Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)

Hatiku Padamu, Kak (Cinta Dalam Diam)
102. Arrida-ku


__ADS_3

"Hah, emang kita ulang tahun, kak?" tanya Arrida sambil tersenyum. Ia bercanda, sengaja menggoda Uwais.


"Oh, iya ya, kita gak lagi ulang tahun ya, kok aku lupa." Uwais sengaja mengiyakan candaan gadisnya itu.


Arrida terkekeh melihat ekspresi pura-pura lupanya Uwais.


"Emang kapan seh kita ulang tahun?" tanya Uwais sok bingung.


"Gimana kalo hari ini aja? Atau tiap hari? jadi aku bisa dapet hadiah terus dari kakak?"


"Boleh, setiap waktu juga boleh ... Selamat ulang waktu Arridaku, setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, setiap bulan dan setiap tahun."


"Waah ... lengkapnya, paket komplit ini mah...."kata Arrida sambil terkekeh.


"Kamu ingin hadiah apa?"


"Kakak."


"Ambillah, ini." kata Uwais sambil mendekatkan dirinya kepada Arrida.


"Ish," Arrida menjauhkan dirinya dengan mundur satu langkah.


"Kenapa? katanya pengen aku?" tanya Uwais menggoda Arrida, ia tahu kalau gadisnya itu sudah mulai salah tingkah.


"Yaaa ... maksudnya gak gini juga kali, Kak." Arrida mulai gerogi.


Uwais tertawa kecil.


"Ya udah duduk lagi, yuk!" perintah Uwais pada Arrida.


"Kakak juga, sini ikut duduk!"kata Arrida sambil menarik tangan Uwais.


"Selamat ulang tahun, kak Uwais ... semoga makin sholih dan barokah." kata Arrida tanpa melepaskan genggaman tangannya. Malah sekarang genggaman tangan itu ada di atas paha Arrida.


"Aamiin" Uwais tersenyum.


"Tiap tahun, kakak selalu ngasih aku hadiah, sementara aku gak pernah, maaf ya,"


"Gak papa Ar,"


"Kakak minta apa?"


"Kamu mau mengabulkan?"


"Hmm," Arrida mengangguk.


"Cukup kamu jaga hati kamu untuk aku, jaga diri kamu, jaga kesehatanmu, dan aku harap kamu jangan pernah ragukan aku."


Arrida mengangguk pelan.


"Janji ya, jangan pernah meragukan aku."


"Tergantung."


"Kenapa?"


"Ya ... kita lihat aja kak ...."


Uwais terdiam. Kecewa. Namun ia tidak ingin memaksa gadis kesayangannya itu, dan ia lebih memilih berdamai dengan hatinya. Kini pandangannya lurus ke arah lain. Namun tangannya tak lepas dari genggaman tangan gadisnya itu.


"Kaaak ...." panggil Arrida lirih.


"Hmm?" Uwais menoleh.


Arrida mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah kotak yang telah dibungkus rapi dan cantik.


"Buat kakak ... Selamat ulang tahun ya, Kak"


Uwais tersenyum. Ia menerima kotak itu, kemudian tangannya terulur mengusap lembut pucuk kepala Arrida.


"Makasih ya, Arrida-ku."


"Sama-sama kak, eh, tunggu, tadi kata kakak apa?"


"Yang mana?"


"Kakak manggil aku apa?"


"Arrida-ku, kenapa? Gak suka?"


"Suka kak." kata Arrida cepat. Uwais tersenyum.


"Aku buka ya? tanya Uwais meminta ijin.


"Iya!"

__ADS_1


"Ini bagus banget, Ar! Makasih, ya," kata Uwais setelah membuka bungkus kadonya.


"Sini biar aku pakaikan!" Arrida memasangkan sebuah jam tangan pria yang trendy, tampak gentle dan elegan di pergelangan tangan Uwais.


"Ini pakai uangku lho kak, hasil kerja di resto, kakak suka?"


"Apapun dari kamu, aku suka, apalagi hasil dari usahamu,"


"Dipakai ya kak, aku sengaja udah nabung buat beliin kakak ini."


"Iya Ar.... " ujar Uwais lembut.


"Kak ... Kakak tunggu disini ya,"


"Mau apa?"


"Aku mau ke toilet dulu."


"Aku anterin ya."


"Haish gak usah kak, itu kan di dekat sana," kata Arrida sambil menunjuk toilet yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat mereka.


"Ya udah, aku ke stand beli minuman lagi ya," kata Uwais menyadari jika minuman mereka sudah habis.


"Okke ... jus alpukat ya, Kak,"


"Hmm," Uwais mengangguk.


Mereka berpisah, Arrida menuju toilet, dan Uwais menuju stand-stand yang berada di sekitar gedung wisuda.


"Eh, apa-apaan ini!"Arrida terkejut saat dia baru keluar dari toilet. Tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik tangannya, lalu membawa masuk kembali ke toilet tersebut. Ia merapatkan tubuh Arrida ke dinding , tangannya menggepit dagu Arrida dengan ibu jari dan keempat jari lainnya dengan sangat kuat hingga rahang Arrida terasa sakit.


"Dugaan gue bener, Lo dan si penjual bakso itu bukan kakak adik!!" kata orang itu penuh amarah.


"Mas Bryan lepasin!"


Ternyata orang itu adalah Bryan, sebelumnya dia secara tidak langsung mendengar pembicaraan antara Arrida dan Uwais yang saling mengucapkan selamat ulang tahun.


"Gak akan!! Lo harus membayar sakit hati gue!"


"Gak usah aneh, Mas!"


"Kenapa lo bohongin gue?"


"Jadi lo nolak gue karna dia?"


"Iya,"


"Sial!!" umpatnya "Kenapa lagi-lagi dia!!!" Bryan merasa kalah hingga sangat membenci Uwais. Karena sebelumnya dia juga pernah ditolak Metha gara-gara gadis itu lebih memilih Uwais.


Arrida mendorong tubuh Bryan. Namun sayang tenaga Bryan sangat kuat hingga dia berada dalam kungkungan kedua tangan cowok itu.


"Lo tau kan Da, kalo gue sayang banget ma elo, bahkan gue rela berubah demi lo, gue udah gak pernah main-main dengan cewek manapun! Gue sayang lo, Da!"


"Tidak, Mas tidak sayang ma aku, orang yang sayang gak mungkin nyakitin kayak gini! "


"Aku sungguh-sungguh Da! Aku cemburu lihat kamu dengan dia!!"


"Minggir!!!" Arrida tidak ingin mendengar apapun dari Bryan. Akhirnya Arrida mendorong tubuh lelaki itu dengan sekuat tenaganya. Berhasil. Bryan terdorong beberapa langkah ke belakang, dan hal itu tidak disia-siakan oleh Arrida untuk segera pergi keluar dari toilet meninggalkan Bryan.


Namun sayang Bryan lebih cepat mengejar dan mencengkram lengan Arrida.


"Lepasin!!!" teriak Arrida lantang. Dan sebuah tamparan pun mendarat cantik di pipi Bryan dengan sangat kerasnya. Sehingga membuat Bryan melepaskan cengkraman tangannya, kemudian memegang pipinya yang panas karena tamparan tangan Arrida. Arrida pun segera berlari sekencang mungkin.


"Sial!! Lo pasti akan membalas tamparan ini!!!" kata Bryan sambil menatap tajam ke arah Arrida yang sedang berlari menuju tempat dimana dia dan Uwais saling memberi hadiah ulang tahun.


Buggh


Arrida menubrukkan dirinya pada Uwais lalu mendekapnya erat. Saat itu Uwais baru saja datang. Di masing-masing tangannya ada segelas plastik berisi jus.


"Ada apa Ar? Apa yang terjadi?" tanya Uwais heran dan penuh khawatir.


Arrida masih diam.


"Udah, tenanglah! Ada apa, hm?"


"Ayo, kita pergi dari sini, Kak!" ajak Arrida. Ia melepaskan dekapannya, lalu mengambil satu gelas jus dari tangan Uwais, kemudian menarik lengan Uwais.


"Hei, tunggu! Ada apa? dan mau kemana?" tanya Uwais masih khawatir dan penasaran.


"Nanti aku ceritain ya, Kak."


Uwais pun menurut.


Mereka kini berjalan kembali menuju keramaian stand-stand yang ada di sekitar gedung wisuda. Sejenak Uwais membiarkan gadisnya itu agar tenang, sesekali ia melirik wajah Arrida.

__ADS_1


"Jangan dilirik terus Kak, aku gak papa."


"Gak usah bohong, Ar ... Kamu lagi takut dan penuh marah."


"Bisa kebaca ya?" tanya Arrida sambil mengerjapkan matanya.


"Iya, jadi ceritalah!".


"Tadi Bryan nyamperin aku ke toilet, kak!"


"Apa?!! Kamu diapain ma dia?" Uwais terkejut hingga ia menghentikan langkahnya, dan menatap Arrida. Dipindainya gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Tadi pas aku keluar dari toilet, dia narik aku, trus aku dipepetkan ke tembok, daguku dicengkram. Tapi aku bisa melarikan diri dan berhasil memberikan tamparan di pipinya."


"Ya Allah ... apa lagi ini?"


"Dia marah, Kak ... dia tau kalo aku nolak dia karena kakak!"


Uwais menarik nafasnya dalam-dalam. Selama ini ia memang tahu tentang penolakan Arrida beberapa kali pada Bryan yang menyatakan cinta padanya. Namun, baru kali ini ia benar-benar merasa marah dan khawatir.


"Maaf ... Maaf, aku belum bisa menjagamu dengan baik ... Maafin aku, Ar." ucap Uwais tulus. Matanya terlihat berkaca-kaca. Penuh emosi dan kekhawatiran.


"Hu-um... gak pa-pa kak" kata Arrida.


"Aku gak akan pernah bisa maafin diriku sendiri kalo sampai terjadi sesuatu sama kamu, baik hati kamu maupun raga kamu." tegasnya kemudian.


Arrida mengangguk. Ia sangat memahami betapa khawatirnya Uwais terhadapnya.


"Mana yang sakit, hm? Maaf, sekali lagi aku minta maaf, karena aku, kamu jadi sakit."


"Aku gak papa, kak" Arrida berusaha menenangkan hati Uwais.


"Dagu dan tangan kamu sakit ya?" tanya Uwais sambil tangannya terulur menggepit pelan dagu Arrida.


"Udah enggak kak" ucapnya pelan.


"Dimana Bryan sekarang?"


"Aku gak tau dimana dia sekarang, udah kak ... Tenang ya... Gak usah dicari!"


🌼


Kini, Arrida dan Uwais sudah bergabung dengan Andika dan orang tuanya, begitupun Arman, Fika, Lani dan Kirno. Mereka sedang menikmati sesi foto bersama.


Tak lama kemudian, mereka pun kembali ke resto. Selepas Maghrib, Uwais sengaja mengadakan acara sederhana sebagai rasa syukur atas keberhasilan Andika yang sudah wisuda dan merayakan ulang tahun dirinya serta Arrida. Acara yang diadakan hanya doa kemudian makan-makan. Tidak lebih. Selanjutnya hanya ada obrolan ringan dan santai, sambil menikmati hidangan yang memang sudah dipesan oleh Uwais beberapa hari sebelumnya spesial untuk hari ini. Saat ini, orang tua Kirno dan Arman pun turut hadir.


"Ar, boleh minta sesuatu ga?" tanya Uwais sambil mendekati tempat duduk Arrida.


"Ada apa, kak?" tanya Arrida.


"Aku pengen sholat Isya sama kamu, mau kah?"


Arrida mengangguk cepat. Sebelumnya ia melihat jam di dinding. Setengah jam lagi jam malamnya selesai dan pintu asrama akan ditutup.


Akhirnya mereka pun sholat Isya berjamaah.


Uwais tersenyum saat menoleh ke belakang. Ia memperhatikan wajah cantik gadis kesayangannya yang terlihat begitu anggun dan cantik jika mengenakan mukena.


"Selamat ulang tahun Arrida-ku," kata Uwais


"Selamat ulang tahun, kak Uwais-ku" kata Arrida sambil tersenyum. Uwais pun membalasnya dengan senyuman limited edition miliknya.


"Di ulang tahun ini kita berdoa yuk, spesial buat kita, abis sholat kan termasuk waktu yang mustajab." ajak Uwais.


Arrida mengangguk. Kemudian kedua tangannya terangkat. Matanya terpejam.


"Ya Allah, semoga hidup kami semakin baik lahir bathinnya ... barokahkanlah dan bahagiakanlah kami, serta ridhoi cinta kami selamanya." ucap Arrida sengaja dikeraskan suaranya.


Kemudian ia membuka matanya.


...🌸🌸🌸🌸🌸...


...Makasih kakak readers...


...Makasih udah setia mampir n baca kisah Arrida dan Uwais sampai sejauh ini...


...Makasih atas dukungannya, like, favorit n kommentnya...


...Sehat selalu ya kakak readers...


...Hatiku Padamu Kak readers pake banget......


...Semoga kak readers tetap suka dan terhibur yaaa...


...πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ‘ŒπŸ»πŸ˜πŸ˜πŸ˜...

__ADS_1


__ADS_2