat selalu ya kakak readers
Hatiku Padamu Kak readers pake banget...
Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa
π₯°π₯°π₯°ππ»ππ»ππ»πππ
ππππππππππππππππ
Hai kak readers mampir juga yuk, novel sahabat literasi ku, ini novel keren banget πππ
Judul: Surga Hitam
Karya: Tie_tik
Ini Blurbnya:
_Surga adalah simbolis dari seorang istri. Semua suami pasti berharap jika surga miliknya tetaplah suci sampai waktunya tiba. Begitu pun denganku, aku sangat berharap jika surga yang aku miliki nanti, tetap suci walaupun bagian luarnya banyak ukiran yang menghiasi. Ajisaka_
_Jika memang kesucian yang menjadi perioritas utamamu. Saya memilih mundur saja, karena saya hanya surga hitam yang tak pantas untuk di perjuangkan. Intan_
...**Happy reading yaaa...
...ππππππ...
__ADS_1
ππππππππππππππππ**