Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
54. rasa campur aduk


__ADS_3

Arrida terdiam, duduk tenang di bagian pojok kantin, ia sedang asyik memainkan game di ponselnya. Selalu seperti itu. Seperti sudah menjadi kebiasaan


dalam waktu enam minggu ini. Terkadang ia terlihat begitu tidak bersemangat. Walaupun sebenarnya keceriaan di wajahnya masih selalu terpancar, akan tetapi, jauh dalam hatinya ada nyeri di hati bagai disayat sembilu. Hari ini sebenarnya sedang class meeting hari ketiga. Minggu kemarin mereka baru saja menyelesaikan ujian akhir kenaikan kelas.


"Nah kan ngelamun lagi" Nana berkomentar sambil membawa nampan berisi tiga mangkuk bakso,


Hani di belakangnya, membawa nampan berisi tiga gelas jus.


"Aku lagi main game kok" Arrida berdalih.


" Kita tau kok Da, main game nya kamu itu cuma pelampiasan, dari pada mengingat 'dia' si lulusan terbaik tahun ini" Kata Nana sambil meletakkan mangkuk bakso di hadapan Arrida, Hani dan dirinya. Lalu dia mendaratkan tubuhnya di kursi yang ada dihadapan Arrida.


Arrida mematikan ponsel, lalu meletakkannya di atas meja di samping gelas jus alpukatnya.


"Aku ngerasa gak beda jauh ama cewek-cewek yang nembak kak Uwais " Lagi... Arrida mencurahkan isi hatinya untuk yang ke sekian kalinya. Ia merasa tidak berharga lagi, merasa rendah diri. Untuk pertama kalinya mengungkapkan perasaannya, dan diabaikan. Itu sama saja dengan penolakan secara halus.


"Maaf, gara-gara kita ngasih saran untuk terakhir kalinya, kamu malah jadi punya perasaan kayak gini" Hani menyesali apa yang pernah disarankannya kepada Arrida untuk mengungkapkan perasaannya pada Uwais.


"Ah kamu pesimis Da, kamu bilang waktu pertemuan terakhir kalinya kak Uwais bilang akan menghubungi kamu kan, dan kalian akan bicara kan?"


Arrida mengangguk pelan. Bakso yang ada di mulutnya dikunyah dengan sangat lambat.


"Tapi, nyatanya sudah hampir dua bulan kak Uwais tidak menghubungiku" ucap Arrida lirih, bahkan baksonya seperti tak kunjung halus meskipun sudah dikunyah berulang kali


"Da inget ga, kemarin waktu kita beli boba, kak Roni bilang kalau sebenarnya kak Uwais itu suka ama kamu kan, kalo menurutku kamu tunggu aja" Kali ini Hani memberi saran menyemangati.


"Tapi setidaknya, kalau dia udah tau, kenapa dia gak menghubungiku? "


"Kenapa gak kamu aja duluan yang menghubunginya?" Nana menyarankan, walaupun dia tahu pasti Arrida menolaknya. Cukup waktu itu saja, dia yang berinisiatif mengungkapkan perasaannya lebih dulu.


"Mulai kan... aku yang disuruh duluan... dia kemana? dia kan yang laki-laki" Arrida kecewa


Nana dan Hani kompak menarik nafas panjang. Mereka menyetujui apa yang dikatakan Arrida, kemana sebenarnya Uwais?

__ADS_1


🌼


"Han, Na...Arrida mana?" Tanya seseorang ketika Hani dan Nana sedang di GOR menyaksikan pertandingan basket antar kelas. Walaupun sebenarnya bukan kelas mereka yang bertanding.


"Kak Uwais???"Hani dan Nana kompak terkejut


"Gak usah kaget gitu, kayak lihat hantu"


"Ya ampun kak, kemana aja? " tanya Hani begitu saja


"Emang kayak hantu, pergi begitu aja, menghilang... trus sekarang tiba-tiba datang" celetuk Nana, membuat Uwais terkekeh


"Gak usah ketawa kak, kayak gak punya salah aja" Hani menggerutu


"Emang salah apa?"


"Kakak udah bikin Arrida gak semangat gara-gara nungguin kakak.... terakhir kakak janji mau ketemu dia dan bicara, kan?" jelas Hani tanpa basa-basi


"Dan udah buat dia malu, merasa terabaikan...." tambah Hani


"Kak... masa gak ngerti sih? Dia kan ngasih surat sebagai ungkapan perasaannya dia ke kakak... Dia udah ngumpulin keberanian buat ngomong suka ma kakak, tapi kakak hampir dua bulan ini mengabaikan, bahkan gak ngasih kabar sedikitpun, kakak nolak dia secara halus kan?" Hani menjelaskan panjang lebar


Uwais tersenyum.


"Gak usah senyum, bisa-bisanya tersenyum diatas penderitaan orang lain" Nana kali ini yang menggerutu


"Jadi, dimana Arrida?" tanya Uwais tidak ingin berlama-lama


"Buat apa kakak nemuin dia, dan lagi... emangnya Arrida masih punya muka untuk bertemu kakak?"kata Nana kesal


"Iya maaf, nanti aku jelaskan, dimana dia sekarang?"


"Dia baru aja pamit pulang kak, mungkin masih didepan gerbang, coba aja kakak kejar, siapa tau dia belum naik angkutan" Jawab Hani segera.

__ADS_1


Uwais segera berlari menuju gerbang sekolah, dilihatnya kanan dan kiri. Nihil. Akhirnya ia memutuskan ke tempat parkir, mengambil motornya, kemudian segera melajukannya menuju rumah Arrida dengan tergesa.


Sekitar lima belas menit kemudian dia sampai didepan rumah Arrida. Tapi tampaknya rumah kosong. Di tekan bel pintunya beberapa kali tidak ada sahutan dari dalam. Ia berpikir positif jika Arrida masih di jalan dan belum sampai ke rumah.


Akhirnya dia memutuskan untuk menunggu di motornya yang terparkir didepan pintu pagar rumah Arrida.


🌼


Arrida turun dari angkutan, ia harus berjalan beberapa meter untuk sampai di rumah. Langkahnya ia percepat, karena dia sudah merasa sangat lelah dan malas. Namun seketika langkahnya berhenti ketika melihat wajah yang sangat dirindukannya selama hampir dua bulan ini.


Arrida menelan salivanya dengan sangat berat, apalagi ketika cowok pujaannya itu menampilkan senyum khas limited edition kepadanya.


Sementara itu, Uwais yang dari tadi tau kalau Arrida sedang berjalan ke rumahnya, sama sekali tak melepas pandangannya kepada gadis kesayangannya itu. Dia menatapnya dengan sangat dalam. Binar kebahagiaan terpancar di wajahnya, betapa ia ingin sekali mengekspresikan bahwa dia sangat sangat merindukan gadis kesayangan yang ada dihadapannya, yang saat ini sedang mematung dengan jarak beberapa langkah darinya


Arrida tersenyum bahagia. Ia ingin sekali berlari menghambur dan memeluk Uwais. Namun seketika wajah bahagia itu surut. Ia teringat akan cintanya yang diabaikan, rasa malu, rasa kecewa dan rasa marah bercampur menjadi satu dengan kerinduan dan kebahagiaan.... ia pun membatalkan langkahnya mendekati Uwais, dan bahkan memutuskan untuk berbalik langkah menghindarinya.


"Ar"


Panggilan itu, panggilan yang dia rindukan selama hampir dua bulan ini, akhirnya sukses mengurungkan langkah untuk menghindarinya. Ia kembali berbalik menatap Uwais. Sekilas memandang wajah tampan itu, namun akhirnya dia menunduk. Seperti memikirkan cara bagaimana menghadapi Uwais setelah pengungkapan cintanya yang diabaikan. Ah, kenapa rasa percaya dirinya hilang seketika.


"Ar" sekali lagi Uwais memanggil dengan sangat lembut karena kali ini dia sudah berdiri di hadapan gadis kesayangannya itu.


Arrida tak menjawab, dia juga tidak menatap cowok yang dirindukannya itu, bahkan dia memalingkan wajahnya agar Uwais tidak bisa memandanginya. Saat ini perasaannya bercampur aduk, antara bahagia, rindu, malu, tidak percaya diri, kecewa dan marah. Entahlah mana yang akhirnya dia menangkan dalam pergulatan di hatinya.


Uwais malah tersenyum, ia jadi terpancing untuk menggoda gadis itu. Sudah lama juga tidak melakukannya. Ia ingin melihat ekspresi menggemaskan dari gadis kesayangannya itu.


"Hei!" tangan Uwais terulur menyentuh dagu Arrida agar gadis itu bisa melihat ke arahnya. Kini wajahnya memang menghadap ke Uwais, namun matanya malah terpejam. Jujur saja, Arrida belum ada keberanian untuk menatap Uwais dengan jarak yang begitu dekat.


Dan, getaran indah itu kembali terasa hangat. Panggilan dan sentuhan lembut itu mampu meruntuhkan rasa malu, kecewa dan marah yang ada di hati Arrida.


"Kalau gak mau buka mata, aku cium lho" bisik Uwais di telinga Arrida, ia sengaja menggoda gadisnya itu.


Dan akhirnya bisikan itu sukses membuat Arrida membuka matanya. Menatap Uwais dengan menyipitkan matanya dan sedikit mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Berhasil.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_2